Keberadaan Media Sosial Mulai Lunturkan Tradisi Unjung

oleh
Keberadaan Media Sosial Mulai Lunturkan Tradisi Unjung
Foto: Istimewa

Kudus, ISKNEWS.COM – Tradisi unjung (kunjung -red) yakni tradisi datang bersilaturrahim ke rumah sanak saudara dan teman, kini perlahan mulai luntur dengan munculnya media sosial. Senasib dengan yang dialami kartu lebaran yang juga mulai terkikis dengan keberadaan gedget dan media sosial.

Kemajuan teknologi dengan munculnya berbagai aplikasi pesan dan media sosial seperti Whatsapp, BBM dan Facebook, memberi kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan komunikasi.

Media sosial, kini banyak dimanfaatkan sebagai media untuk silaturrahim dan mengirim ucapan lebaran. Karena lebih cepat, mudah dan praktis, membuat masyarakat banyak yang beralih mengirim ucapan lebaran melalui media sosial dibandingkan dengan melakukan unjung ke rumah sanak saudara.

TRENDING :  Pelajar ini Raih Medali Emas dan Perak di Ajang Sains Internasional di Korea Selatan

Pergeseran budaya ini, bahkan dibuat sebuah meme yang cukup menggelitik yakni ‘Tiwas tak sediani jajan akeh jebul jaluk ngapurane lewat HP kabeh’ yang berarti percuma disediakan jajan banyak, ternyata minta maafnya melalui HP (media sosial dan chat -red) semua.

Tidak dipungkiri, media sosial memang sengaja diciptakan untuk memudahkan komunikasi antar manusia di berbagai tempat. Namun, selayaknya keberadaan media sosial dan kemajuan teknologi ini dapat dimanfaatkan sebijaksana mungkin. Jangan sampai kemajuan teknologi ini menggerus budaya dan kearifan lokal seperti tradisi unjung.

Tradisi unjung merupakan akulturasi dari budaya jawa dan islam yang dikemas secara apik dan menarik. Dalam tradisi unjung seseorang akan melakukan ‘sungkem’ kepada orang yang lebih tua. Meminta maaf sembari sungkem, bukanlah simbol dari kerendahan derajat seseorang, namun justru hal ini menjadi simbol kesantunan prilaku masyarakat Jawa.

TRENDING :  TOP Berjaya, Mahmudun Peroleh Hadiah Mobil Nazar Heris Paryono

Selain itu, dalam tradisi unjung juga ada halalbihalal dan bagi-bagi ‘wisit’ atau berbagi uang kepada anak-anak yang berkunjung ke rumah saat lebaran. Bagi-bagi wisit inilah yang kemudian menjadi salah satu daya tarik bagi anak-anak kecil untuk bersilaturrahim ke sanak saudara.

Dalam tradisi unjung juga kerap dilakukan testi jajan lebaran, seperti “Mbak, coba icipi keciput gaweanku enak tah ora?” yang artinya Mbak, coba mencicipi keciput buatanku enak atau tidak? Dari testi jajan lebaran ini biasanya akan suasana halalbihalal akan mencair dan semakin meriah.

TRENDING :  KPU dan Panwaskab Ajak Peserta Pilkada Kampanye Damai

Suasana cair, ceria dan meriah yang tercipta dalam tradisi unjung sangat sayang untuk dilewatkan. Ucapan maaf atau selamat lebaran melalui media sosial tidak akan bisa menciptakan suasana silaturrahim yang begitu hidup seperti saat melakukan tradisi unjung.

Untuk itu, tradisi luhur seperti ini harus terus dilestarikan. Bolehlah, mengirim ucapan maaf dan selamat lebaran melalui media sosial, namun hal tersebut tetap harus ditindak lanjuti dengan melakukan unjung ke rumah sanak saudara dan teman. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :