Laga Persela vs Pop Makara Ricuh, Wasit Dituding Berat Sebelah

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Pertandingan lanjutan babak penyisihan Grup B Kompetisi Divisi I U-23 Askab PSSI Kudus, yang mempertemukan antara Persela Lambangan menghadapi Pop Makara Polres Kudus berakhir ricuh, Rabu (03/01/2017).

Penyebabnya dikarenakan ketidakpuasan kubu Persela atas kepemimpinan wasit Tri Damar Gufron, yang dianggap berat sebelah terhadap kubu lawan. Semula pertandingan yang berlangsung di Stadion Wergu Wetan berjalan damai dan saling jual beli serangan.

Bahkan sampai babak pertama usai tak ada gol yang tercipta dan pertandingan berjalan lancar tanpa ada sedikitpun protes. Pertandingan memanas usai turun minum pada menit 38.

Saat itu wasit memberikan hadiah penalti kepada Pop Makara karena menganggap pemain Persela, Abdul Aris menyentuh bola di kotak terlarang.

Pemain dan official Persela yang menganggap tidak terjadi handball melayangkan protes kepada wasit. Salah satu protes dilayangkan manajer Persela Dwi Setiawan. Protes tersebut ditujukan kepada wasit cadangan Imam Handoko.

Semula protes berlangsung biasa saja, namun tak lama berselang terjadi keributan. Bukan antarpemain, melainkan dari official Persela dengan wasit cadangan Imam Handoko.

TRENDING :  Pop Makara Tantang Persirangga, Bokama Siap Ladeni Persilo

Manajer Persela Dwi Setiawan saat dikonfirmasi ISKNEWS.COM menceritakan, awalnya dirinya hanya memprotes wasit cadangan karena yang sebenarnya nyata terjadi dan jelas di depan mata tidak terjadi handball dari timnya.

Yang benar adalah bola menyentuh dada. ”Bola menyentuh dada apa dianggap handball? Sudah jelas di depan mata tidak ada handball, semua penonton yang hadir tahu itu harusnya tidak ada penalti,” tuturnya kesal.

Namun pada saat protes tersebut menurut Dwi, bukannya mendapat penjelasan yang masuk akal dari wasit cadangan, tetapi justru sebaliknya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Dia dikatakan goblok oleh Imam Handoko.

Kericuhan terjadi pada laga Persela vs Pop Makara karena wasit dianggap berat sebelah. (ISKNEWS/MUKHLSIN)

”Saya protes kok dikatakan goblok, wasit macam apa itu? Bagaimana kami tidak emosi dikatakan seperti itu. Sudah keputusannya salah, ngatain orang goblok,” ungkapnya.

Dwi Setiawan yang mengaku juga merupakan seorang wasit berlisensi C1 itu meminta Askab PSSI Kudus mengevaluasi Imam Handoko. Dirinya menganggap sangat tidak etis seorang wasit mengatakan goblok kepada manajer tim yang sedang bertanding.

TRENDING :  Terkendala Anggaran, Babak 16 Besar Divisi II Ditunda

Dia juga menantang Imam Handoko untuk membuktikan kalau benar pemainnya handball. Tak hanya itu Dwi juga meminta pertanggungjawaban Imam karena timnya terdegradasi ke Divisi II akibat penalti yang diberikan.

”Kami membangun tim ini tidak mudah, butuh biaya besar. Dan tim yang kami bangun murni dari anak Lambangan. Sejak Divisi II hingga naik kasta komposisi tim tidak berubah, asli dan bisa menjadi bibit untuk Persiku. Kalau dicurangi begini kami bisa apa?,” pungkasnya.

Pelatih Persela Agus Eriawan menilai kepemimpinan wasit dari awal jelas berat sebelah. Dia menyebut wasit utama Tri Damar Gufron dan asisten wasit 1 Yoga banyak membuat keputusan yang merugikan timnya.

Dikataknnya, sejak babak pertama banyak timnya sudah dicurangi. Dirinya meminta kinerja wasit yang memimpin dievaluasi Askab PSSI Kudus. Hal itu dimaksudkan agar sepak bola di Kudus mengalami kemajuan.

”Kita membina untuk Persiku bukan untuk orang per orang. Harusnya selain pemain yang sportif, wasitnya juga harusnya juga lebih sportif. Jangan berat sebelah,” tandasnya.

TRENDING :  Pelatih Persiku Sudah Kantongi Daftar Nama Pemain Terpilih
Pemain Persela Abdul Aris yang dianggap melakukan handball wasit. (ISKNEWS/MUKHLISIN)

Agus menambahkan, permainan sepak bola dirusak oleh wasit. Dia menyebut ini kali kedua timnya dicurangi. Dulu pada saat Divisi II musim 2016 sebelum naik kasta, timnya juga dicurangi wasit saat melawan Persita Tanjungrejo.

”Kalau mau sepak bola di Kudus maju, wasit seperti itu harus disingkirkan. Ganti wasit yang profesional,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Askab PSSI Kudus Sutrisno berjanji akan mengevaluasi kepemimpinan wasit Tri Damar Gufron dan Imam Handoko yang dianggap melakukan blunder. ”Kita akan evaluasi, jangan sampai kericuhan seperti ini terjadi lagi,” katanya.

Pertandingan antara Persela melawan Pop Makara akhirnya dinyatakan dimenangkan Pop Makara. Hal itu dikarenakan Persela tidak mau melanjutkan pertandingan karena terlanjur kecewa dengan kepemimpinan wasit.

Pop Makara dinyatakan menang WO (0-3). Dengan hasil ini tim asuhan Hidayat merangsek ke posisi dua klasemen sementara Grup B dan berpeluang lolos ke babak berikutnya. Sedangkan Persela sudah dipastikan terdegradasi ke Divisi II musim depan. (MK)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*