Jenis-Jenis Budaya di Kabupaten Kudus

by
Bupati Kudus saat menghadiri sebuah budaya ISKNEWS.COM
Bupati Kudus saat menghadiri sebuah budaya

Kudus, ISKNEWS.COM – Budaya merupakan warisan yang menggabungkan antara sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Dalam perkembangannya, Budaya bisa menjadikan kerukunan antar masyarakat sekitar, terutama masyarakat di Kota Kudus.

Banyaknya Budaya di Kabupaten Kudus, bisa menjadikan destinasi wisata lokal tambahan bagi para pendatang dari luar daerah, untuk melihat lebih dalam tentang kearifan lokal yang ada di Kota yang terkenal dengan sebutan Kota Kretek tersebut.

Berikut jenis-jenis Budaya yang ada di Kabupaten Kudus :

  • Buka Luwur Sunan Kudus

Buka luwur merupakan upacara penggantian kain klambu penutup makam Sunan Kudus, yang berlangsung tiap tahun. Upacara buka luwur diawali dengan penglepasan luwur lama dan dilanjutkan dengan pemasangan luwur yang baru. Upacara ini dirangkai dengan pengajian umum dan tahlil bersama. Buka luwur Sunan Kudus dilaksanakan setiap tanggal 10 Syuro ( 10 Muharram ).

  • Buka Luwur Sunan Muria

Tradisi upacara Buka Luwur Makam Sunan Muria merupakan salah satu tradisi kebudayaan yang sampai saat ini masih tetap dijaga kelestariannya oleh masyarakat Kudus khususnya masyarakat daerah Gunung Muria, tepatnya di desa Colo dan sekitarnya. Dikatakan sebagai tradisi karena dilakukan secara tetap pada waktu tertentu, tidak berubah waktunya dan dilangsungkan secara turun-temurun. Kegiatan Budaya Buka Luwur Sunan Muria rutin dilaksanakan saat tanggal 16 Syuro.

TRENDING :  Minggu Besok Panwaslu Kirab Unjuk Kekuatan Di Wilayah Kudus

  • Tradisi Dandangan

Tradisi dandangan merupakan tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang. Tradisi ini diadakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, dengan memberi tempat untuk para pedagang mulai dari jalan Sunan Kudus sampai di area sekitar simpang 7.

  • Tradisi Kupatan

Dalam tradisi kupatan, akan ada gunung yang terbuat dari ketupat yang mana akhirnya akan menjadi direbutkan oleh masyarakat setempat. Ini adalah acara puncak dan meriah saat kupatan di kota Kudus. Tradisi ini rutin dilaksanakan 1 Minggu setelah Lebaran Idul Fitri.

  • Tradisi Rebo Wekasan

Masyarakat Jawa menganggap ada di suatu hari yang penuh dengan makna religi yaitu di bulan Safar. Di kota Kudus sendiri pempercayai bahwa Rabo Wekasan atau rabu terakhir pada bulan itu adalah hari yang tepat.

  • Tradisi Ampyang Maulid

Ini merupakan salah satu acara budaya tradisional yang dimaksutkan untuk memperingati hari besar kelahiran Nabi Muhamad SAW, yang jatuh pada tanggal 12 Robiul Awal. Tradisi ini biasanya ramai dilakukan di desa Loram Kulon, dengan mengadakan arak-arakan dengan membawa beberapa makanan dan jajan yang sebagai slametan dibentuk menjadi gunung besar serta di pinggul oleh beberapa orang.

TRENDING :  Desa Langse Wakili Kabupaten Pati Dengan Reaktor “Kapal Selam”

  • Tradisi Adat Bulusan

Tradisi Bulusan adalah tradisi budaya masyarakat Islam salah satunya di kota Kudus ini. Acara ini dilakukan hari ke tujuh setelah Lebaran (sama dengan kegiatan kupatan). Tradisi ini dilakukan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kec. Jekulo, Kab Kudus.

  • Tradisi Adat Rogomoyo 

Rogomoyo merupakan acara adat tradisi yaitu menggantikan kain luwur / makam mbah Rogo Moyo di dukuh Prokowinong, Desa Kaliwungu, Kudus. Tradisi adat ini rutin dilakukan setiap tahun tepatnya saat bulan Muharram atau Syura. Tradisi ini juga dimeriahkan dengan kirap budaya atau jalan arak-arakan dengan berkonsepkan budaya oleh warga setempat.

  • Tradisi Budaya Wiwit Kopi

Tradisi ini berada di desa Colo dan sudah berlangsung sangat lama dari nenek moyang. tradisi ini dilakukan sebagai tanda bahwa panan kopi desa colo telah dimulai. Sebagia ucapan syukur kepada Allah SWT, maka masyarakat setempat mengadakan acara slamatan di tengah-tengah lahan kebun kopi mereka.

TRENDING :  Masjid Kenepan Dengan Sejarah Pendidikan

  • Tradisi Sewu Kupat

Sewu Kupat merupakan tradisi masyarakat Desa Colo untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri. Pelaksanaan tradisi 1 minggu setelah hari raya idul fitri. Kegiatan ini diadakan atas dasar rasa syukur masyarakat Colo yang telah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

  • Tradisi Resik-Resik Sendang dan Nyiwer Desa

Prosesi ritual adat resik-resik sendang digelar warga Desa Wonosoco dengan mengarak hasil bumi keliling kampung menuju sendang. Tradisi ini dilakukan setahun sekali yakni satu bulan jelang Ramadan, digelar prosesi resik-resik sendang pada Sendang Dewot dan Sendang Gading, yang airnya tidak pernah habis. Warga menggantungkan air sendang untuk minum, masak dan mandi.

  • Tradisi Tebokan Jenang Kudus

Acara Tradisi kirap tebokan adalah salah satu bentuk pelestarian tradisi dan sejarah jenang di Kudus. Tradisi ini dilaksanakan untuk menyambut tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam. Dalam perayaannya, acara ini diikuti puluhan anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang membawa sesaji berupa makanan jenang, jajan pasar, dan hasil bumi yang diarak mengitari Desa Kaliputu.

KOMENTAR SEDULUR ISK :