Kuli Panggul Ini Ditahan Dan Akan Di Adili Gegara Serempetan Motor

oleh
Slamet Riyadi, penasehat hukum terdakwa, saat menunjukkan surat perdamaian antara Sulasih dan Mulyadi yang diwakili istrinya dan jabatan tangan antara keduanya (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, hanya persoalan kasus serempetan kendaraan yang berakibat luka ringan dan korbannya pun sudah berdamai, bahkan sudah ikut menanggung beaya perawatan, serta sudah beraktifitas namun tetap saja di tahan oleh kejaksaan.

Hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Ungkapan ini seakan menjadi potret penegakan hukum di negeri ini. Seperti yang dialami oleh Mulyadi warga RT 01 RW 01, Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Mulyadi sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul atau angkut di sebuah pabrik tahu di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus.

Gara-gara kasus serempetan sepeda motor dengan pengguna jalan ( Sulasih) beberapa bulan silam. Kini, Mulyadi terpaksa harus mendekam di balik jeruji. Ia ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri Kudus sejak 8 November lalu.

Dan hari ini kasus tersebut akan mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Kudus.

Mulyadi, yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul itu terpaksa meringkuk di rumah tahanan (Rutan) Kudus. Kasus serempetan dengan Sulasih itu terjadi 30 Agustus silam.

Sulasih yang merupakan buruh rokok sempat dirawat di rumah sakit. Pak Mulyadi pun telah bertanggungjawab dan menanggung biaya pengobatan sekitar Rp 1,5 juta.

Dan kedua belah pihak sudah sepakat untuk menyelesaikan kejadian itu secara damai dan kekeluargaan. Namun, tiba-tiba ada pemanggilan oleh pihak kepolisian dan memeriksa pak Mulyadi.

Dijelaskan oleh Slamet Riyadi, penasehat hukum Mulyadi, kronologis kejadian adalah, pada hari Kamis tanggal 30 Agustus 2018 sekira pukul 07.20,  Mulyadi Bin Masidjan (Terdakwa), berangkat kerja sebagai Buruh Pabrik Tahu di desa Bacin yang tidak jauh dari rumahnya.

TRENDING :  Agar Tak Terekam Saat Beraksi, Pembobol ATM di Pedawang Ini Tutupi CCTV dengan Cat Semprot

“Karena jam berangkat kerja kondisi lalu lintas ramai lancar, maka Terdakwa mengendarai sepeda motornya dengan berhati-hati, dengan kecepatan sedang, saat hendak menyeberang jalan Sosrokartono, Terdakwa mengurangi kecepatan dan berhenti sejenak untuk melihat kanan kiri, setelah dirasa aman dan sepi, terdakwa memasukkan kopling 1 (satu) kendaraannya dan mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan kurang lebih 5 Km/Jam (lima kilometer per jam),” katanya.

Dilanjutkannya, namun dari arah selatan ke utara,  Sulasih (Saksi Korban) melaju dengan kecepatan sedang, dengan kecepatan kurang lebih 40 km/jam (empat puluh kilo meter per jam) sehingga terjadi kecelakaan yang tak terhindarkan antara Terdakwa dengan Saksi Korban dan mengakibatkan saksi korban jatuh, sedangkan Terdakwa masih berada di atas sepeda motor, membuktikan bahwa benar Terdakwa mengendarai sepeda motor dengan pelan. Selanjutnya menolong saksi korban dan ikut mengantar korban ke rumah sakit.

“Guna mengurus Jasa Raharja, hari Senin, 3 September 2018, Keluarga Saksi Korban melaporkan kejadian kecelakaan tersebut ke Kepolisian Resor Kudus (Polres Kudus), bagian Kecelakaan Lalu Lintas. Pihak Polres Kudus, dalam hal ini Pembantu Penyidik sudah mencoba membicarakan (mengkomunikasikan) perkara kecelakaan ini dengan mempertemukan Terdakwa dengan Saksi Korban dan Keluarga. Dari komunikasi ini telah disepakati perdamaian antara Terdakwa dengan Saksi Korban dan Keluarga, dan menyatakan antara keduanya sudah berdamai,” jelas Slamet.

Setelah perkara dianggap selesai, baik Terdakwa maupun Saksi Korban merasa sudah sama-sama legowo (menerima) dan berharap perkara ini segera tuntas, karena sudah sama-sama menyadari tidak ada yang salah dalam perkara laka lantas ini. Terlebih saat ini Saksi Korban sudah sembuh dan pulih serta bisa menjalankan aktivitas seperti biasa, bekerja seperti biasa. Namun, pada tanggal 7 November 2018, Pembantu Penyidik Polres Kudus, ke rumah Terdakwa dan menyuruh Terdakwa datang ke Polres Kudus.

TRENDING :  Diduga Hamili Janda, Warga Papringan Kudus Minta Oknum Ketua BPD Diberhentikan

Dalam keyakinan Terdakwa, karena perkara laka sudah selesai, mungkin kedatangannya untuk mengambil sepeda motor yang masih berada di Polres Kudus. Ternyata sesampainya di Polres Kudus Terdakwa diajak ke Kejaksaan Negeri Kudus. Setelahnya Terdakwa dibawa ke Rutan Kudus dan meringkuk di sana sejak tanggal 8 November 2018.
“Menjadi pertanyaan besar, kenapa perkara laka yang nyata-nyata sudah selesai, oleh penyidik Polres Kudus dilanjutkan ke Kejaksaan? Kenapa Kejaksaan tega harus menahan Terdakwa? Ada berapa banyak kasus kecelakaan, berapa perkara kecelakaan, bahkan sampai mengakibatkan kematian yang tidak dilanjutkan prosesnya,  Apakah karena Terdakwa masyarakat lemah, tidak mengerti hukum, hanya lulusan SMP, hanya buruh Pabrik Tahu harus menelan pil pahit ketidak adilan ini?

“Pasca pemeriksaan di Kepolisian tiba-tiba-tiba P21 dan langsung dilimpahkan ke Kejaksaan dan tidak berselang lama, Kejaksaan melakukan penahanan,” kata Slamet Riyadi, yang ditunjuk sebagai penasehat hukum, ketika menggelar jumpa pers, Rabu siang (21/11/2018).

Ia melihat ada yang aneh dan janggal terhadap proses penahan Mulyadi oleh pihak Kejaksaan. Bahkan ia menduga ada upaya mengkriminalisasi Mulyadi dalam kasus kecelakaan beberapa waktu lalu.

Padahal, kedua belah pihak sudah berdamai dan saling memaafkan. Bahkan korban  Sulasih menyatakan sudah memaafkan pak Mulyadi sejak awal, karena tidak ada yang salah dalam kecelakaan tersebut. Menurutnya kejadian kecelakaan yang dialami merupakan bagian resiko di jalan.

TRENDING :  Kecelakaan di Perbatasan Kudus – Demak Kembali Merenggut Korban

“Kami menyangkan terjadi penahan oleh pihak Kejaksaan Negeri Kudus terhadap Pak Mulyadi,” kata Sulasih.

“Semoga Pak Mulyadi segera dilepaskan karena kecelakaan tersebut sudah selesai secara kekeluargaan sejak 29 September lalu,” harapnya.

“Kami ada bukti surat pernyataan diatas meterai yang intinya masalah serempetan sepeda motor antara Pak Mulyadi dan Bu Sulasih sudah selesai secara kekeluargaan,” ujar Slamet.

Slamet berharap aparay penegak hukum tidak melakukan tebang pilih dan melakukan upaya kriminalisasi terhadap masyarakat kecil. Apalagi Pak Mulyadi hanyalah seorang kuli panggul dan hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP).

Menurut dia, jika kasus semacam ini berakhir dan berujung pada jeruji penjara. Ia yakin banyak orang akan masuk penjara dan penjara tidak akan muat jika hal seperti ini berujung pada kriminalisasi.

“Sementara kasus kecelakaan besar yang mengakibatkan kematian, ada kecendrungan banyak yang mandek. Tolong, kami minta keadilan sebagai rakyat kecil,” ungkap Slamet.

Namun, lanjut Slamet, sampai saat ini pihak Kejaksaan Negeri Kudus seakan tak bergeming dengan kasus ini dengan tetap memenjarakan kliennya dengan menertibkan surat perintah penahanan ayat 3.

“Alasan penahan yaitu pasal 301 ayat 3 yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum. Ini nanti yang akan kita bedah dan kupas bareng di persidangan,” bebernya.

“Kami optimis apa yang didakwakan oleh JPU nggak sinkron dengan kenyataan di lapangan,” pungkasnya. (YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :