Kenali Gejala Penyakit Hemofilia Sejak Dini

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekomono Hadi menyelenggarakan Acara temu ilmiah dengan tema (Round Table Discussion “Pengelolaan Hemofilia di Rumah Sakit”) yang berlangsung di ruang Komite Medis RSUD dr. Loekmonohadi, Selasa (13/11/2018).

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama dengan Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia Cabang Jawa Tengah.

Perwakilan Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Direktur Rumah Sakit, Kepala Puskesmas , Perwakilan BPJS Kesehatan dan anggota Paguyuban Hemofilia Plat K turut hadir dalam acara tersebut.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Loekmonohadi dr. Budi Susanto, Sp. KFR membuka acara tersebut dan dilanjutkan dengan paparan materi dari dr. Susilo Adi Nugroho, Sp. PA dan dr. Amrita Najib, Sp. PD seputar Hemofilia pada anak dan dewasa.

TRENDING :  212.279 Anak dan Remaja Kudus Jadi Sasaran Imunisasi MR

Sebagai narasumber dari HMHI Cabang Jawa Tengah yaitu Dr. Eveline Pauline Mauser dan Piet de Kleijn dari Netherland menyampaikan paparan seputar serba serbi hemofilia pada anak dan dewasa, cara penanganan, pengobatan sampai terapi pasca pengobatan.

Hemofilia adalah suatu  penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh mengalami luka.

TRENDING :  Dengarkan Suara Hati Anak, Awal Bantu Mereka Tumbuh Sehat Dan Aman Dari Narkoba

Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar platelet (sel darah) sehingga dapat membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut mengakibatkan perdarahan terjadi secara berkepanjangan.

Hemofilia merupakan penyakit bawaan yang umumnya dialami pria. Penyakit ini dapat diturunkan karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA (kromosom) sehingga membuat proses dalam tubuh tidak berjalan dengan normal. Mutasi gen ini dapat berasal dari ayah, ibu, atau kedua orang tua. Terdapat banyak jenis hemofilia, namun jenis yang paling banyak terjadi adalah hemofilia A dan B. Tingkat keparahan yang dialami penderita hemofilia tergantung dari jumlah faktor pembekuan dalam darah. Semakin sedikit jumlah faktor pembekuan darah, semakin parah hemofilia yang diderita.

TRENDING :  Puskesmas Harus Bisa Menjadi Pusat Layanan Kesehatan Mandiri

Meski tidak ada obat yang dapat menyembuhkan hemofilia, penderitanya dapat hidup dengan normal selama penanganan gejala dilakukan dan menghindarkan diri dari semua kondisi yang memicu perdarahan. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :