Kisah Unik Rusdi, Perantara Mbah Danyang Kandangmas

oleh
ISKNEWS.COM
Rusdi (65) Perantara Mbah Danyang Kandangmas, Jumat (07-09-2018) (Nila NIswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sebagian orang mungkin tidak asing dengan nama “Mbah Danyang”. Menurut masyarakat jawa Mbah Danyang merupakan sebutan yang diberikan masyarakat untuk arwah leluhur yang mendiami suatu daerah. Atau dengan kata lain Mbah Danyang merupakan arwah tokoh cikal bakal suatu daerah ataupun tokoh yang dituakan di suatu daerah.

Oleh masyarakat jawa, nama Mbah Danyang kerap disebut dalam kegiatan doa bersama, tasyakuran, selametan dan sejumlah acara ritual adat di masyarakat. Tujuannya tak lain, sebagai wujud penghormatan dan ungkapan rasa terimakasih atas jasa-jasa yang dilakukan Mbah Danyang untuk daerah tersebut di masa lampau.

Meskipun zaman telah berubah, akan tetapi hal itu tidak dapat melunturkan sepenuhnya kepercayaan masyarakat akan keberadaan Mbah Danyang. Di Kabupaten Kudus, tercatat masih ada beberapa Desa yang melestarikan tradisi penghormatan terhadap jasa Mbah Danyang, salah satunya adalah Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe.

Berbeda dengan tradisi penghormatan Mbah Danyang di desa-desa lain. Tradisi yang digelar di Desa Kandangmas dimulai dengan kegiatan bersih Desa. Kegiatan yang jatuh pada Senin Pon dan Selasa Wage di Bulan Apit (berdasarkan kalender jawa -Red) ini, menyajikan kesenian gending tayub yang menjadi pertunjukan kesukaan dari Mbah Danyang Kandangmas.

TRENDING :  Beginilah Asal Usul Desa Jetis Kapuan

“Sebelum pertunjukan tayub di mulai, biasanya ada warga desa kami yang mengalami kesurupan. Warga tersebut akan dirasuki arwah Mbah Danyang atau perantara Mbah Danyang, lalu warga tersebut akan diiring ke Balai Desa untuk nayub (menari tayub -Red),” jelas Kepala Desa Kandangmas, Sofwan.

Imbuhnya, “Sebelum nayub, biasanya perantara Mbah Danyang itu akan memberikan nasehat-nasehat bagi masyarakat, agar kehidupan yang dijalani kedepannya semakin baik. Setelah itu, barulah ia nayub hingga malam hari,”

Kepada isknews.com, Rusdi sudi mengurai kisah unik dan manarik yang dialaminya sebagai perantara Mbah Danyang Kandangmas. Kakek dengan dua cucu ini mengatakan ia tak pernah memiliki firasat akan dipilih sebagai perantara Mbah Danyang.

“Enam tahun yang lalu, perantara Mbah Danyang Kandangmas meninggal. Saat bulan apit tiba, masyarakat dan pemeritah desa dibuat bingung karena tidak mengetahui siapa peranatara Mbah Danyang berikutnya,” katanya.

Dijelaskannya, karena pemilihan perantara dilakukan oleh Mbah Danyang Kandangmas secara langsung dan tidak ada kriteria-kriteria khusus. Sehingga masyarakat dan pemerinatah desa setempat dibuat bingung oleh hal itu.

TRENDING :  Alasan, Mengapa Gang di Desa ini Diberi Nama Pewayangan

Menjelang tradisi bersih desa, tepatnya pada hari Jumat Kliwon, kediaman Rusdi didatangi oleh tiga orang besar dengan menggunakan beskap, jarik dan blangkon (jelmaan Mbah Danyang Kandangmas -Red). Diungkapkannya, keluarganya tidak mengetahui kedatangan tiga orang tersebut, hanya dia yang bisa melihatnya.

“Meskipun didatangi mereka, saya tidak juga paham jika saya ditunjuk sebagai penerus perantara Mbah Danyang. Karena sejujurnya, saya sebenarnya tidak begitu tertarik dengan kesenian tayub yang selalu digelar setahun sekali di desa saya,” ujarnya.

Pasri (50), istri Rusdi menungkapkan pada hari Senin Pon atau saat kegiatan bersih desa, suaminya berubah menjadi pemarah dan tidak bisa anteng di rumah seperti biasanya. Siangnya, saat tengah duduk di ruang tamu, Rusdi tiba-tiba jatuh dan hilang kesadaran (kesurupan). Tak lama kemudian, ia terbangun dan pergi menuju ke Balai Desa untuk memberikan nasehat dan nayub.

“Siang itu, saya melihat tiga orang besar yakni Mbah Suro, Mbah Suradi dan yang satu lagi saya lupa namanya, mereka adalah Danyang Kandangmas, datang ke rumah. Lalu saya hilang kesadaran, setelah saya tersadar tiba-tiba rumah saya sudah dipenuhi oleh puluhan orang. Dari mereka saya diberitahu jika saya adalah perantara Mbah Danyang selanjutnya,” paparnya.

TRENDING :  Asal Usul Desa Kramat Kudus

Pada hari itu, diterangkan Rusdi, istrinya sempat kaget dan cemas melihat saya yang memakan bunga Gading Kuning dan abu bakaran menyan. Setelah tersadar dan melihat suaminya baik-baik saja, kecemasan Pasri pun memudar. Beberapa tahun kemudian, Pasri sudah terbiasa dengan kebiasaan yang dilakukan suaminya tersebut.

“Jika hari-hari biasa, tidak ada yang berubah dari bapak (Rusdi). Hanya saja, saat bulan apit tiba saya sudah mulai paham dengan perubahan sikap yang dilakukannya. Kadang masih sering cemas, karena bapak dirasukinya sewaktu-waktu dan langsung jatuh. Saya takutnya, kalau bapak luka, tetapi alhamdulillah sampai saat ini aman-aman saja,” katanya.

Rusdi menegaskan “Di Kandangmas tradisi tersebut selalu ada setiap tahunnya. Jika tidak dilaksanakan maka akan ada marabahaya yang menimpa desa kami,” Percaya atau tidak, tradisi seperti ini masih ada dan lestari di masyarakat. Terlepas semuanya, sebagai masyarakat seharusnya bisa menyikapinya dengan bijak. Pasalnya, tradisi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. (NNC/YM).

KOMENTAR SEDULUR ISK :