Komunitas Peternak Semarak Kalkun Kudus, Dari Hobi Jadi Hoki

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Usaha dari hobi memang sangat menyenangkan dan bisa menguntungkan. Itulah yang dilakoni puluhan anggota komunitas Semarak Kalkun Kudus yang telah menekuni dan merintis sejak 2006 silam.

Sebut saja, Ahmad Suyatno warga gang 3 Undaan Tengah Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang mempunyai 40 pasang indukan ayam kalkun. puluhan ayam kalkun peliharaannya dari berbagai jenis, ada Kalkun Bronze, Black Spanish Turkey, Pendilled palm, Golden Palm dan lainnya.

Bedanya dengan ayam lain, diakuinya, kalkun memang rendah kolesterol dan penjualannya paling tinggi dibanding unggas lainnya. Salah satu peliharaannya, jenis ayam kalkun Meleagris gallopavo, yang ditemukan pertama kali di Amerika Serikat itu banyak dibudidayakan warga karena permintaan pasar tinggi untuk kebutuhan kuliner dan hiasan itu dijual dengan harga Rp500 ribu-Rp5 juta per pasang indukan dan pejantan.

TRENDING :  Potong Rantai Distribusi, TTI Jual Beras Lebih Murah

“Saya lebih memilih berternak ayam kalkun ketimbang ayam kampung karena lebih mudah perawatannya, terutama soal pakan,” tuturnya saat ditemui wartawan di rumahnya.

Apalagi, di samping kandang belakang rumahnya tumbuh tanaman bengok atau enceng gondok yang bisa dijadikan untuk makanannya selain dedak, pur konsentrat, sayuran, kangkung. “Jadi hal itu bisa menekan biaya pakan,” tambahnya.

Konsumen yang membeli, kata Syuatno, biasanya dari lokal Kudus dan luar Kudus, juga pernah ada yang hingga papua. Sebagian dari mereka adalah pemilik warung kuliner atau restoran.

Dalam 1 bulan, lanjut Suyatno, bisa menghasilkan 500 telur. Untuk resiko telur yang gagal menetas hanya 5%. Bicara omzet, pendapatannya bisa sampai 7 juta per-bulan bahkan bisa lebih.

“Supaya pasangan indukan ayam kalkun bisa terus bertelur, saya memberikan pakan perangsang ayam indukan dari olahan sejumlah bahan seperti jahe merah, kunyit, hingga telur bebek,” terang mantan sopir itu.

TRENDING :  Target Naik 4 Kali Dari Tahun Lalu, Pendapatan Retribusi Parkir Kabupaten Kudus 2016 Terealisasi Hanya 43,30 persen

Sementara peternak lain yang juga Ketua Semarak Kalkun Kudus, Didik Prabowo mengaku, bisa untung hingga Rp 8 juta. “Keuntungan tersebut belum dikurangi biaya operasional seperti pemeliharaan kandang,pakan dan lainnya,” katanya.

Untuk pakan, Ia harus memberikan dua kali per hari. Yakni berupa dedak, enceng gondok, konsentrat, dan nasi. “Pakan ini harus diberikan ke kalkun setiap hari,” ujar pria yang kesehariannya menjadi satpam di salah satu kantor kementrian keuangan di Kudus.

Masih ditempat yang sama, Kasi Produksi dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kudus, Sidi Pramono mengatakan, pihaknya berupaya untuk menggeliatkan para peternak Kalkun, “Kami sudah lama telah melakukan pembinaan peternak dalam hal ini budidaya kalkun, terkait kesehatan hewan, pemeliharaan hingga pemasaran dan akan terus kami dorong,” ujarnya.

TRENDING :  Revitalisasi Pasar Kayen Dapat Anggaran Dari APBN

Upaya kedepan, lanjutnya, Menjadikan daging kalkun alternatif swasembada pangan selain daging ayam kampung, sapi, kambing, kerbau yang sudah jamak dikonsumsi oleh masyarakat.

Untuk kesehatan, kata Sidi, pihaknya telah memberikan pelayanan vaksinasi, disinfektan, termasuk ada petugas lapangan menyambangi para peternak. “Dalam waktu dekat saya akan kerjasama dengan pihak akademisi Undip Semarang,” tandasnya.

Ada ratusan peternak kalkun di Kudus, namun yang tergabung pada komunitas Semarak Kalkun Kudus baru 40an, “Jadi kami ingin diantara mereka menjalin kerjasama dan merangkul sesama peternak kalkun lain yang belum tergabung,” ujarnya. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :