Lahan Tebu Berkurang, Produsen Gula Tumbu Semakin Sedikit

by

Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Semakin sempitnya lahan tebu membuat banyak produsen gula merah tumbu di Kabupaten Jepara gulung tikar. Yang kini masih tersisa pun beroperasi seadanya. Seperrti yang terlihat di Desa Gemulung Kecamatan Pecangaan. Dari puluhan produsen gula tradisional ini, kini hanya belasan yang masih bertahan diterpa berbagai hambatan.

Banyaknya perusahaan multi nasional yang berdiri di Jepara ditengarai turut andil terhadap keberlangsungan usaha pembuatan gula tumbu ini. Usaha pembuatan gula tradisional itu kian terdesak perluasan pabrik yang mencaplok lahan tebu.

Norkhan (54), Perajin gula tumbu di Desa Gemulung mengisahkan, jika tahun 90-an lalu, di desanya terdapat puluhan brak atau tempat produksi gula tumbu. Namun kini hanya menyisakan belasan yang masih berproduksi. Usaha yang hingga kini digelutinya itu dulu merupakan warisan usaha dari orangtuanya. “Kini hanya sekitar 11 yang masih berjalan. Dulu tahun 90-an jumlahnya masih dua kali lipat dari yang ada sekarang,” katanya, Sabtu (12/8/2017).

Menurut Norkhan, menyusutnya jumlah brak ditengarai karena ekspansi pabrik tekstil yang mencaplok lahan tebu. Ia mengatakan, lahan tebu yang digunakan oleh pabrik sekitar 40 hektar lebih. Di desa Pemulung saat ini memang telah berdiri beberapa perusahaan garmen asal Korea yang banyak memakan area yang dulunya merupakan areal perkebunan tebu. “Kondisi ini tentu memengaruhi geliat usaha gula rakyat ini, karena lahan tebu semakin sedikit ” imbuhnya.

Dirinya mengatakan, pada masa jayanya penggilingan tebu tradisional milik warga selalu ramai didatangi bakul (pembeli) saat musim panen tebu. Namun kini, ia mengatakan relatif sepi.

Hal senada disampaikan oleh pekerja brak lainnya Joko. Menurutnya, saat ini proses penggilingan paling lama memerlukan waktu tiga bulan. Hal itu berbeda dengan beberapa tahun silam. Dahulu, katanya, proses penggilingan itu sampai tiga bulan lebih. Namun kini hanya sampai dua setengah proses produksi sudah mandeg, sebab bahan baku tebu sudah berkurang.

“Gula produksi sini kebanyakan dibeli oleh pedagang asal Gebog Kabupaten Kudus. Produksi gula tumbu kebanyakan digunakan sebagai bahan baku pembuatan kecap, roti tradisional, bumbu hingga sambal,” jelasnya. (ZA)

KOMENTAR SEDULUR ISK :