Kyai Anteng, Sosok Cikal Bakal Desa Bulung

oleh
Foto: Makam Kyai Anteng di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Rabu (31-01-2018) (Nila Niswatul Chusna / ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Kyai Anteng merupakan seorang santri Sunan Muria yang menyebarkan agama Islam di wilayah timur Kota Kudus, tepatnya di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
Diceritakan, Dahulu Raden Umar Said atau yang dikenal sebagai Sunan Muria memiliki sebuah pondok pesantren yang berlokasi di lereng Gunung Muria. Santri Sunan Muria banyak yang berasal dari Kerajaan Mataram, salah satunya Kyai Anteng.

Dari sekian banyak santri yang belajar ilmu agama kepada Sunan Muria, terdapat seorang santri yang sangat pandai dan begitu istiqomah dalam menuntut ilmu. Santri tersebut bernama Kyai Anteng.

TRENDING :  Diterjang Perkakas Modern, Kasmilah Bertahan Lestarikan Besek
Foto: Jamian (58) Juru Kunci Makam Kyai Anteng di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Rabu (31-01-2018) (Nila Niswatul Chusna / ISKNEWS.COM)

“Sunan Muria melihat keistiqomahan Kyai Anteng dalam mempelajari agama Islam, sehingga ia menikahkan putrinya tercinta kepada Kyai Anteng. Setelah menjadi menantu Sunan Muria, Kyai Anteng didaulat untuk menjadi Badal (orang yang menggantikan posisi Sunan Muria ketika pergi, seperti menjamu tamu yang datang, menjadi imam sholat dan mengajar di Pondok Pesantren –Red),” tutur Jami’un (58), Rabu (31-01-2018).

Karena Sunan Muria merasa ilmu yang dimiliki oleh Kyai Anteng sudah cukup. Akhirnya Sunan Muria mengutus Kyai Anteng dan istrinya untuk menyiarkan agama Islam di selatan Gunung Muria. Sunan Muria juga mengutus Kyai Selentang (santri Sunan Muria yang berubah menjadi macam, karena sabda Sam Po Kong –Red) untuk mengamankan perjalanan dakwah Kyai Anteng dan Istrinya.

TRENDING :  Hasil Panen Baik Harga Gabah Naik

“Saat itu Sunan Muria berpesan kepada Kyai Anteng bahwa jangan menghentikan perjalanan hingga menemukan pohon rembulung yang berbunga putih,” ujar juru kunci makam Kyai Anteng tersebut.
Bersama istrinya dan Kyai Selentang, Kyai Anteng memulai perjalanan dakwahnya. Setelah berjalan sangat jauh, Kyai Anteng terdampar di sebuah rawa yang luas. Di rawa tersebut ia melihat pohon rembulung dengan bunga yang berwarna putih.

TRENDING :  Komunitas Peduli TB-HIV 'Aisyiyah Kudus Gandeng Ormas Tangani TB-HIV

Setelah menemukan pohon tersebut, Kyai Anteng menghentikan perjalanannya dan mendirikan rumah di rawa tersebut. Di daerah tersebut, Kyai Anteng mensyiarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar sebagaimana amanat dari Sunan Muria.

Kepandaian dan keistiqomahan Kyai Anteng dalam berdakwah menjadikannya begitu di hormati oleh masyarakat. Sebagai wujud penghormatan terhadap Kyai Anteng, daerah tersebut dinamakan Desa Bulung, sebagaimana nama pohon rembulung yang menghantarkan Kyai Anteng untuk berdakwah di daerah tersebut. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :