“Jagong Kamulyan” Duduk Bersama Lepas Baju Kultur, Instansi, Agama Dan Ras Untuk Bahas Tentang Permasalahan Terkini

Jpeg

Peserta Jagong Kamulyan Bermacam Latar Belakang Membuat Perbedaan Terasa Indah

Kudus, isknews.com – Adanya sekat-sekat kultur, instansi, agama dan ras membuat kita bukan kudus lagi. Kudus merupakan kota yang dibangun atas dasar pluralisme. Maka dari itu, lahirlah jagong kamulyan yang mana akan melepas semua ego religi & etnis untuk jagong bareng bahas Kudus. Acara Jagong Kamulyan yang akan digelar rutin setiap 36 hari sekali ini merupakan lanjutan dari pada peringatan satu abad Qudsiyyah yang dulu bertemakan “Pesan Damai dari Menara Kudus”.

Adapun Jagong Kamulyan yang kemarin malam, Sabtu (27/8/2016) digelar di Gedung Menara (ex-Manggala) ini mengundang tokoh-tokoh dari semua agama, semua etnis di Kudus yang membedah soal kemerdekaan, dengan tema “merdeka=berbuat”. Adapun rangkaian acaranya di mulai dari jam 19,30 diisi musik jagong kamulyan (MJK), Menyanyikan lagu Indonesia, Jejagongan dan penutup di jam 23.00 WIB.

Baca Juga :  Kodim 0718 Pati gelar sosialisasi narkoba dan HIV

Acara Jagong kamulyan memperbincangkan kemerdekaan dari waktu ke waktu ini semakin bias maknanya. Intinya, Jagong Kamulyan dari dulunya dilahirkan dari acara satu abad Qudsiyyah, kini menjadi perkumpulan atau grup jejagongan, tentang kondisi Kudus.

Jati Sholihah Kesbangpol Kudus saat berbicara di forum ini mengatakan “Marilah kita bergandengan tangan, belajar mengesampingkan perbedaan dan duduk bersama dalam sebuah jagong kamulyan. Tantangan dan hambatan akan selalu ada, namun semua itu tidak begitu berarti manakala kita bersatu padu menyatukan potensi dan energi demi lahirnya Indonesia baru yang lebih baik, saya yang kesehariannya bergelut dengan birokasi ini sangat berterimakasih dengan adanya acara ini, sebab dengan jejagongan ini saya bisa mengetahui keluh kesah sekaligus curhatan, bahkan tak sedikit ada banyolan maupun sentilan lucu yang di lontarkan oleh peserta ini, bisa dikata membuat saya fresh dengan kegalauan.”Tandasnya.

Baca Juga :  Jawaban Bupati Pati, terkait pendirian toko modern

Jati menambahkan “Marilah kita memandang semua kejadian dengan nama Tuhan YME, belajar memandang manusia tanpa batas SARA, melihat alam semesta adalah karunia untuk seluruh generasi yang wajib di lestarikan hingga kapanpun. Semua tidak akan mudah, tapi demi Indonesia lebih baik Impossible is just a word. Karena Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami,”Pungkasnya

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?