Masih Dilestarikan, Berikut Istimewanya Jam Bencet Untuk Lihat Waktu Sholat

oleh
Foto: Sejumlah santri saat menentukan waktu shalat zhuhur di depan Menara Kudus,dengan metode Jam Bencet. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Bagi umat Islam, shalat memang merupakan ibadah yang perlu segera dikerjakan jika sudah waktunya tiba. Untuk mengetahui waktu datangnya sholat ini, seseorang bisa mengandalkan sebuah jam.

Namun sebelum ditemukan teknologi mesin jam, atau setidaknya sebelum masyarakat Indonesia mengenal jam, masyarakat di nusantara menggunakan metode jam Matahari melalui sebuah teknologi kuno yang diberi nama jam bencet atau sundial. Jam Bancet merupakan instrumen falak yang sederhana tetapi sangat ”berisi”.

Jam bancet sendiri juga dikenal dengan nama jam istiwak, yakni waktu di mana matahari tepat berada di titik tertinggi dan waktu salat dzuhur adalah sesaat setelah istiwak atau sesaat setelah matahari berada di titik tertinggi atau sudah mulai condong ke barat. Karena itulah, jam matahari dikenal dengan nama jam istiwak dan dalam bahasa Jawa disebut jam bencet.

TRENDING :  80 sak Pupuk Bersubsidi Tak Dilengkapi Surat Diamankan Polres Kudus

Banyak Kalangan pesantren atau madrasah salaf memanfaatkan jam bencet untuk mengetahui tibanya waktu shalat dan pembelajaran suatu disiplin ilmu, tak terkecuali di Madrasah Taswiqutullab Salafiyah (TBS) Kudus yang saat ini terdapat tingkatan Ma’had Aly program studi Ilmu Falak (setara S1).

Foto: Algoritma matematika sundial atau jam istiwa’ dalam menentukan panjang bayangan pada awal waktu sholat dhuhur dan Ashar dengan panjang tongkat 7 cm, dan jarak garis warna putih, hijau, orange, dan kuning adalah sama (diasumsikan). (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Ahmad Faiz, Mudir Ma’had Aly TBS kudus mengatakan, Dalam sejarah, Jam Bencet atau jam Matahari merupakan jam tertua dalam peradaban manusia.

Sementara sundial atau jam matahari merupakan jam tertua dalam peradaban manusia. Jam ini telah dikenal sejak tahun 3500 SM. Pembuatan jam matahari di dunia islam dilakukan oleh ibnu al-Shatir, seorang ahli Astronomi Muslim (1304-1375 M). “ibnu al-Shatir merakit jam matahari yang bagus sekali untuk menara Masjid Umayyah di Damaskus,“ ujar David A King dalam karyanya berjudul The Astronomy of the Mamluks.

TRENDING :  Lagi...Torehkan Prestasi MA.Yanbuul Quran Sabet Golden Tiket ke 6 Negara ASEAN

Dikatakan Faiz, Bencet adalah alat tradisional penunjuk waktu portabel yang mengandalkan pergerakan sinar matahari. “Karena dimanfaatkan pada saat matahari bersinar, maka alat ini hanya bisa membantu menentukan waktu shalat zhuhur dan ashar,” jelasnya.

Ditambahkan, Secara tradisional, dua waktu ini memang ditentukan berdasarkan bayangan matahari. Sedangkan penentuan waktu shalat maghrib, isya’, dan subuh dilakukan dengan melihat ufuk barat dan ufuk timur.

TRENDING :  Bupati Kudus,"Jangan berhenti mengabdi untuk kabupaten Kudus"

Dalam referensi lain, lanjutnya, perkembangan sejarah teknologi, sundial merupakan instrumen pengamatan yang sudah dikenal manusia sejak zaman Babilonia (antara 2000 1000 tahun sebelum Masehi) dan mungkin lebih lama lagi, kemudian berlanjut ke zaman Yunani Kuno (beberapa ratus tahun sebelum Masehi) seperti Thales (600 SM), Meton (430 SM) dan calippos (4 abad SM).

Prinsip kerja jam ini yaitu dengan menunjuk berdasarkan letak Matahari dengan cara melihat bayangan Matahari. Di Indonesia, jam matahari biasanya dibuat dari tongkat atau semen serta sejenisnya dan ditempatkan di daerah terbuka agar mudah terkena sinar matahari. (AJ/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :