Kehidupan Malam di Pelataran Pasar Bitingan

oleh
Foto: Suasana Pelataran Pasar Bitingan di malam hari. (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM

Kudus, ISKNEWS.COM – Geliat kehidupan malam di pelataran Pasar Bitingan telah nampak sejak pukul 22.00 WIB. Disaat sebagian orang tengah terlelap dalam tidurnya. Para pedagang itu lebih memilih terjaga. Bertahan melawan dinginnya angin malam yang menusuk tulang, hingga pagi menjelang.

Malam semakin larut, suasana di pelataran Pasar Bitingan kian semarak oleh puluhan truk dan pick up pedagang yang mulai berdatangan. Truk dan pick up tersebut, begitu penuh dengan muatan buah dan sayuran segar yang dibawa dari beberapa kota di sekitar Kudus, seperti Jepara, Pati, Demak, Blora, Semarang dan Grobogan. Kedatangan truk dan pick up tersebut disambut dengan bahagia oleh para kuli angkut.

Dengan gesit, mereka menurunkan satu persatu muatan truk dan memanggulnya menuju lokasi lapak. Di beberapa sudut pelataran Pasar, juga terlihat aktivitas pedagang yang tengah sibuk menakar dagangannya dalam kantong plastik berkapasitas 5 Kg.

Setelah terkumpul beberapa, kantong plastik yang berisi sayur tersebut dibariskan rapi di bagian depan lapak. Sembari melanjutkan menakar sayur, puluhan pembeli mulai berdatangan. Aksi tawar menawar antar penjual dan pembeli tidak dapat terelakkan. Suara hiruk pikuk yang tercipta, berhasil memecah keheningan malam.

TRENDING :  Tahun 2015 Banyak Penambahan RPPJ

Tanpa disadari, sang fajar telah tiba. Ratusan pembeli berbondong-bondong menyerbu Pasar Bitingan. Ruas-ruas jalan di pelataran pasar begitu padat pembeli, sesekali menimbulkan kemacetan di beberapa titik. Sayup-sayup terdengar suara para pedagang yang menawarkan berbagai dagangannya.

“Ayo bu, seledrine limang ewu wae. Kol, wortel, onclang lan sawine murah,” sepenggal ucapan salah satu penjual sayur di pelataran Pasar Bitingan. Waktu terasa begitu cepat bergulir, tak terasa mentari pagi telah membumbung tinggi di ufuk timur.

Foto: Suasana Pelataran Pasar Bitingan di malam hari. (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM

Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, dari speaker yang terpasang di sudut-sudut pasar terdengar instruksi petugas Pasar untuk segera mengkukuti dagangannya. “Kepada seluruh penjual di pelataran Pasar Bitingan, kini waktu telah menunjukkan pukul 06.00. Para pedagang dihimbau untuk segera mengkukuti dagangannya, karena waktu berjualan kalian telah selesai,” ucap petugas pasar.

TRENDING :  Kolam Pemancingan di Sendang Jodo Terabaikan

Dengan adanya instruksi tersebut, beberapa pedagang mulai mengemasi dagangannya. Ada pula yang nampak masih sibuk melakukan transaksi jual beli. Para petugas kebersihan pasar mulai menyebar ke berbagai penjuru. Sapu-sapu itu diayunkan untuk membersihkan sayur dan sampah yang berceceran.

Pukul 08.00 WIB, para pedagang sayur tersebut telah pergi. Sudut-sudut Pasar yang awalnya kotor, kini telah bersih kembali dan siap menyambut aktivitas jual beli lagi.

Terbesit sebuah tanda tanya, sejak kapan pasar sayur ini mulai ada? Isknews.com ini pun menemui koordinator Pasar Bitingan. Namun, kami tidak mendapatkan gambaran yang jelas terkait asal usul pasar sayur tersebut.

Tak kehabisan akal, kami coba mengunjungi pemerintahan Desa Ploso untuk mengulik cerita tersebut. Sekretaris Desa Ploso, Sutrisno menjelaskan, jika Pasar Sayur atau masyarakat menyebutnya Pasar Pagi tersebut telah ada sejak tahun 1980. Di Pasar tersebut menjual berbagai macam sayur, buah dan ikan segar dari berbagai daerah di eks-karesidenan Pati.

TRENDING :  Tingkatkan Partisipasi Warga, Pemkab Kudus Gelar Pelayanan KB

Sutrisno menceritakan, bahwa dahulu Pasar Bitingan menempati area sekitar Tugu Identitas. “Waktu itu bahu jalan dari Tugu Identitas dibangun kios-kios pedagang. Di area Tugu Identitas juga dijadikan sebagai area berjualan sayur, buah dan lauk-pauk. Saat itu, namanya Pasar Anyar. Karena jumlah penjual yang terus membeludak, lalu Pasar tersebut dipindahkan ke barat,” jelas Sutrisno.

Ia juga menjelaskan, jika waktu itu sebelah barat Pasar Bitingan merupakan Stadion Kudus, sebelum akhirnya dipindahkan ke Wergu Wetan. Di daerah tersebut dibangunlah sebuah Pasar lantai 1. Pasar tersebut diberi nama Pasar Bitingan.

“Nama Bitingan diambil lantaran pada waktu itu, di daerah tersebut banyak masyarakat yang membuat biting atau bambu yang dilancipi.” pungkas Sutrisno. (NNC/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :