Manfaatkan Malam Seribu Bulan, Ini Maksud dan Tujuan Diturunkan Lailatul Qodar

Manfaatkan Malam Seribu Bulan, Ini Maksud dan Tujuan Diturunkan Lailatul Qodar

Kudus, isknews.com – Malam Lailatul Qadar merupakan yang ditunggu-tunggu umat muslim selama bulan Ramadan, terutama memasuki malam ganji di 10 hari terakhir.

Malam ini hanya dijumpai setahun sekali, jadi jangan sampai kita (umat islam) melewatkannya. Orang yang beribadah sepanjang tahun tentu lebih mudah mendapatkan kemuliaan malam tersebut karena ibadahnya rutin dibanding dengan orang yang beribadah jarang-jarang.

Namun apa saja keistimewaan malam Lailatul Qadar. Berikut isknews.com sampaikan ulasannya yang dirangkum langsung oleh warga asli Kudus, Mohammad Baha’uddin, M.Hum

( Pict. Asyraf Azzahari )

MALAM LAILATUL QODAR

Sudah hampir 2/3 ibadah puasa kita lalui. Itu artinya sebentar lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita. Belum tentu di tahun berikutnya, kita mendapati kesempatan yang sama, yaitu mengerjakan puasa di siang hari dan diberi kesehatan untuk menyemarakkan malamnya dengan beribadah. Karenanya, gunakanlah sisa waktu Ramadhan ini dengan sebaik mungkin. Perbanyaklah ibadah dan amal saleh.

Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhan, antara lain dengan memperbanyak sedekah, membaca Quran, dan i’tikaf. Hal ini karena keutamaan waktu di bulan Ramadhan, adanya pelipatgandaan pahala, dan termudahkannya beramal kebaikan di bulan Ramadhan. Anjuran banyak melakukan ibadah ini lebih-lebih di sepuluh akhir ramadhan, yang mana Rasulullah menganjurkan mengharap dianugerahi Lailatul Qadar pada bulan yang sepuluh pertamanya adalah rahmat, sepuluh tengahnya adalah ampunan dan sepuluh akhirnya adalah bebas dari neraka, walaupun hakikatnya memang tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar, kecuali Allah ‘azza wajalla
Kehadiran lailatul qadar ditunggu siapapun. Ia merupakan malam penuh berkah dan kemuliaan. Beribadah pada malam tersebut dianggap lebih baik ketimbang beribadah di bulan lain, sekalipun selama seribu bulan. Begitulah cara Allah SWT mengistimewakan malam ini.
Namun sayangnya, tidak ada seorang pun yang tahu kapan kepastian harinya. Tampaknya, Allah SWT sengaja merahasiakannya agar manusia senantiasa melanggengkan ibadah di bulan Ramadhan.
Menjelang akhir Ramadhan, Rasulullah SAW biasanya lebih fokus beribadah, terutama sepuluh malam terakhir. Hal ini sebagaimana yang disebutkan ‘Aisyah,
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله
Artinya, “Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan memilih fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah,” (HR Al-Bukhari).
Berdasarkan hadits ini, dapat disimpulkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang terbaik untuk beribadah. Sebagian ulama mengatakan, Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhannya beribadah pada sepuluh malam terakhir dibandingkan malam sebelumnya.
Menurut Ibnu Bathal, hadits ini menginformasikan kepada kita bahwa malam lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terkahir Ramadhan. Karenanya, Rasulullah SAW lebih fokus beribadah pada malam tersebut dan menganjurkan umatnya untuk melanggengkan ibadah di malam sepuluh terakhir.

1. Pengertian Lailatul Qodar

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ, malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan.
Menurut Quraish Shihab, kata Qadar sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni :
a. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
b. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
c. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Dalam kitab Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ ash-Shaghir disebutkan pengertian al-qodar sebagai berikut:
(ليلة القدر) أي القضاء والحكم بالأمور سميت به لعظم منزلتها وقدرها وشرفها ولما تكتبه فيها الملائكة من الأقدار التي تكون منها إلى السنة القابلة (فيض القدير – ج 2/ ص. 199)
“al-Qadr artinya adalah keputusan hukum terhadap sesuatu, karena besarnya kedudukan dan kemuliaan malam tersebut, dan karena di malam tersebut Malaikat menulis takdir-takdir yang terjadi di malam tersebut sampai 1 tahun ke depan” (Faidl al-Qadir Syarah al-Jami’ ash-Shaghir 2/199)

Lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

2. Sejarah Lailatul Qodar

عَنْ عَلِيِّ بْنِ عُرْوَةَ قال: ذَكَرَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا أربعةً من بني إسرائيل، عَبَدُوْا اللهَ ثمانيْنَ عَامًا، لَمْ يَعْصُوهُ طرْفَةَ عَيْنٍ: فذَكَرَ أيوبَ، وزكريا، وحزقِيْلَ بْنَ العَجُوزِ، ويوُشَعَ بنَ نُوْنٍ. قَالَ : فعَجَبَ أصْحَابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم من ذلك، فأَتَاهُ جبريلُ فقال: يا محمد، عَجِبَتْ أمَّتُكَ من عِبَادَةِ هَؤُلَاء النَّفَرِ ثَمانين سنةً، لَمْ يَعْصُوْهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ، فقد أنزل الله خيرا من ذلك. فقرأ عليه: (إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر ليلة القدر خير من ألف شهر) هَذَا أَفْضَلُ مِمَّا عَجِبْتَ أَنْتَ وأمَّتُكَ. فقال: فسُرَّ بذلك رسولُ الله صلى الله عليه وسلم والناسُ معه (تفسير إبن كثير – ج 8/ ص. 448)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ suatu hari menceritakan 4 orang dari Bani Israil yang menyembah Allah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap matapun, yaitu Ayub, Zakariya, Hizqil bin ‘Ajuz dan Yusya’ bin Nun. Maka para sahabat mengagumi hal itu. Kemudian datanglah Jibril kepada Nabi ﷺ dan berkata: “Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap matapun. Kemudian Allah menurunkan yang lebih baik dari ibadahnya orang Israil tersebut. Kemudian Jibril membacakan kepada Nabi: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (al-Qadr: 1-3) Ini lebih utama dari pada yang dikagumimu dan umatmu”. Kemudian Rasulullah dan sahabat merasa senang dengan hal itu” (Tafsir Ibnu Katsir 8/443)

3. Keistimewaan Lailatul Qodar

Dalam surat Al-Qadar ayat 3 disebutkan bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan (khairun min alfi syahrin):
ليلة القدر خير من ألف شهر
Artinya, “Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih dari seribu bulan,” (QS: Al-Qadar: 3).

Ulama berbeda pendapat terkait maksud “lebih baik dari seribu bulan” dalam ayat ini. Ibnu Bathal misalnya, dalam Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan sebagai berikut:
فإنها خير من ألف شهر، يعنى بذلك أن عملاً فيها بما يرضى الله ويحبه من صلاة ودعاء وشبهه خير من عمل فى ألف شهر ليس فيها ليلة القدر
Artinya, “Maksud dari ‘lebih baik dari seribu bulan’ ialah mengerjakan amalan yang diridhai dan disukai Allah SWT di malam tersebut, seperti shalat, do’a, dan sejenisnya, lebih utama ketimbang beramal selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qadhar di dalamnya.”

Al-Mawardi di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun memaparkan lebih lengkap tafsiran ulama terkait maksud ayat di atas. Terdapat lima penafsiran populer mengenai maksud “lebih baik dari seribu bulan”:
• Pertama, Ar-Rabi’ berpendapat bahwa lailatul qadar lebih baik dari umur seribu bulan.
• Kedua, menurut Mujahid, beramal di lailatul qadar lebih utama dari beramal seribu bulan di selain lailatul qadar.
• Ketiga, Qatadah mengatakan, lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadar.
• Keempat, Ibnu Abi Najih dan Mujahid mengisahkan, seorang dari Bani Israil pernah mengerjakan shalat malam hingga shubuh. Pada waktu paginya, dia berperang sampai sore. Rutinitas ini dilakukannya selama seribu bulan. Kemudian Allah SWT mengabarkan bahwa beribadah pada lailatul qadar lebih baik dari amalan yang dilakukan laki-laki tersebut, meskipun selama seribu bulan.
• Kelima, ada pula yang berpendapat, beribadah saat lailatul qadar lebih baik dari kekuasan Nabi Sulaiman selama lima ratus bulan dan kekuasaaan Dzul Qarnain selama lima ratus bulan.

Di antara kemuliaan-kemuliaan lain di malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)
Kendati ulama berbeda pendapat, namun pada hakikatnya semuanya sepakat bahwa lailatul qadar adalah malam mulia yang sangat baik digunakan untuk beribadah. Dalam sebuah tafsiran dikatakan, kata “seribu bulan” dalam ayat di atas sebenarnya mengisyaratkan sepanjang hari. Artinya, sampai kapanpun keutamaan lailatul qadar tidak tergantikan.

BACA JUGA :  Sidak e-KTP, Bupati Pati Marah, Apa Penyebabnya?

4. Prediksi Lailatul Qodar

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Berikut malam-malam kapan terjadi Lailatul Qodar:

a. 10 Hari Terakhir
Anjuran banyak melakukan ibadah ini lebih-lebih di sepuluh akhir ramadhan, yang mana Rasulullah menganjurkan mengharap dianugerahi Lailatul Qadar pada bulan yang sepuluh pertamanya adalah rahmat, sepuluh tengahnya adalah ampunan dan sepuluh akhirnya adalah bebas dari neraka, walaupun hakikatnya memang tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar, kecuali Allah ‘azza wajalla. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:
ﺗَﺤَﺮَّﻭْﺍ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ
“Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir Ramadan. ” (muttafaqun ‘alaihi dari sayyidatina Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata:
ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟﻌَﺸْﺮُ ﺷَﺪَّ ﻣِﺌْﺰَﺭَﻩُ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ ﻟَﻴْﻠَﻪُ ، ﻭَﺃَﻳْﻘَﻆَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ (( ﻫﺬﺍ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ))
“Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Demikian menurut lafadz Al-Bukhari.
Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha:
ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳَﺠْﺘَﻬِﺪُ ﻓِﻲْ ﺍﻟﻌَﺸْﺮِ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻣَﺎﻻَ ﻳَﺠْﺘَﻬِﺪُ ﻓِﻲْ ﻏَﻴْﺮِﻩِ (( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ))
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.”
Dalam shahihain disebutkan, dari Aisyah Radhiyallahu Anha:
ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻌْﺘَﻜِﻒُ ﺍﻟﻌَﺸْﺮَ ﺍﻷَﻭَﺍﺧِﺮَ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻮَﻓَّﺎﻩُ ﺍﻟﻠﻪ
“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau”

b. Malam-malam Ganjil
Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:
ﺗَﺤَﺮَّﻭْﺍ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِﻓِﻲ ﺍﻟْﻮِﺗْﺮِﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Ganjil tersebut bisa dihitung dari awal bulan, maka malam yang dicari adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.

c. 7 Malam Terakhir
Dan lebih khusus lagi adalah malam-malam ganjil pada rentang tujuh hari terakhir dari bulan tersebut. Beberapa shahabat Nabi pernah bermimpi bahwa Lailatul Qadar tiba di tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah bersabda:
ﺃَﺭَﻯ ﺭُﺅْﻳَﺎﻛُﻢْ ﻗَﺪْ ﺗَﻮَﺍﻃَﺄَﺕْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﺤَﺮِّﻳﻬَﺎ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺤَﺮَّﻫَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ
“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)
Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:
ﺍﻟْﺘَﻤِﺴُﻮﻫَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺸْﺮِ ﺍﻟْﺄَﻭَﺍﺧِﺮِ ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻓَﺈِﻥْ ﺿَﻌُﻒَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﻋَﺠَﺰَ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﻐْﻠَﺒَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊِ ﺍﻟْﺒَﻮَﺍﻗِﻲ
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Ramadhan. ” (HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

d. Malam 25, 27 dan 29
Dalam hadits Abu Dzar disebutkan:
ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻡَ ﺑِﻬِﻢْ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ، ﻭَﺧَﻤْﺲٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ، ﻭَﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ، ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺩَﻋَﺎ ﺃَﻫْﻠَﻪُ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀَﻩُ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ ﺧَﺎﺻَّﺔً
“Bahwasanya Rasulullah melakukan shalat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak salat keluarga dan isteri-isterinya pada malam dua puluh tujuh (27).”
عن أنس قال أخبرني عبادة بن الصامت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج يخبر بليلة القدر، فتلاحى رجلان من المسلمين فقال “إني خرجت لأخبركم بليلة القدر، وإنه تلاحى فلان وفلان فرفعت وعسى ان يكون خيرا لكم التمسوها في السبع والتسع والخمس” (صحيح البخارى – ج 1/ ص. 95).
“Rasulullah ﷺ keluar hendak mengabarkan Lailatul Qadar, kemudian ada pertengkaran diantara 2 orang dari kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh aku keluar untuk mengabarkan pada kalian tentang Lailatul Qadar. Dan sungguh fulan dan fulan bertengkar, maka Lailatul Qadar diangkat. Mungkin ini lebih baik bagi kalian. Carilah Lailatul Qadar di malam 27, 29 dan 25” (HR alBukhari dari Anas)

e. Malam 27
Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi tentang Lailatul Qadar:
ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺳَﺒْﻊ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳْﻦَ
“(Dia adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Sahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu menegaskan:
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﻷﻋﻠﻤﻬﺎ ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻋﻠﻤﻲ ﻫﻲ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻘﻴﺎﻣﻬﺎ ﻫﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ
Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)

Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan lailatul qadar. Menurut keterangan Fathul Qarib, Hasyiah Al-Bajury, dan Fathul Muin beserta Ianatut Thalibin, Imam Syafii menyatakan bahwa lailatul qadar itu ada pada sepuluh akhir Ramadhan, lebih-lebih pada malam ganjilnya, dan yang paling diharapkan adalah pada malam 21, atau 23 Ramadhan.

Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaedah atau formula untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Lailatul Qadar dan menyesuai dengan kaidah ini.

👓PERTAMA, Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadan:
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺇﻧﻬﺎ ﺗﻌﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻭﻟﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺣﺪ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺭﺑﻌﺎﺀ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﻼﺛﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﺨﻤﻴﺲ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺒﺖ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺛﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﻣﻨﺬ ﺑﻠﻐﺖ ﺳﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻣﺎ ﻓﺎﺗﺘﻨﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ
– Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 29
– Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 21
– Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 27
– Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 25
– Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 23
Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah melesat dengan jadwal atau qaedah tersebut.” Kaedah ini sesuai dengan keterangan dalam Hasyiah al-Jamal, hal. 480:
ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻗﺎﻟﻮﺍ ﺇﻧﻬﺎ ﺗﻌﻠﻢ ﻓﻴﻪ ﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﻭﻟﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺣﺪ ﺃﻭ ﺍﻷﺭﺑﻌﺎﺀ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﺴﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﻼﺛﺎﺀ ﺃﻭ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺨﻤﻴﺲ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺒﺖ ﻓﻬﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺛﻼﺙ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ .

👓KEDUA, Dalam kitab Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub al ‘Arabiyyah :
فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين
– Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29
– Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21
– Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27
– Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam 19
– Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25
– Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17
– Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23

👓KETIGA, Dalam kitab Manaqib Abul Hasan Asy-Syadali :
ان كان اول ليلة الصوم الاحد فليلة القدر تسع وعشرون او الاثنين فاحدى وعشرون او الثلاثاء فسبع وعشرون او الاربعاء فتسعة عشر او الخميس فخمس وعشرون او الجمعة فسبعة عشر او السبت فثلاث وعشرون
-Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 17
– Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 23
– Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29
– Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21
– Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27
– Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 19
– Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 25

👓KEEMPAT, Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif Bandung:
وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله:
وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر .
وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر
. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر
. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري
. ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر .
وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري .
ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشر في ليلة الوتر .
– Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 29
– Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 21
– Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 27
– Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 29
– Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 25
– Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 27
– Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20

BACA JUGA :  Tolak Radikalisme Dengan Agama dan Budaya

Menyetujui kaedah ini, berarti menurut formula atau patokan tersebut, malam Lailatul Qadar pada 1438 Hijriah atau 2017 Masehi ini sesuai dengan keterangan dalam kitab Hasyiah al-Bajury halaman 304, jika awal puasa itu hari Sabtu (27 Mei 2017), insyaAllah Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21 (Kamis malam Jumat/15 Juni 2017 malam). Adapun menurut kitab Hasyiah Jamal, Ianatut Thalibin halaman 257, Hasyiah Ash-Shawi dan Kitab Manaqib Syeh Hasan Asy-Syadzali, maka Lailatul Qadar insyaAllah jatuh pada malam ke-23 (malam Ahad/17 Juni 2017 malam).
Kaedah ini tercantum dalam kitab-kitab para ulama termasuk dalam kitab-kitab fikih bermadzhab Syafi’i (fiqh Syafi’iyyah). Rumus ini teruji dari kebiasaan para ulama’ yang telah menemui Lailatul Qadar. Demikianlah ijtihad Imam Al-Ghazali dan disetujui oleh banyak ulama sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab fikih. Tentang hakikat kepastian kebenarannya, jawaban terbaiknya adalah Wallahu ‘A’lam.

Syaikh Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyuby dalam kitabnya Risalah Nawadirul Hikayah menerangkan, Allah memang sengaja menyamarkan beberapa perkara bagi manusia. Salah satunya adalah malam seribu bulan, lailatul qadar. Ia menafsiri:
وأخفى ليلة القدر في رمضان ليجبهد الناس في إحياء لياله رجاء ان يصادفوها
Dan Allah merahasiakan lailatul qadar di dalam bulan ramadhan supaya manusia bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam-malam ramadhan. Dengan harapan, manusia dapat menjumpai lailatul qadar tersebut. Bukannya Allah itu mengada-ada tentang lailatul qadar, bukan juga Allah hanya ingin memberi harapan palsu bagi hambanya dengan iming-iming lailatul qadar.
Sesuai penjelasan di atas, Allah menyamarkan lailatul qadar tak lain hanyalah agar manusia bersungguh-sungguh di setiap malamnya. Karena jika Allah memberi tahu kapan waktu lailatul qadar, niscaya manusia hanya akan konsentrasi pada malam itu saja. Dan bermalas-malas di malam berikutnya.
Dan walau pun titik pusat konsentrasi qiyam ramadhan dan ibadah kita boleh diarahkan sesuai dengan kaidah tersebut, hendaknya kita terus mencari malam yang penuh kemuliaan itu di malam atau tanggal apa dan mana pun, dan terutama pada malam ganjil, dan terutama pada malam-malam sepuluh akhir, dan terutama lagi pada malam ganjil di sepuluh akhir. Marilah kita bersungguh-sungguh dalam setiap malam ramadhan. Dengan harapan suatu malam nanti saat kita beribadah, bertepatan dengan malam seribu bulan.

5. Tanda-tanda Lailatul Qodar

a. Matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya
Imam Muslim dalam kitab Shahihnya juz I halaman 306,cetakan al Ma’arif Bandung Indonesia. Sanad dan matannya sebagai berikut:
حدثنا محمد بن مهران الرازي حدثنا الوليد بن مسلم حدثنا الأوزاعي حدثني عبدة عن زر قال سمعت أبي بن كعب يقول وقيل له إن عبد الله بن مسعود يقول من قام السنة أصاب ليلة القدر فقال أبي والله الذي لا إله إلا هو إنها لفي رمضان {يحلف ما يستثني] ووالله إني لأعلم أي ليلة هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.
”…….Ubay ibn Ka’b,dia berkata: “… demi Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sungguh malam (Lailatul Qadar) itu ada dalam bulan Ramadhan. Demi A llah aku sungguh tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah oleh Rasulullah SAW untuk beribadah didalamnya, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya”

b. Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan
Imam Ibn Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahihnya juz VIII halaman 106, Sanad dan matannya sebagai berikut:
حدثنا بندار ، حدثني أبو عامر ، حدثنا زمعة ، عن سلمة هو ابن وهرام ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم في ليلة القدر : « ليلة طلقة ، لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة »
“…dari Ibn Abbas,dari Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam, tentang Lailatul Qadar :”Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan”

c. Udara dan angin sekitar terasa tenang.
Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

d. Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar
Ath Thabarani meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin juz IV halaman 309 nomor urut 3389, cetakan ke I tahun 1984-1405, Muassasah al Risalah Beirut meriwayatkan: Sanad dan matannya sebagai berikut:
حدثنا الوليد بن حماد الرملي ثنا سليمان بن عبد الرحمن ثنا بشر بن عون ثنا بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع عن رسول الله قال ( ليلة القدر ( ليلة ) بلجة لا حارة ولا باردة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمى فيها بنجم ومن علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها)
“…Dari Watsilah ibn al Asqa’ dari Rasulillah Shollallaahu ‘alaihi wasallam: (Lailatul Qadar itu adalah) “Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar”

6. Amaliyyah di Malam Lailatul Qodar

Lantas bagaimana yang dimaksud dengan Rasulullah SAW menghidupkan malamnya? Apakah beribadah semalam suntuk sampai pagi? Jawaban yang tersedia adalah Rasulullah SAW tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malam, bukan semalam suntuk sampai pagi. Sebab, ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.
(وَأَحْيَا لَيْلَهُ) أَيْ تَرَكَ النَّوْمَ الَّذِي هُوَ أَخُو الْمَوتِ وَتَعَبَّدَ مُعْظَمَ اللَّيْلِ لَا كُلَّهُ بِقَرِينَةِ خَبَرِ عَائِشَةَ مَا عَلِمْتُهُ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ

Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’” (Lihat, Abdurrauf al-Munawi, Faidlul Qadir, Bairut-Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz V, halaman 168)
Maka dari itu, usahakan beribadah sebanyak mungkin dari awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Bisa jadi satu dari sekian banyak ibadah yang kita kerjakan bertepatan dengan malam penuh kemuliaan itu.
Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan,
من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Siapa yang mendirikan (memperbanyak ibadah) pada malam lailatul qadar atas dasar keimanan dan keikhlasan, maka dosanya diampuni, baik yang berlalu maupun yang akan datang.”
Hadits ini mengisyaratkan kita untuk terus-menerus dan menjaga konsistensi ibadah di bulan Ramadhan karena kita tidak tahu kapan datangnya lailatul qadar.
Adapun Amalan-amalan yang dilakukan:

a. Ibadah, Sedekah, Sholat dan Zakat
وأخرج عبد بن حميد عن أنس قال: العمل في ليلة القدر والصدقة والصلاة والزكاة أفضل من ألف شهر (الدار المنثور – ج 10/ ص. 303)
Anas berkata: “Amal ibadah di malam Lailatul Qadar, sedekah, salat dan zakat adalah lebih utama daripada 1000 bulan” (al-Hafidz asSuyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur 10/303)

b. Sholat Sunnah
عن ابن عباس عن النبي عليه الصلاة والسلام انه قال من صلي في ليلة القدر ركعتين يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب مرة والاخلاص سبع مرات فإذا سلم يقول استغفر اللـه واتوب إليه فلا يقوم من مقامه حتى يغفر الله له ولأبويه ويبعث الله تعالي ملائكة إلى الجنان يغرسون له الاشجار و يبنون القصورو يجرون الانهار ولايخرجون من الدنيا حتى يرى ذلك كله
“Dari Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda :“ barangsiapa yang menjalankan sholat pada malam Lailatul Qadr sebanyak 2 (dua) rokaat , didalam setiap rokaatnya setelah membaca Al Fatihah (1) satu kali , kemudian membaca surat Al-Ikhlas 7 (tujuh) kali dan setelah salam membaca Astaghfirullahal azhiim wa atubu ilaih 70 (tujuh puluh) kali , maka selama dia mendirikannya Allah akan mengampuni dirinya dan kedua orang tuanya dan Allah Ta’ala akan mengutus Malaikat untuk menanam (untuknya) pepohonan di Surga, membangun gedung-gedung dan mengalirkan sungai-sungai didalamnya, dan dia ( orang yg menjalankan sholat Lailatul Qadr ) tidak akan keluar dari dunia sehingga dia pernah melihat seluruhnya.“

BACA JUGA :  Pengajian Ngaji Budaya Tumbuhkan Rasa Toleransi Antar Umat Beragama

c. Shlolat Isya’ dan Shubuh Berjama’ah
أنس رضي الله تعالى عنه: «من صّلى ليلة القدر العشاءَ والفجر في جماعة فقد أخذ من ليلة القدر بالنصيب الوافر».
“Barang siapa sholat Isya’ dan Subuh secara berjama’ah di malam lailatul Qodar, maka baginya akan mendapatkannya secara penuh”

d. Baca Doa لا إله إلا الله الحليمُ الكريمُ، سبحان ربِّ السموات السبع وربِّ العرشِ العظيمِ sebanyak 3 kali
روى ابن عباس مرفوعًا عنه صلى الله تعالى عليه وسلم أنه قال: «من قال لا إله إلا الله الحليمُ الكريمُ، سبحان ربِّ السموات السبع وربِّ العرشِ العظيمِ (ثلاث مرات) كان كمثل من أدرك ليلة القدر»
Nabi bersabda: “Barang siapa yang membaca لا إله إلا الله الحليمُ الكريمُ، سبحان ربِّ السموات السبع وربِّ العرشِ العظيمِ sebanyak tiga (3) kali maka baginya seolah mendapatkan lailatul qodar.”

e. Baca Doa اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
عن عائشة قالت قلت يارسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال ” قولى اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني” قال هذا حديث حسن صحيح (سنن الترمذي – ج 13/ ص. 6)
‘Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu lailatul qadar, do’a apa yang bagus dibaca? Rasul menjawab, ‘Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî,’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku),” (HR Ibnu Majah).

f. Membaca Ayat Kursi
وقال صلى الله تعالى عليه وسلم: «من قرأ آية الكرسي ليلة القدر كان أحبّ إلى الله تعالى من أن يختم القرآن في غيرها من الليالي»
‘Barang siapa membaca ayat kursi di malam lailatul qodar maka Allah lebih menyukainya dari pada mengkhatamkan Al-Qur’an di malam-malam selain lailatul qodar’

g. Baca Doa
Adapun doa yang dibaca di malam lailatul qodar ada dua versi sebagai berikut:
(1) Versi Pertama:
بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين، اللهم صلّ على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. يا حيُّ يا قيّومُ، يا ذا الجلال والإكرام، اللهم تقبّل منّا صيام شهر رمضان على ما كان فيه من تساهُلنا، وإلا بفضلك تفضّل علينا، اللهم اجعله كفّارةً لما سبق من ذنوبنا، وعصمةً فيما بقي من أعمارنا، وارزُقنا أعمالاً صالحةً ترضَى بها عنّا يا ذا الجلال والإكرام. (اللهم) اجعلنا فيه من المقبولين، ولا تجعلنا فيه من المردُودين، ولا من المغضوب عليهم ولا من الضالين (اللهم) تقبله منه، وأعِده علينا أعوامًا بعد أعوام، وسنينَ بعد سنين، مجتمعين غير متفرّقين، راضين غير ساخطين، مغفورًا لنا غير مُذنبين. ربنا تقبل منا إنك حميدٌ مجيدٌ. (اللهم) تقبل منا أعمالنا على ما كان فيه من ضعفنا وتقصيرنا (اللهم) وأشركنا في دُعاء الصالحين، واجعل لنا في دعائهم حظّا ونصيبًا برحمتك يا أرحم الراحمين (اللهم) اجعلنا ممن أجزلتَ لهم ليلة القدر، وجعلتها لهم خيرًا من ألف شهرٍ مع عظيم الأجر وكريم الذُّخر، وما كان فيه من برّ وذِكرٍ وشكرٍ، فتقبّله منا وأحسِن قبولنا، وما كان منا من تفريطٍ وتقصير وتضييع فتجاوز عنّا بسعة رحمتك يا أرحم الراحمين. (اللهم) استجب دعاءنا واسمع فيه نداءنا وقوِّ أبداننا، ولا ترُتدّ أيدينا صِفرًا إلى نحورنا، برحمتك يا أرحم الراحمين. واعتق رقابنا، ورقاب آبائنا وأمهاتنا من النار، واجعلنا من المتقين الأخيار برحمتك يا عزيزُ يا غفّارُ. وهب (اللهم) لنا سوالف الآثام، وتقبّل منا الصلاة والقراءة والصدقة والصيام والقيام، واعصمنا فيما بقي من الأيام، وأحِلّنا برحمتك دار السلام، ولا تُرِنا قبيحًا بعد هذا المقام، واحشُرنا مع الأولياء البررَة الكرام برحمتك يا أرحم الراحمين ﴿ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولا تحمل علينا إصرًا كما حملته على الذين من قبلنا، ربّنا ولا تُحمِّلنا ما لا طاقة لنا به، واعفُ عنّا واغفر لنا وارحمنا، أنت مولانا فانصُرنا على القوم الكافرين﴾ برحمتك يا أرحم الراحمين، والحمد لله رب العالمين، وصلّى الله تعالى على خير خلقه سيدنا ومولانا محمد وآله وصحبه وسلم
(2) Versi Kedua:
بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين، (اللهم) صلّ على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. ثم يقرأ «آية الكرسي» (ثلاثا) ثم «لا إله إلا الله الحليمُ الكريمُ، سبحان الله رب السموات السبع وربّ العرشِ العظيم» (ثلاث مرات). (اللهم) إنك عفوٌّ كريمٌ تُحبّ العفوَ فاعفُ عنّي (ثلاثا). (اللهم) إني أسألك العفوَ والعافية والمعافاة الدائمة في الدين والدنيا والآخرة. (اللهم) أحسن عاقبتنا في الأمور كلها، وأجِرنا من خزي الدنيا وعذاب الأخرة، ﴿ربنا آتنا في الدنيا حسنةً وفي الآخرة حسنةً وقنا عذاب النار﴾ وأدخلنا الجنة مع الأبرار، يا عزيزُ يا غفّار (اللهم) إني أسألك أن تتقبّل منا ما عملناه في هذا الشهر الفضيل من الصلاة والصيام والقيام، وكلِّ فعل جميلٍ، وأن تكفِّر عنا السيئات وتُجزِلَ لنا الحسنات، وتجعل حظّنا فيه موفورًا، وسعينا فيه مشكورًا، وتجعلنا من الموفّقين الذين فرّقوا أوقاتهم فيه مع الإخلاص بين صومٍ وسهرٍ، وهيّأتَ لهم لذيذَ المناجاة بصالح الدعوات بين وسط الليل والسحر، وتجعلنا ممن قام بواجباته وسننه واجتهد في عمارة زمنه، وتخلّص من آفات الصوم وفتنه، وأخلص في سرّه وعلنه، وتب علينا فيه توبةً نصوحًا لا ننقُضُ عقدها أبدًا، واحفظنا في ذلك لنكون من جملة السعدَا. (اللهم) إن لك في كلِّ ليلة من هذا الشهر عُتقاء من النار فاجعلنا من العتقاء، وأدخلنا الجنة مع الأبرار، واجعلنا من العائدين لأمثاله، المقبولين الفائزين بالنبي وآله، صلى الله تعالى وسلم عليه، وزاده فضلاً وشرفًا لديه (إلهي) تعرّض إليك في هذه الليلة المتعرِّضون، وقصدَك وأمّل معرُوفك وفضلك الطالبون، ورغب إلى جودك وكرمك الراغبون، ولك في هذه الليلة نفحاتٌ وعطايا، وجوائزُ ومواهبُ وهبات تمنّ بها على من تشاء من عبادك، وتخصّ بها من أحببته من خلقك، وتمنع وتحرم من لم تسبق له العناية منك، فأسألك يا الله بأحبّ الأسماء إليك، وأكرِم الأنبياء عليك، أن تجعلني ممن سبقت له منك العناية، وتجعلني من أوفر عبادك وأجزِلِ خلقك خظّا ونصيبا، وقسْمًا وهبة وعطيّة في كل خير تقسمه في هذه الليلة، أو فيما بعدها من نور تهدي به أو رحمةٍ تنشرُها، أو رزقٍ تبسُطُه، أو ضرٍّ تكشفُه، أو ذنبٍ تغفره، أو شدّة تدفعها، أو فتنة تصرفها، أو بلاء ترفعه، أو معافاةٍ تمنّ بها، وعدُوٍّ تكفيه، فاكفني كلّ شرٍّ، ووفِّقني (اللهم) لمكارم الأخلاق، وارزُقني العافية والبركة والسعة في الأرزاق وسلّمني من الرِّجز والشرك والنفاق. (اللهم) إنّ لك نسماتِ لُطف إذا هبّت على مريض غفلةٍ شفتهُ، وإن لك نفحات عطف إذا توجهت إلى أسير هوًى أطلقته، وإن لك عنايات إذا لاحظت غريقا في بحر الضلالة أنقذته، وإن لك سعادات إذا أخذت بيد شقيٍّ أسعدته، وإن لك لطائفَ كرم إذا ضاقت الحيلةُ لمذنب وسعته، وإن لك فضائل ونعَمًا إذا تحوَّلت لفاسدٍ أصلحته، وإن لك نظراتِ رحمةٍ إذا نظرتَ بها إلى غافلٍ أيقطته، فهب لي (اللهم) من لُطفك الخفيِّ نسمةً تشفي بها مرضَ غفلتي، وانفَحني من عطفك الوفيّ نفحةً طيبة تُطلقُ بها أسري من وثاقِ شهوتي والحظني واحفظني بعين عنايتك ملاحظةً تُنقذُني بها وتُنجيني بها من بحر الضلالة، وآتني من لدُنك رحمةً في الدنيا والآخرة تبدّلُني بها سعادةً من شقاوةٍ، واسمَع دعائي وعجِّل إجابتي، واقض حاجتي، وعافني، وهب لي من كرمك وجودِك الواسع ما ترزُقني به الإنابة إليك، مع صدق اللجاء وقبول الدعاء، وأهِّلني لقرعِ بابك بالدعاء يا جوّاد، حتى يتصلَ قلبي بما عندك، وتُبَلّغني بها إلى قصدك يا خيرَ مقصودٍ وأكرمَ معبودٍ. ابتهالي وتضرُّعي في طلب معونتك، وأتخذُك يا إلهي مَفزَعًا وملجأ أرفع إليك حاجتي ومطالبي وشكوايَ، وأُبدِي إليك ضُرِّي وأفوّضُ إليك أمري ومناجاتي، وأعتمدُ عليك في جميع أموري وحالاتي. (اللهم) إني وهذه الليلة خلقٌ من خلقك فلا تَبلُني( ) فيها ولا بعدها بسوءٍ ولا مكروهٍ ولا تقدّر عليّ فيها معصيةً ولا زلّةً ولا تثبت عليّ فيها ذنبًا، ولا تَبلُني فيها إلا بالتي هي أحسنُ، ولا تزيّن لي جراءةً على محارمك، ولا رُكونًا إلى معصيتك، ولا ميلاً إلى مخالفتك، ولا تركًا لطاعتك، ولا استخفافًا بحقّك، ولا شكًّا في رزقك، فأسألك (اللهم) نظرة من نظراتك، ورحمةً من رحماتك، وعطيّةً من عطاياك اللطيفة، وارزُقني من فضلك، واكفني شرَّ خلقك، واحفظ عليّ دين الإسلام، وانظر إلينا بعينك التي لا تنام وآتنا في الدنيا حسنةً، وفي الآخرة حسنةً، وقنا عذاب النار (ثلاثا). (اللهم) إني أسألك من خير ما تعلمُ، وأعوذ بك من شرِّ ما تعلم، وأستغفرُك لما تعلم، إنك أنت علاّم الغيوب. (اللهم) إني أسألك من خير ما تعلم وما لا أعلم، وأستغفرك لما أعلم ولما لا أعلم، (اللهم) إن العلمَ عندك وهو عنّا محجوبٌ، ولا نعلمُ أمرًا فنختارُه لأنفسنا وقد فوّضنا إليك أمورنا، ورفعنا إليك حاجاتنا، ورجوناك لفاقاتنا وفقرنا، فأرشدنا يا الله، وثبتنا ووفّقنا إلى أحبّ الأمور إليك وأحمدها لديك، إنك تحكم بما تشاء، وتفعلُ ما تريد، وأنت على كل شيء قديرٌ، ولا حول ولا قوّة إلا بالله العليّ العظيم، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم أجمعين، وسلامٌ على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post