Kirab Sewu Kupat Colo, Bupati : Teladani Semangat Dan Kepribadian Para Wali

KUDUS, isknews.com-Ribuan orang tumplek blek di Taman Ria Colo, Dawe, Kudus untuk menyaksikan dan berebut ketupat pada tradisi Parade Sewu Kupat yang digelar Rabu (13/7). Acara ini digelar tepat tujuh hari setelah Idul Fitri setiap tahunnya. Sejak pagi, mereka sudah memadati tempat acara, bahkan banyak diantaranya yang berasal dari luar Kudus.

Acara ini sudah dimulai satu hari sebelumnya. Yaitu dengan manaqiban di makam Sunan Muria yang digelar selepas Maghrib. Esok paginya gunungan ketupat yang jumlahnya lebih dari 9 itu, kembali didoakan dan diarak dari makam Sunan Muria di puncak Gunung ke Taman Ria Colo.

Bupati Kudus H. Musthofa dalam sambutannya mengatakan bahwa tradisi ini perlu untuk terus dilestarikan. Meskipun ketika nantinya dirinya tidak lagi memimpin Kudus, penerusnya diminta bisa ‘nguri-uri’ tradisi yang untuk menghormati Sunan Muria ini.

Baca Juga :  Ratusan Pebalap BMX Ramaikan Kejuaraan BMX MTB 4X Open Jepara

”Saya berharap, siapapun bupatinya nanti, tradisi ini untuk tetap diselenggarakan,” pesan Bupati.

Pada perayaan Parade Sewu Kupat kesepuluh ini, dirinya ingin masyarakat Kudus meneladani semangat dan performance/kepribadian Sunan Muria dan para wali. Karena perjuangan beliau yang luar biasa pada masanya. Sehingga sangat disegani bukan hanya masyarakat lokal, namun hingga luar daerah.

Lebih lanjut bupati yang telah delapan tahun memimpin Kudus ini berpesan agar masyarakat menjaga tradisi ini dengan tujuan untuk mencari berkah. Selain itu harus bisa memahami makna tradisi ini dengan baik. Termasuk di dalamnya adalah menghormati dengan sesama meski memliki perbedaan keyakinan dan budaya.

Baca Juga :  Sukun Spirit Of Sport Dukung Garuda Jepara Cup

”Dengan bisa menghargai perbedaan yang ada ini, merupakan modal yang kuat untuk bersama-sama membangun Kudus,” tambahnya.

Tentu yang tidak boleh untuk dilupakan adalah rida Allah SWT. Berbagai upaya yang baik disertai dengan doa, dirinya yakin masyarakat Kudus bisa mewujudkan impannya untuk kehidupan yang lebih baik dan Kudus yang semakin maju dan sejahtera.

”Ketupat ini kalau dibelah warnanya putih bersih. Menandakan jiwa yang kembali bersih selepas puasa untuk membangun kehidupan yang semakin baik.” Imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Kudus: Pelaku UMKM Harus Melek Lembaga Keuangan, Uang Jangan Hanya Disimpan di Bawah Bantal

Di akhir acara, bupati dan forkoponda memotong ketupat, lepet, dan berbagai hasil bumi untuk diserahkan kepada masyarakat yang hadir. Selanjutnya gunungan ketupat langsung diserbu oleh ribuan orang dari berbagai kalangan dan usia. Hal ini merupakan bukti adanya magnet yang begitu kuat terasa sebagai salah satu potensi budaya dan wisata di Kudus.(rg)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?