Kitab Kuning Masa Kini

Kitab Kuning Masa Kini

كلا منا… اوتاوي كالام كيتا

لفظ… ايكو لفظ

مفيد… كاغ مايداهي

كا ستقيم… كايا اوليهي مايداهي لفظ استقيم

 

Suara tersebut bergema di langit-langit pesantren, atau madrasah, atau tempat lain yang digunakan untuk mendalami ilmu. Mengartikan kitab kuning yang dikaji, menggunakan aksara pegon (Jawa : ma’na gandul) bukan saja untuk mempermudah memahami, namun juga telah menjadi salah satu aset kekayaan khazanah intelektual umat Islam Indonesia. Kitab kuning, mencerminkan kelembutan Islam, karena di dalamnya terdapat akulturasi budaya. Kitab kuning juga merupakan tradisi klasik warisan Walisongo dan para ulama’ tanah air.

Akan tetapi, yang sekarang terjadi adalah mempelajari setumpuk kitab kuning tanpa bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang semakin mesra dengan teknologi. Saat ini, semakin sedikit pesantren yang masih memegang teguh tradisi ini. Sekarang para santri belajar di pesantren, berharap mendapat ijazah formal sekaligus pendidikan agama. Mereka lebih getol mengejar target untuk memenuhi standar kelulusan sekolah (formal) saat Ujian Nasional daripada mendalami kitab kuning di sekolah diniyah yang ijazahnya tak laku di perguruan tinggi atau untuk melamar kerja, tapi mampu menjadi aset diri. Kini, rata-rata pesantren menyelenggarakan dua model pendidikan, sekolah formal dan sekolah diniyah. Bahkan, ada pula madrasah yang memberi terjemahan kitab langsung berbahasa Indonesia. Atau jika tidak seperti itu, para pelajar di madrasah yang bermalas-malasan lebih memilih untuk tidur atau pura-pura mengartikan padahal tidak ada kitabnya.

BACA JUGA :  Trotoar Bersih Dan Rapi

Padahal, dengan ma’na gandul itu kita juga sekaligus memelihara budaya bahasa daerah. Eksistensi kitab kuning sepertinya sama sekali tak didukung oleh perkembangan zaman. Kitab kuning yang merupakan bagian dari buah asimilasi dan kreasi intelektual keislaman yang mengandung ciri khas corak pemikiran Islam Indonesia, bisa jadi akan luntur ditelan zaman jika keberadaannya tak lagi diperjuangkan.

Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk menghidupkan kembali eksistensi kitab kuning, salah satunya adalah Departemen Agama menyelenggarakan Musabaqoh Qiro’atul Kutub (MQK) yang dilaksanakan sejak tahun 2004 dan digelar setiap 2 tahun sekali. Diharapkan, dengan adanya MQK ini mampu mengembalikan gairah pembelajaran kitab kuning, juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Sembari Menunggu Buka Puasa, Remaja Ini Lebih Memilih Lakukan Kegiatan Bermanfa'at

 

memei

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post