Kisah Perjalanan Hafidzah Cilik dari Makassar Berlabuh di Madinatul Huffadz Kudus

oleh
Siti Alfina Damayanti (10 tahun) saat diapit kedua orang tuanya Munjari Adzkal Fikri, Hartini dan kakaknya yang juga santri di Ponpes Yanbu'ul Qur'an Menawan Kudus. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Menjadi seorang Hafidz Qur’an adalah sebuah prestasi yang tak hanya akan membuat bangga di dunia, namun juga di akhirat kelak. Kebanggaan tak biasa itu dikarenakan kebanggaan ini menyangkut sebuah keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Apalagi bagi seorang hafidz, dia akan mampu menjadikan kedua orangtuanya mendapat kemuliaan dan mahkota di Surga dari Allah kelak, tentu bisa disebut bahwa itulah sebuah bakti luar biasa anak kepada kedua orangtuanya.

Lebih baik dipaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka. Kalimat ini nampaknya pas untuk menggambarkan kisah perjalanan perempuan cilik penghafal Al-Qur’an dari Antang RT 9 RW 11 Manggala, Kota Makassar Sulawesi Selatan menuju Madinatul Huffadz Kudus.

Disebut Madinatul Huffadz, karena Kudus banyak berdiri Pesantren yang melahirkan Huffadz, terutama Ponpes Arwaniyyah asuhan mbah kyai Arwani yang sudah terkenal ke seantero Nusantara.

TRENDING :  Dalam Rangka Memperingati HUT KE 40 Madrasah NU Hasyim Asy'ari Kudus Adakan Sepeda Santai

Siti Alfina Damayanti (10 tahun) hafidzah kelahiran Makasar, 6 Agustus 2008 silam itu telah menghafalkan dan hatam 30 Juz Alqur’an beberapa waktu lalu. Ia bersama 30 hafidzah cilik di wisudha pada Haflatul Hidzaq yang diselenggarakan di Pondok Tahfidh Putri Anak-anak ( PTPA ) Yanaabii’ul Qur’an, Karangmalang kecamatan Gebog, Sabtu (18/12/2018).

Sang anak mulai menghafalkan sejak Agustus 2015, dan September 2018 telah hatam. Ayahanda Munjari Adzkal Fikri menceritakan perjalanan awal mula putrinya bisa masuk pesantren hingga hingga menyandang predikat hafidz qur’an.

Alfina kecil sebelum tertarik nyantri, waktu itu sering diajak sambang (menjenguk) kakaknya yang mondok Qur’an di Kudus. “Ia tertarik mondok semenjak saya ajak sambang terus mas, selain ke pondok kakaknya juga sesekali silaturrahim ke pondok putri di Kudus. Lalu, kami dari Makassar berangkat ke keluarga di Jogja, sekalian anak (Alfina) saya ajak ke Kudus untuk mendaftarkannya mondok,” ujarnya kepada isknews.com didampingi istrinya Hartini.

TRENDING :  Sejarah Sedulur Sikep di Desa Karangrowo

Alfina waktu itu langsung didaftarkan dan mengikuti tes masuk, “Alhamdulillah, Alfina ikut tes, lulus dan masuk karantina 1 bulan. Singkat cerita, setelah menjalani karantina, santriwati dipersilahkan pulang untuk kembali bersama keluarga masing-masing, dan kami kembali ke Makassar,” terangnya.

Hingga waktu jadwal kembali ke pondok, Alfina bersikukuh tidak ingin kembali ke PTPA Yanaabi’ul Qur’an Karang Malang Gebog Kudus. “Namun saya punya siasat lain,” kata ibunda Alfina.

TRENDING :  Innalillah, Jemaah Haji Asal Kudus Meninggal di Tanah Suci, Berikut Identitasnya

Trik untuk mengelabuhi sang anak akhirnya bisa, lantaran orang tua bilang jika mau diajak ke Ancol Jakarta, sang anak mau ikut. Padahal tujuan akhirnya adalah Madinatul Huffadz Kudus yang melewati rute pesawat Surabaya – Semarang lalu perjalanan darat menuju Kudus. “Dalam perjalanan, anehnya anak saya terlelap tidur pulas, sesekali bangun tidur namun tidur kembali,” ulasnya.

“Ntah apa yang terjadi, dalam perjalanan, anak kami tertidur pulas, hingga tiba di Kudus Ia berontak dan masih meminta untuk pulang ke Makassar. Namun dengan berkah do’a dari para kyai pondok pesantren Yanaabi’ul Qur’an, akhirnya anak saya bisa luluh, dan mau masuk pesantren, “Alhamdulillah saat ini saya bisa memetik hasilnya mas,” pungkasnya. (AJ/YM).

KOMENTAR SEDULUR ISK :