Jembatan Tambak Lulang Ploso, Saksi Politik Etis Era Kolonial

oleh
Jembatan Tambak Lulang Ploso, Saksi Politik Etis Era Kolonial
Foto: Jembatan Tambak Lulang yang terletak di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sabtu (08-09-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Jembatan selebar satu 1,5 meter yang terletak di Desa Ploso, Kecamatan Jati ini merupakan salah satu jembatan tertua di Kabupaten Kudus. Dibangun pada era Kolonial Belanda, jembatan yang membentang di atas Bendungan Ploso, yang dikenal dengan nama Jembatan Tambak Lulang tersebut masih berdiri kokoh hingga kini.

Empat pilar besar yang menjadi tulang punggung beton bendungan sekaligus penyangga jembatan itu, terlihat masih kokoh berdiri. Meskipun, arus lalu lintas masyarakat sudah dialihkan ke jembatan baru disebelah utaranya. Namun, sampai saat ini masih ada sejumlah warga yang menggunakan jembatan tersebut untuk berlalu lalang.

Menurut catatan, Bendungan Tambak Lulang dibangun pada tahun 1919 M oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada masanya, bendungan tersebut dikenal dengan nama Stuw Ploso atau Pintu Air Ploso. Adapun tujuan dari pembangunan Bendungan Ploso adalah untuk memperbaiki sistem irigasi sawah masyarakat yang menjadi bagian dari Politik Etis.

TRENDING :  HUT RI Jadi Ajang Kenalkan Dolanan Tradisional

Sepenggal ingatan, Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggungjawab moral bagi kesejahteraan masyarakat pribumi. Dimana pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Jembatan Tambak Lulang Ploso, Saksi Politik Etis Era Kolonial
Foto: Jembatan Tambak Lulang yang terletak di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sabtu (08-09-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

“Tujuan awalnya memang ditujukan untuk perbaikan sistem irigasi sawah masyarakat pribumi. Namun pada kenyataannya, banyak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya. Karena saluran irigasi tersebut hanya ditujukan kepada tanah-tanah persawahan milik perkebunan swasta Belanda,” katanya, Sekertaris Desa Ploso, Sutrisno.

Imbuhnya, “Pada masa itu, Jembatan Tambak Lulang masih berbentuk jembatan kayu dengan lebar sekitar satu meter. Lalu pada tahun 1966 Masehi jembatan tersebut mengalami perbaikan dengan dilakukannya pengecoran,”

TRENDING :  Sholawat dan Do'a Bersama Para Habib Awali Pembukaan Festival Tarbiyah 2017

Menurut Sutrisno, pada zaman Kasunanan Kudus, masyarakat sekitar jembatan tersebut sebagian besar bekerja sebagai jagal ternak. Akibatnya, banyak lulang atau kulit hewan yang tergeletak disepanjang tepi Kali Gelis.

“Dari kisah itu, seorang tokoh agama memberikan nama daerah tersebut dengan sebutan Tambak Lulang. Nama itulah yang kemudian digunakan sebagai nama Jembatan dan Bendungan peninggalan Kolonial Belanda tersebut,” ujarnya.

Pasca Kemerdekaan Indonesia, Bendungan Tambak Lulang digunakan untuk mengatur sistem irigasi sawah masyarakat Desa Ploso, Pasuruhan Lor, Pasuruhan Kidul dan Jati Kulon. Hanya saja kondisinya saat ini cukup memprihatinkan.

TRENDING :  Mio VS CB 150 di Jalan Jaken - Jakenan

Kondisi air badan di aliran Kali Gelis tersebut kini hitam dan bau, karena dipenuhi tumpukan sampah yang di badan air Bendungan Ploso. Tak jarang, sampah-sampah tersebut menumpuk di pintu air Bendungan dan ikut masuk ke saluran air hingga terbawa ke sawah.

Apalagi saat musim kemarau datang, kondisi Bendungan nampak lebih memprihatinkan. Debit air di Bendungan yang mengering, menampakan tumpukan sampah yang berserakan di badan Bendungan dan sepanjang aliran Kali Gelis.

Melihat kondisi yang sedemikian rupa, sudah selayaknya masyarakat dapat tergugah hatinya untuk berhenti mebuang sampah ke sungai. Selain mengotori air sungai, tumpukan sampah tersebut juga berpotensi menjadi sarang penyakit dan menyebabkan banjir di musim penghujan. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :