Keluarga Segitiga Teater Kudus Pentaskan Drama Berbahasa Jawa Kudusan

Keluarga Segitiga Teater Kudus  Pentaskan Drama Berbahasa Jawa Kudusan
Kudus,isknews.com – Memasuki usia yang ke-9 tahun, Keluarga Segitiga Teater (Keset) Kudus, kembali akan pentaskan naskah berbahasa Jawa, pada Sabtu (23/04), di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Tak seperti pada pentas-pentas sebelumnya, kali ini naskah yang diangkat ke atas panggung adalah karya awak Keset sendiri.

A
Pentas ke-10 Kelauarga Segitiga Teater mengangkat lakon “Malam Jahanam” naskah karya Motinggo Bosje, di auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) 2013                                                                

Menurut ketua Keset, Zaki Yamani, naskah berjudul “Sebrang Mbalangan” yang ditulis dan disutradari oleh Buseng Edi Purnama ini,  mengambil tema tentang kehidupan sosial di kampung Mbalangan Kudus. Sebuah kampung yang berada di tepian sungai Gelis dan dianggap mewakili realitas kehidupan “uwong cilik”.

“Tak hanya itu, kampung ini juga seperti lokasi teropong untuk melihat salah satu titik awal peradaban kota Kudus. Karena dari situ terlihat jelas pasar mbalangan yang konon dibangun Sunan Kudus sebagai pusat ekonomi waktu itu, atau rumah kembar yang merupakan representasi awal berdirinya industri kretek di Kudus,” lanjut lelaki yang biasa dipanggil Paejan ini.

TRENDING :  Inilah Logo Resmi Hari Jadi Kudus ke 467 : Kudus Religius

Naskah itu sendiri bercerita tentang Supri (diperankan Jessy Segitiga), lelaki yang berprofesi sebagai kusir dokar dan berumah di kawasan yang disebut Mbalangan. Sebuah kawasan dimana orang-orang dengan berbagai profesi, berbeda tingkat pendidikan, dan perbedaan kondisi ekonomi, berkumpul dan berinteraksi. Membentuk sebuah kampung dengan segala kompleksitasnya. Toleransi, senasib-sepenanggungan, cinta yang rumit, intrik, cemburu buta, bahkan “saling tikam!”. Jalin-menjalin dan tumpang tindih.

Dan, Supri yang duda, mulai berumur, dan tengah memimpikan hidup mapan terbelit cinta dengan Jiyem (Dessy Fitriyani), janda beranak satu pemilik warung yang tinggal bersebelahan dengan Sarip (Samsuddin), mantan suaminya.

Supri yang idealis dan penuh memori kejayaan masa lalu itu di kampungnya berkawan dengan Mursid (Dito Mora), pemuda kelas teri yang tengah mempertahankan sepetak kios reparasi elektronik di pasar Sebrang Mbalangan yang terancam tergusur. Mereka, orang-orang kampung tersebut, harus berjibaku dengan Sarip yang oportunis dan gila pangkat, yang mengusulkan penggusuran hanya untuk mendapatkan keuntungannya sendiri.

TRENDING :  Fashion Show Oleh Mahasiswa ISI Surakarta

Tak hanya sebagai sandaran hidup, pasar Sebrang Mbalangan bagi warga sudah dianggap sebagai representasi  “awal peradaban” terbentuknya kota, termasuk saka guru ekonomi saat ini: pabrik kretek. Tak heran jika apapun mereka pertaruhkan untuk mempertahankannya. Termasuk nyawa!

Sementara itu, menurut Pimpinan Produksi, Nur Choiruddin, seperti pentas-pentas Keset sebelumnya, mereka masih setia dengan penggarapan teater dengan gaya realis.

“Dan ini merupakan kali kedua kami mementaskan naskah karya sendiri. Sebelumnya kami pernah mementaskan naskah Ledek Lastri (2015) karya Jessy Segitiga yang merupakan adaptasi dari cerpan Jumari HS dengan judul yang sama.”

TRENDING :  Tumpengan Mengawali Serangkaian Acara HUT Isknews.com Yang Ke - 3

Sebelumnya, Keset juga pernah berpentas dengan mengangkat naskah antara lain, Sugeh Mblegedu (2009), Wek-wek (2010), Tuan Kondektur (2011), Mengasah Pisau Cukur (2012), dan Kereta Kencana (2013).

Selain nama-nama pemain di atas, pentas ini juga didukung oleh sejumlah aktor dan aktris seperti Pipiek Isfianti, M Hanip, Nurus Valiant, D. Kasmin, Danang Gema, Sugiyanto Gix, Diyan Sofiyana, dan Kadal Al-Habib.

“Dan untuk mengantisipasi terbatasnya kapasitas gedung pertunjukan, “Rencanya pentas berdurasi hampir dua jam ini akan dilaksanakan dua kali, yakni pukul 15.30 dan 19.00 pada hari yang sama,” tandas pimpro. (Mr)

 

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post