Kisah Cinta Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku

oleh
Foto: Makam Dewi Nawangskh dan Raden Bagus Rinangku di Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jumat (06-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Salah satu kisah percintaan yang begitu legendaris, terlahir di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kisah tersebut berasal dari perjalanan cinta Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Menurut kisah leluhur, Dewi Nawangsih merupakan putri Sunan Muria yang cantik jelita. Cantiknya paras Dewi Nawangsih banyak meluluhkan hati lelaki, salah satunya adalah murid Sunan Muria yang bernama Raden Bagus Rinangku.

Raden Bagus merupakan anak dari Sultan Agung dari Kerajaan Mataram, yang menimba ilmu kepada Sunan Muria. Ia juga menjadi salah satu murid Sunan Muria yang tergolong pandai. Kepintaran dan wajah Raden Bagus yang rupawan, ternyata mampu menimbulkan benih-benih asmara dihati Dewi Nawangsih.

Perasaan cinta yang tumbuh di hati kedua anak muda ini ternyata berjalan mulus. Dewi Nawangsih ternyata, telah dijodohkan dengan salah satu murid Sunan Muria yang bernama Muthomakin. Akan tetapi Dewi Nawangsih menolak hal tersebut.

Suatu ketika, Sunan Muria memberi tugas kepada Raden Bagus untuk pergi ke suatu sawah yang ada di daerah Masin. Karena rasa tawaduknya kepada Sang Sunan, bergegaslah ia menuju persawahan tersebut. Di sana, ia melihat sawah tersebut dipenuhi oleh padi yang telah menguning dan merunduk.

TRENDING :  Dulu, Air Sumur Masjid Nganguk Wali Digunakan Sebagai Media Sumpah

Dalam menjalankan perintah dari Sang Sunan, Raden Bagus melihat beberapa burung yang tengah memakan padi-padi tersebut. Melihat hal tersebut, Raden Bagus hanya membiarkannya saja. Tak disangka, burung-burung tersebut mampu menghabiskan seluruh padi yang ada di sawah hingga menyisakan merangnya saja.

“Hal tersebut nampaknya diketahui oleh Sunan Muria dan berhasil membuatnya marah atas keteledoran Raden Bagus. Kemarahan tersebut diluapkannya kepada Raden Bagus,” kata Pengurus Makam Keramat Masin, Suhardi (65), Kamis (05-04-2018).

Kemudian, Raden Bagus kembali ke sawah tersebut. Di kembalikannya bulir-bulir padi yang telah dimakan burung tersebut, kembali seperti sedia kala. Setelah itu, Raden Bagus datang menemui Dewi Nawangsih untuk mengatakan bahwa sebenarnya padi-padi tersebut masih utuh tidak dimakan burung.

Karena rasa cinta Dewi Nawangsih yang begitu besar kepada Raden Bagus, ia begitu saja mempercayai apa yang dikatakan oleh Raden Bagus. Kemudian disampaikannya ungkapan Raden Bagus tersebut kepada Sunan Muria.

TRENDING :  Pengusaha Gula Tumbu Tetap Bertahan Ditengah Serangan Kencur

“Ayah, Padi tersebut tidak dimakan burung. Kalau tidak pecaya, kita buktikan saja,” kata Suhardi menirukan perkataan Dewi Nawangsih kepada Sunan Muria.

Berangkatlah mereka berdua ke sawah tersebut. Sesampainya di sana, Sunan Muria melihat padi tersebut kembali utuh seperti semula. Melihat hal tersebut, Sang Sunan menanyakan kembali kepada Raden Bagus, Benarkah padi tersebut tidak dimakan burung?

Dengan segenap upaya, Raden Bagus meyakinkan Sunan Muria jika padi tersebut tidak dimakan oleh burung. Mendengar kebohongan yang dilakukan Raden Bagus, Sunan Muria merasa begitu kecewa.

“Sunan Muria merasa kecewa karena telah dibohongi oleh Raden Bagus. Di sisi lain, Raden Bagus dirasa telah lancang menunjukkan kehebatan ilmunya kepada Sunan Muria,” ungkapnya.

Setelah kembali ke Padepokan, kekecewaan Sunan Muria semakin memuncak. Dari puncak Gunung Muria, Sunan Muria melampiaskan kekecewaanya tersebut dengan melepaskan busur panahnya menuju Raden Bagus.

Di daerah Masin, Raden Bagus tertembak oleh busur panah Sunan Muria tepat di dadanya. Kabar meninggalnya Raden Bagus, ternyata didengar oleh Dewi Nawangsih dan menghantarkannya pada jasad Raden Bagus.

TRENDING :  Kecewa Karena Oleh Perangkat Dianggap Merebut Lahan, Dewan Kesenian Kudus Lepas Tangan Penyelenggaran Even Bulusan

Perasaan kecewa berat atas sikap Sang Ayah dan rasa sedihnya atas kepergian Sang Kekasih, menjadikan Dewi Nawangsih pun rela mati bersama Raden Bagus. Busur panah yang masih tertancap di dada Raden Bagus, membuat Dewi Nawangsih pun menimpangi busur panah itu dengan badannya. Lalu tertusuk, dan matilah dua sejoli itu oleh busur panah Sunan Muria.

Dalam acara pemakaman keduanya, Sultan Agung datang melihat jasad anaknya untuk terakhir kalinya. Dalam balutan rasa duka yang mendalam, Sultan Agung mengutaran sebuah sabda. “Besuk rejoning zaman, makam kedua anak ini dapat digunakan sebagai tempat berziarah,” ucap Suhardi menirukan perkataan Sultan Agung.

Mendengar ucapan tersebut, para tamu takziah tertegun diam hingga Sultan Agung melontarkan sabdanya. “Kenapa kalian diam seperti Jati” ucapnya. Dari kejadian itu, para tamu takziah seketika berubah menjadi pohon jati.

Sampai saat ini, pohon-pohon jati yang digadang sebagai jelmaan dari para tamu takziah masih hidup dan tumbuh lebat di area pemakaman Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinagku. (NNC/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :