Marak, Pedagang Janur Untuk Kupatan

oleh
Seorang pembeli tengah memilah janur disalah satu lapak pedagang di utara Pasar Bitingan Kudus (foto: ist)

Kudus, isknews.com – Lebaran ketupat atau yang lebih dikenal dengan istilah kupatan memang hanya di peringati oleh sejumlah wilayah di kawasan Pantura Timur pulau Jawa dan beberapa wilayah di Nusantara. Lebaran ketupat adalah sepekan sesudah Idul Fitri atau pada tanggal 8 Syawal.

Pada lebaran idul fitri dan lebaran ketupat, masyarakat umumnya membuat ketupat. Ketupat adalah jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong yang kemudian dimasak dalam waktu lama.

Setelah masak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Lebaran ketupat akan berlangsung Rabu besok. Namun, puluhan penjual janur musiman sudah mulai bermunculan di sejumlah pasar tradisional di Kudus.

Berdasarkan pengamatan media ini di Pasar Bitingan Kudus, Minggu (9/6). Nampak puluhan pedagang janur yang telah memadati trotoar di sisi utara Pasar Bitingan.

TRENDING :  Kirab Budaya Warnai Hut Ceragem

Janur-janur ini ditawarkan dengan harga yang sangat bervariasi. Dari harga Rp. 3.000 – 6.000 perikat isi 10 lembar janur. Tak hanya lembaran janur, di tempat tersebut juga menjual janur yang telah berbentuk kupat dan lepet.

“Kupatnya Rp. 5.000 sampai Rp. 8.000 perikat isi 10 pcs. Kalau lepetnya Rp. 4.000 sampai Rp. 6.000 perikatnya. Harga tergantung kualitas janurnya,” ujar Sumadi, penjual janur asal Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan Kebupaten Jepara.

Selain itu, tutus (serutan bambu untuk pengikat lepet – red) dan kelapa juga tersedia disana. Untuk tutus hanya dibandrol dengan harga Rp. 1.000 perikatnya. Sedangkan kepala dijual dengan harga Rp. 5.000 – 10.000 perbiji.

Sumadi mengungkapkan, dirinya telah berjualan janur di Pasar Bitingan mulai hari Jumat (7/6) lalu. Janur-janur tersebut didapatkannya dari perkebulan kelapa di daerah Bangsri Jepara.

TRENDING :  Puluhan Artis Mural Jalanan Ekspresikan Karyanya Pada Lomba Lukis Mural Yang Digelar KPU Dan PWI

“Pasokannya ini masih cukup banyak. Nanti pada H-1 biasanya pasokannya mulai menipis,” kata pria paruh baya yang telah bertahun-tahun menjadi penjual janur musiman itu.

Sumadi mengatakan harga janur biasanya akan mengalami kenaikan pada H-1 tradisi kupatan atau H+6 lebaran. Minimnya pasokan janur membuat harga jual janur melambung. Selain itu, karakteristik janur mudah layu membuat Sumadi tidak dapat menyetok kebutuhan janur untuk H-1 kupatan nanti.

“Janur ini tahan paling lama 2 hari. Setelah itu akan layu dan tidak layak digunakan membuat ketupat. Kalau sudah layu, janur-janur itu kami buang dan digantikan dengan yang baru. Karena itu harganya bisa berubah-ubah setiap saat tergantung pasokan janur di lahan kelapa sawit banyak atau sedikit,” pungkasnya.

TRENDING :  Sewa Lahan Pribadi Panitia Kupatan Bulusan Tidak Terima Kontribusi Wahana Permainan Anak

Dina Khanifa, salah satu pembeli yang media ini temui tengah membeli janur di lokasi itu mengungkapkan, bahwa dirinya memilih membeli janur jauh-jauh hari lantaran kualitasnya masih cukup bagus dan harganya terjangkau.

“Biasanya H-1 kualitas janurnya udah jelek-jelek. Harganya juga cukup mahal,” ujar wanita 27 tahun asal Desa Wergu Kulon tersebut.

Menurutnya, kupatan merupakan suatu tradisi yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Kudus. Sehingga rasanya tidak lengkap jika merayakan kupatan tanpa adanya sajian ketupat atau lepet.

Mengingat, kupatan merupakan sebuah tradisi perayaan masyarakat yang menjalani ibadah puasa sunnah pada H+1 hingga H+7 lebaran. Pada kupatan, biasanya masyarakat menyajikan ketupat yang dipadukan dengan sajian opor ayam, sambel goreng ati dan sayur lodeh. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :