Luasnya Capai 2.316 Ha Pengentasan Lahan Kritis Di Kudus Alami Kesulitan

Luasnya Capai 2.316 Ha Pengentasan Lahan Kritis Di Kudus Alami Kesulitan

Kudus, isknews.com – Upaya pengentasan lahan kritis di Kabupaten Kudus, oleh Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) terkait, mengalami kesulitan. Penyebab utamanya, petani atau pemilik lahan kritis itu enggan mananami lahannya dengan tanaman jangka panjang dan lebih memilih menanam tanaman musiman. Luas lahan kritis di Kudus saat ini mencapai sekitar 2.316 hektare.

Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan (Kabid Hut-Bun) Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Harnawa, yang dihubungi isknesw.com, di ruang kerjanya, Kamis (05/8), membenarkan hal itu. Menurut dia, letak lahan kritis kebanyakan menyatu atau berdekatan dengan lahan hutan rakyat yang luasnya mencapai sekitar 5.630 hektare. Lokasinya sebagian besar di pegununungan Muria, Kecamatan Dawe dan Patiayam (Jekulo) wilayah Perhutani KPH Kabupaten Pati, sebagian lagi di pegunungan Wonosoco (Undaan), di bawah Perhutani KPH Kabupaten Grobogan.
“Di lahan yang berdekatan dengan hutan rakyat itulah, pemilik lahan kritis yang kondisi tanahnya berada di lereng-lereng pegunungan, menanami lahannya dengan tanaman semusim, seperti jagung, ketela dan lain-lain.”

Meski lebih sering mengalami gagal panen disebabkan oleh kondisi tanah yang tidak cocok, ungkapnya lanjut, anjuran untuk menanam tanaman jangka panjang ditolak oleh pemilik lahan. Alasannya, tanaman jangka panjang, seperti Pohon Jati, Sawo dan lain-lain, untuk memetik hasilnya cukup lama, sampai bertahun-tahun, sedangkan kalau tanaman semusim, untuk memetik hasilnya hanya membutuhkan waktu 3 bulan, atau paling lama 6 bulan. “Dengan masih terjadinya penanaman tanaman semusim di lahan-lahan yang letaknya berada di kemiringan, lahan kritis di Kudus dikhawatirkan luasnya akan bertambah.”

BACA JUGA :  Limbah PG Trangkil di Keluhkan Warga Sambilawang

Mengenai besarnya anggaran atau beaya yang dibutuhkan untuk pengentasan lahan kritis, Harnawa menjelaskan, untuk setiap hektarnya dibutuhkan sedikitnya 40 batang tanaman keras atau tanaman jangka panjang. Harga tanaman sesuai dengan jenisnya, untuk Sawo per batangnya Rp 5000, jadi untuk pengentasan lahan kritis dengan menanam pohon Sawo, memakan anggaran sebesar Rp 200.000. “Terkait dengan anggaran itu, bisa diajukan kepada terkait, dari dana hibah pemerintah pusat. Namun hambatanya ada pada SDM pemilik lahan yang enggan membuat proposal, meskipun sudah kami arahkan.” (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post