Masyarakat Colo Masih Lestarikan Kearifan Lokal Tradisi Guyang Cekhatak

Masyarakat Colo Masih Lestarikan Kearifan Lokal Tradisi Guyang Cekhatak

Kudus, isknews.com – Acara tradisi Ngguyang cekathak yang berlangsung hari ini Jum’at (16/9) jam 06.30 pagi sampai selesai ini diikuti Masyarakat Colo, para peziarah, Pedagang, tokoh masyarakat dan Sebagian ojek colo muria.

img-20160916-wa0016

Shokib, juru kunci makam sunan muria kepada Isknews.com menjelaskan bahwa tradisi ini dilakukan ketika memasuki musim kemarau atau mangsa ketiga, warga yang tinggal di daerah sekitar lereng pegunungan Muria menggelar Tradisi Guyang Cekhatak. Tradisi itu dilakukan menurut perhitungan Jawa, yaitu mangsa ketiga dimulai pada 25 Agustus sampai dengan 24 september.

Untuk upacara tradisi ini, lanjut shokib, biasanya dilakukan pada hari Jumu’ah Wage bulan September, atau yang penting pada hari Jum’at Wage mongso ketigo. Dimana Guyang Cekathak merupakan ritual memohon agar turun hujan. Tradisi ini juga termasuk salah satu kearifan lokal untuk melestarikan alam di kawasan lereng Gunung Muria.

BACA JUGA :  Kesbangpol Kab. Pati adakan Seminar di aula Bakorwil Pati

Guyang atau lebih mudah diucapkan ngguyang yang berarti memandikan, dan Cekathak sendiri disini merupakan pelana kuda yang terbuat dari kayu. Tradisi ini mulanya sudah dilakukan rutin pada masa Sunan Muria dulu.

Shokib menambahkan, Rangkaian acara Guyang Cekathak ini dilakukan oleh warga sekitar Muria. Dengan dibawanya Cekathak dari komplek Masjid Muria menuju mata air Sendang Rejoso. Yang nantinya Cekathak (pelana kuda) tadi akan dimandikan disana. Menurut cerita turun temurun orang-orang disana, Sendang Rejoso merupakan tempat wudhu Sunan Muria, karena lokasinya yang memang tidak jauh dari sana.
Tradisi ini semula dilakukan untuk mengajak masyarakat sekitar Gunung Muria untuk melestarikan sumber air yang berada di kawasan Muria.”imbuhnya.

BACA JUGA :  Alun-alun Kota Pati banyak di jumpai jasa penukaran uang untuk WISET.

Setelah dimandikan, air Sendang Rejoso kemudian dipercik-percikkan kepada warga sebagai ungkapan kebahagiaan bahwa Sendang yang menopang hidup Sunan Muria dan masyarakat sekitarnya masih tetap memancarkan air. Setelah prosesi pemandian usai, dilanjutkan dengan selamatan do’a bersama dan makan bersama dengan makanan khas daerah Muria, yaitu sayur-mayur yang dipadu dengan parutan kelapa, opor ayam, dan juga gulai kambing. Diakhir acara, secara bersama warga meminum dawet khas Kudus yang melambangkan harapan warga agar segera turu hujan.”pungkasnya.(AS)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post