Kebakaran Hutan Rahtawu Kobaran Api Sudah Memasuki Wilayah Jepara

oleh

Kudus, isknews.com – Kebakaran hutan di Puncak 28 sebelah utaranya Puncak Abiyoso Rahtawu Gebog Kudus, tepatnya di Puncak Natasangin kini arah kobaran api bergerak menuju wilayah Batealit Kecamatan Batealit Jepara.

Hal tersebut disampaikan oleh Budi Yuwono  relawan BPBD Kudus, yang barusaja turun dari kawasan sekitar lokasi terbakarnya Hutan tersebut.

Selanjutnya Budi Yuwono yang biasa dipanggil Mbah Bejo ini menyampaikan, penyebab kebakaran hutan di kawasan Pegunungan Rahtawu tersebut belum diketahui penyebabnya, namun diperkirakan akibat cuaca panas tinggi yang terjadi pada hari-hari sebelumnya. “Kecil kemungkinan kalau disebabkan ulah pendaki karena sumber api berada di lokasi yang dalam dan curam dengan tingkat kemiringan yang tinggi nyaris tegak lurus,” katanya, Minggu (24/9/17).

Menurutnya kebakaran hutan di petak 75 atau di wilayah pemangku Perhutani Bategede Nalumsari diperkirakan terjadi pukul 10.00 WIB Jumat kemarin, Kini wilayah kebakaran sudah memasuki bategede / batealit dan sebagian wilayah natas angin Desa Rahtawu mulai pukul 10.00 td pagi.

TRENDING :  Intensitas Hujan Tinggi, Tanggul di Saluran Pertanian Rawan Ambrol

Tingkat kemiringan yang tinggi sehingga mempersulit mencapai ke lokasi kebakaran di puncak dan lereng bukit yg curam serta alat dan tenaga pemadam tdk memungkinkan utk menjangkau krn sangat membahayakan.

“Tingkat kemiringan mencapai sekitar 80 derajat. Ini menjadi kendala bagi petugas, upaya yg bisa kami lakukan adalah memantau pergerakan api dan bila api sdh sampai di bawah serta memungkinkan secara aman akan dilakukan pemadaman dg melibatkan warga, relawan dan BPBD.,” ujarnya.

“Penyebab kebakaran belum diketahui, namun berdasarkan informasi dari Perum Perhutani, luas lahan yang terbakar mencapai satu hektare. Sebenarnya titik awal api berasal¬†dari kawasan Bategede, kemudian merembet ke wilayah Rahtawu.

TRENDING :  Siaga 24 Jam, 300 Relawan Siap Bantu BPBD Tangani Bencana Alam

Cuaca panas seperti sekarang, kata dia, memang rawan terjadi kebakaran, terlebih jika ada pendaki yang melakukan kegiatan bakar-bakar, tentu cukup rawan.

“Petugas dari BPBD, perangkat desa dan muspika kecamatan, sudah mendekati lokasi kebakaran, namun tidak bisa memadamkan api karena mendannya cukup ekstrem,” ujarnya.

Lokasi kebakaran, katanya, berada di puncak dan lereng bukit yang curam, sehingga alat pemadam tidak memungkinkan untuk menjangkau karena sangat membahayakan.

Untuk sementara, lanjut dia, petugas hanya bisa memantau pergerakan api, apakah bisa padam atau justru meluas.

Disampaikannya, petugas yang berada di lokasi dibagi di tiga titik. Yakni di puncak Natasangin, Blok Segrobok, dan Krombangan.

“Kendalanya proses lokalisir api masih menggunakan alat manual seperti sabit, kayu dan cangkul,” paparnya.

Pelokalisiran api dilakukan dengan menebang pohon yang berada di luar kobaran api, untuk mencegah meluasnya kebakaran.

TRENDING :  Antisipasi Banjir, Pemerintah Desa Sembaturagung Normalisasi Kali Mbatur

“Musim kemarau membuat pohon dan tumbuhan mudah terbakar. Jadi, upaya yang dilakukan memutus rambatan api dengan menebang pohon di luar kobaran api,” lanjutnya.

Kendala lain, tutur Mbah Bejo, akses menuju lokasi kebakaran sangat curam dan terjal.

Akibat kebakaran tersebut, sampai saat ini jalur pendakian ke Puncak Natasangin Gunung Muria ditutup sejak kemarin.

“Kemarin sudah sepakat semua untuk ditutup. Sementara para pendaki yang masih di atas langsung kita evakuasi,” tandasnya

Antisipasi yang dilakukan agar tidak sampai meluas ke lahan warga Desa Rahtawu, katanya, akan dilakukan upaya lokalisasi dengan membuat parit.

Ia mengatakan, petugas dari BPBD Kudus saat ini masih diterjunkan di lokasi untuk memantau kebakaran tersebut hinggai hari ini. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :