Kiat Petani Setrokalangan Tanam Kangkung Di Lahan Kering

Kiat Petani Setrokalangan Tanam Kangkung Di Lahan Kering

KUDUS, isknews.com – Di tengah kekeringan yang hinga kini masih berlangsung, sehingga banyak lahan sawah yang dibiarkan tidak terurus, terutama di desa-desa yang lahan sawahnya tadah hujan, ternyata ada petani yang masih bisa memanfaat lahan yang dalam kondisi kering tersebut. Hal itu seperti yang dilakukan oleh sejumlah petani, di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, yang menanami lahan itu dengan tanaman kangkung.
Pantauan isknews.com, di lokasi , Jumat (30/10), lahan yang dijadikan usaha budi daya kangkung, berada di sisi jalan menuju Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan. Kangkung yang ditanam adalah jenis kangkung darat (Ipomoea reptana). Luas lahan yang ditanami ada beberapa petak, yang statusnya menyewa dari pemiliknya, dengan ukuran per 30m2 atau 3m x 10m. Meskipun jenisnya kangkung darat, namun tanama n itu tetap membutuhkan air. Cara mendapatkan air, adalah dengan menggali sumur di lahan tersebut, kemudian disedot dengan menggunakan mesin diesel
Menurut seorang petani , yang dijumpai saat menyirami tanaman kangkungnya, dari usaha menanam kangkung itu, keuntungan yang diperoleh tidak seberapa besar, namun cukup untuk tambal sulam kebutuhan dapur, sambil menunggu datangnya musim hujan. Petani yang biasa dipanggil Pak No itu, menerangkan, dengan luas lahan 30 m2, selama 3 bulan , dengan panen 2 kali per bulan, rata-rata produksi 200 ikat setiap kali panen, sehingga produksi total selama 3 bulan sebanyak 1.200 ikat.
Sementara beaya produksi yang harus dikeluarkan, terdiri atas sewa lahan 3m x 10m), Rp 100.000, pembelian bibit sebanyak 50 ikat, @ Rp 300, = Rp 15.000, pembelian pupuk, terdiri atas TSP 2 Kilogram, @ Rp 1800 = Rp 3.600, Urea 5 kilogram, 2 Rp 1500 + Rp 7.500, Pembelian pestisida pembasmi ulat Rp 15.000, pengadaan cangkul Rp 100.000. Pengeluaran untuk upah tenaga kerja yang mengolah lahan sebelum ditanam, Rp 50.000, tanam bibit 20.000, panen 6 kali 2 Rp 30.000, transportasi Rp 50.000, sehingga total beaya produksi Rp 321.000. Mesin diesel miliknya sendiri, hanya membeli BBM Rp 10.000.
Dengan harga jual kangkung Rp 700 per ikat, dikalikan 1.200 ikat, maka hasil penjualan total sebanyak Rp 840.000. sehingga keuntungan setelah dikurangi beaya produksi Rp 518.900, untuk lahan seluas 3m x10m. “Kalau sedang musim kemarau, karena kangkung sulit didapat, harga bakul Rp 800 per ikat. Ada , yang harganya murah, kangkung air, harganya Rp 500 per ikat,” tutur Pak No. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Kepala Desa Ronggo Uji Coba Bibit MSP I Di Daerahnya

Share This Post