Ketua Yayasan Kartini Indonesia : Tidak Banyak yang Mengerti Kartini

oleh

Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Sampai saat ini peringatan hari Kartini belum dimaknai secara tepat dan benar. Sehingga anak anak kita hanya mengerti RA Kartini adalah pahlawan emansipasi yang lahir di Jepara dan diperingati dengan mengenakan kebaya setiap tanggal 21 April. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Kartini Indonesia,  Hadi Priyanto dalam diskusi Mengenal Kartini yang diselenggarakab oleh Sanggar Belajar Gardu Baca Banjaragung Bangsri. Acara ini dikuti oleh kalangan guru, pelajar, mahasiswa, aktivis perempuan serta para relawan rumah baca di Pakisaji, Kembang dan Bangsri.

Padahal menurut Hadi Priyanto, banyak hal yang telah dilakukan oleh Kartini. Namun cita cita, gagasan dan apa yang telah dilakukan oleh Kartini untuk bangsanya justru dipersempit dengan hanya memaknainya sebagai pahlawan emansipasi.

TRENDING :  Jalan Nasional di Jepara Mendesak Untuk Dilebarkan

Padahal Kartini juga berperan besar dalam membangkitkan spirit nasionalisme ditengah tengah pemuda pergerakan, utamanya para mahasiswa Stovia di Jakarta. “Karena sentralnya posisi Kartini, mereka memanggilnya sebagai ayunda,” ujar Hadi Priyanto.

Bahkan pada tahun 1903, Kartini bersama para pemuda terpelajar ini telah membentuk Jong Java. Organisasi ini menurut Kartini bertujuan untuk menggalang persatuan. “Padahal kalau kita belajar dari buku sejarah, pada tahun 1915 baru berdiri organisasi Tri Koro Dharmo yang kemudian pada tahun 1923 berubah menjadi Jong Java,” ungkap Hadi Priyanto.

TRENDING :  Hingga 2 Oktober, Disdukcapil Jepara Punya "Hutang" Cetak 56.441 KTP

Bahkan karena nilai-nilai nasionalisme yang demikian kuat yang ada dalam gagasan dan pemikiran RA Kartini,  maka pada tahun 1912, dijadikan pedoman bagi organisasi para mahasiswa  Indonesia yang ada di Belanda.

Pikiran Kartini tentang kebhinekaan juga tidak banyak diketahui orang. “Beliau memiliki toleransi terhadap pemeluk agama lain. Juga suku bangsa lain. Bahkan bea siswa yang diperuntukkan bagi Kartini dan Rukmini akhirnya diserahkan kepada Agus Salim yang berasal dari Sumatera.

TRENDING :  Jelang Khoul Sunan Ngerang

Peran Kartini dalam pengembangan seni ukir, pendidikan, perlawanan terhadap ketidak adilan, pembangunan budi pekerti pada akhirnya menurut Hadi dipersempit dengan hanya memaknai pada kulit luarnya saja.

Mestinya, setiap kali kita memperingati kelahiran RA Kartini kita harus menggali pokok pikiran dan gagasannya yang masih relevan dalam pembangunan bangsa.

Harapan Hadi,  pemerintah kabupaten, utamanya Dinas Pemuda dan Olah Raga melihat persoalan ini secara serius.
Pada ksempatan tersebut Hadi juga menyerahkan sejumlah buku dari yayasan kartini indonrsia kepada para peserta. (ZA)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*