Lagi Ditemukan Fosil Gajah Purba Di Situs Patiayam

oleh

Kudus, isknews.com – Setelah cukup lama tidak terdengar berita penemuan fosil di Situs Patiayam, belum lama ini, di kawasan situs yang letaknya di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu, ditemukan sejumlah temuan baru fosil binatang purba yang satu diantaranya ditengarai sebagai fosil gajah purba (stegodon). Selain itu, dari fosil yang jumlahnya mencapai ratusan itu, ada yang masih agak utuh, yakni fosil kepala banteng (Bos javanicus javanicus). Semua fosil itu ditemukan di Formasi Slumprit, petak 2, kawasan Situs Patiayam.

Siti Asmah, juru pelihara Museum Fosil Patiayam, yang dihubungi isknews.com, di ruang konservasi museum tersebut, Jumat (03/2), membenarkan hal itu. Menurut dia, telah terjadi penemuan bau sejumlah fosil binatang purba di kawasan Situs Patiayam, selama dua bulan terakhir, Desember 2016 dan Januari 2017. Fosil yang ditemukan pada Januari jumlahnya mencapai ratusan, baik berupa potongan maupun fragmen. “Kini ratusan fosil itu disimpan di Museum Fosil, setelah oleh tiga orang warga yang menemukannya, yakni Sutopo dan Roji, keduanya warga RT-02/RW-04, serta Husen Ulinnuha, warga RT-01/RW-04, diserahkan ke pihak pengelola museum atas kesadaran sendiri.”

Dari semua temuan fosil itu, ungkapnya lanjut, hanya ada dua yang sudah bisa direkontruksi, yakni fosil gajah purba, berupa tulang belikat atas (scapulla). Sebagian tulang yang terdiri dari 10 potongan dan serpihan itu, ada beberapa diantaranya yang sudah disatukan dengan lem. Sedangkan untuk fosil kepala banteng, bagian tengkoraknya nyaris utuh, namun tanduknya hanya satu buah. “Selain dua fosil itu, belum bisa diketahui jenisnya, butuh penelitian dari ahli arkeologi. Jadi kami letakan di ruang konservasi lantai I museum.”

Perlakuan yang sama, juga diperuntukkan fosil yang ditemukan pada Januari 2017 yang oleh penemunya, yakni Ngarpani dan Simpo, keduanya warga RT-02/RW-03 dan RT-02/RW-04, diserahkan ke pihak museum. Jumlahnya juga mencapai ratusan,sebagian besar berupa fragmen, sehingga belum bisa direkontruksi. “Usia fosil temuan baru ini, diperkirakan tahun 7000 – 1,5 juta sebelum masehi, atau zaman plestosen. Itu berdasarkan susunan lapisan tanah di mana fosil itu ditemukan,” jelas Siti Asmah, didampingi Ari Mustaqi, salah satu pengelola museum yang menangani konservasi.

Dia menambahkan, adanya temuan baru fosil gajah purba atau yang juga disebut Mamut itu, diharapkan lebih menarik minat masyarakat, untuk mengunjungi Museum Fosil Patiayam itu. Bedasarkan data yang ada di buku tamu, pengunjung museum itu cukup banyak. Pada Desember 2016, jumlah pengunjung mencapai 1900 orang, sedangkan pada Januari 2017, meningkat menjadi 2500 orang. “Kalau dihitung rata-rata per hari, mencapai 100 – 150 orang. Yang terbanyak dari kalangan pelajar, sedangkan pengunjung teramai setiap Sabtu dan Minggu.” (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Sejarah Bangunan Lawang Sewu