Labu Siyem Yang Mulai Langka Di Tanam Petani Sayur Di Kudus

oleh
Labu Siyem atau yang biasa disebut Jipang, labu siam, manisa, gondes, waluh, atau labu siem yang kini mulai langka di tanam petani sayur di Kudus (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com – Labu Siyem atau yang biasa disebut Jipang, labu siam, manisa, gondes, waluh, atau labu siem merupakan buah dari tanaman menjalar yang bisa tumbuh di tanah yang basah dan lembab. Labu siam memiliki ciri kulit tipis berwarna hijau, dagingnya putih pucat dan terdapat biji tipis di dalamnya.

Komoditas labu siyem yang biasa dijadikan sebagai salah satu produk olahan unggulan di Kudus, ternyata kini mulai langka ditanam oleh petani di Kudus.

Hal itu terungkap saat di gelarnya Pameran Pertanian 2018 yang digelar oleh Dinas Pertanian dan Pangan di Balai Jagong Kudus.

Adalah  Rubiyanti, pengusaha produk olahan berbahan baku labu siyem, UMKM asal desa Pedawang dan peserta pada Pameran Pertanian 2018 di Balai Jagong beberapa waktu lalu berhasil mengungkapkan fakta bahwa produk pertanian jenis ini di pasaran sangat terbatas.

TRENDING :  Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) Kudus Raih Penghargaan Kementerian Pertanian RI

Mendengar terbatasnya bahan baku jipang siyem di wilayah Kudus, menyebabkan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto bersama Rubiyanti dan Kartoyo, Koordinator BPP Kecamatan Dawe, langsung berangkat ke lokasi lahan yang ditunjuk untuk lokasi penanaman Jipang di Desa Dukuhwaringin dan Japan.

“ Ini sebagai support kita pada produk unggulan Kudus. Dinas Pertanian dan Pangan memang mengurusi bagian hulu atau produksi tanam menanam sebagai bahan baku olahan. Dengan adanya pihak UMKM yang siap menampung hasil panen, tentu petani akan siap untuk menanam labu siyem ini. Nanti kita dukung untuk pengadaan bibitnya, karena sekarang awal musim hujan ,” ujar Catur Sulistiyanto saat di desa Dukuhwaringin Kecamatan Cawe, Rabu (14/11/2018).

Aris Istiyanto, Kepala Desa Dukuhwaringin menyampaikan, siap untuk mengajak petani di wilayahnya untuk menanam siyem.

“Sebab selama ini kan keluhan petani adalah pemasaran hasil pertanian. Nanti kita musyawarahkan apakah kedepannya dibentuk BUMDES sehingga jadi produk inovasi dari desa Dukuhwaringin ,” ucap Aris Istiyanto menanggapi support dari Dinas Pertanian dan Pangan Kudus.

TRENDING :  PPL Sampai Kades Diminta Operasi Ke Desa Sukseskan Kartu Tani

Aris menjelaskan bahwa lokasi untuk pembuatan home industri berada di sekitar area wisata air terjun kedung gender. Sehingga para pengunjung usai menikmati wisata alam bisa langsung membeli olahan siyem baik berupa minuman maupun makanan ringan.

Kepala Desa muda ini optimis bahwa produk olahan siyem dari desanya bisa menjadi produk unggulan Kabupaten Kudus.

“ Untuk air di musim kemarau nanti bisa diambilkan dari sungai pakai pompa. Jadi produksi olahan siyem atau jipang ini berkelanjutan karena petani juga bisa terus menanamnya ,” imbuhnya.

Usai melihat lokasi Dukuhwaringin, rombongan kemudian menuju ke desa Japan Kecamatan Dawe yang pada masa lalu terkenal sebagai kawasan produksi siyem. Bahkan juga pernah berdiri pasar desa khusus siyem.

TRENDING :  Jadikan Blora Pusat Komoditi Holtikultura

“ Tapi kemudian para petani enggan menanam siyem karena harganya yang murah. Akibatnya pasar siyem di desa juga tutup dan pindah ke perbatasan dengan Colo. Tetapi sekarang juga siyemnya tidak ada ,” terang Kartoyo, Koordinator BPP Kecamatan Dawe.

Kartoyo kemudian memperkenalkan Bambang Kurniawan, ketua poktan Rukun Santoso desa Japan dengan Rubiyanti. Sehingga terjalin kerjasama untuk penanaman Siyem dan pemasaran paska panennya.

“ Insha Allah teman-teman anggota poktan kami siap kalau melihat harga seperti itu. Sebab dulunya kita banyak menanam siyem tetapi harganya terlalu murah ,” kata Bambang.

Menanggapi hal ini, Rubiyanti mengungkapkan rasa terimakasihnya pada jajaran Dinas Pertanian dan Pangan Kudus yang langsung merespon cepat terkait kekurangan bahan baku labu siyem. (YM/YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :