Mayoritas Pelajar Jawa Tengah Belum Paham Pemilu

oleh

Kudus, isknews.com – Yayasan Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) belum lama ini melakukan survey kepada pelajar Jawa Tengah tentang “Wawasan Kebangsaan dan Pemilu”.

“Survey dilakukan dalam durasi waktu 9 hari mulai tanggal 19 s/d 27 Desember 2017 dengan menyodorkan beberapa pertanyaan,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Time atau Penanggung Jawab Survey, Saekan Muchit, dalam siaran pers yang diterima isknews.com Senin (1/1/2018).

Pertanyaan tersebut dikirim langsung ke masing masing HP/Whatsapp (WA) para pelajar SLTA Jawa tengah yang tersebar di 16 Kabupaten yaitu Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Demak, Kota Semarang, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Tegal, Kota Salatiga, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Magelang.

Dikatakan Saekan, Kreteria Pelajar dalam survey ini adalah seluruh pelajar yang masih mengenyam pendidikan dibangku sekolah menengah (SMA/MA/ SMK), yang sekarang berada kelas XI, dan XII. “Dalam konteks pemilu mereka termasuk kategori pemilih pemula karena saat sekarang pada usia antara 16-17 tahun,” jelasnya

Sebanyak 483 responden yang semuanya adalah pelajar telah memberikan respon atas beberapa pertanyaan yang diberikan tim survey. Satu diantaranya adalah pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana pelajar Jawa Tengah memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pemilihan umum dan juga pemilukada serentak di tahun 2018.

TRENDING :  Jawa Tengah Menjadi Garda Depan Lawan Radikalisme

Lebih lanjut, Pertanyaan tersebut di dasarkan asumsi, bahwa pelajar yang notabenenya sebagai calon pemilih pemula bisa menjadi modal besar untuk mengetahui barometer keberhasilan pelaksanaan pemilu di Jawa Tengah khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pelajar yang juga sebagai generasi muda harus di libatkan secara aktif dalam proses demokrasi melalui pelaksanaan pemilihan umum.

Pelajar dan juga sebagai pemilih pemula dapat dikatakan sebagai calon pemimpin bangsa harus mengetahui secara detail dan utuh tentang pelaksanaan pemilu yang juga sebagai sarana perwujudan demokrasi. Semakin banyak masyarakat mengetahui secara detail tentang pemilu maka ada peluang besar untuk mewujudkan iklim demokrasi bagi bangsa Indonesia.

Terhadap pertanyaan, Mana yang yang anda pilih (A) Saya Sudah Memahami pemilu atau Pilkada serentak tahun 2018 (B) Saya belum memahami pemilu atau Pilkada serentak 2018.

Pelajar memberikan respon atau jawaban A yaitu sudah memahami pemilu dan pilkada serentak, sebanyak 80 pelajar (17 %). Sedangkan yang menjawab B yaitu saya belum memahami pemilu dan pilkada serentak sebanyak 403 (83%).

Berdasarkan hasil survey tersebut, lanjut Saekan, diperoleh data bahwa mayoritas ( 83 %) pelajar di Jawa Tengah belum memahami tentang pemilu dan juga pemilukada serentak tahun 2018. “Data ini patut menjadi keprihatinan berbagai pihak, bahwa pelajar yang belum mengetahui dan memahami pemilu masih sangat tinggi,” ungkapnya.

TRENDING :  Taruna Bhakti Krandon Kudus Lakukan ini Saat Peringati HUT RI ke-73

Faktor tingginya ketidak pahaman pelajar terhadap pemilu setidaknya oleh dua hal, pertama, akibat acuh tak acuhnya pelajar terhadap pemilu. Sehingga para pelajar tidak memiliki kepedulian terhadap hal hal yang berkaitan dengan pemilu. kedua, faktor kurang optimalnya sosialisasi yang dilaksanakan lembaga yang memiliki kewenangan menyelenggarakan pemilu.

Lembaga yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai dari tingkat pusat sampai tingkat kabupaten. Sedangkan lembaga yang memiliki tugas melakukan pengawasan pelaksanaan pemilu yang luber dan jurdil adalah Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu.

Terhadap hasil survey yang menjelaskan mayoritas pelajar di jawa tengah belum mengetahui dan memahami pemilu, maka Yayasan Time sebagai pelaksana survey memberikan saran atau rekomendasi kepada KPU dan Bawaslu harus meningkatkan sosialisasi pemilu secara tepat, utuh dan mendalam (detail) mulai dari tahapan awal sampai tahapan yang paling akhir. begitu juga bawaslu harus juga melakukan sosialisasi secara optimal tentang mekanisme cara cara melakukan pengawasan dan cara melaporkan jika diketahui ada pelanggaran dari peserta pemilu. Esensi sosialisasi adalah menumbuhkan kesadaran kepada pelajar, Kesadaran manusia akan dibangun melalui tiga tahap:

TRENDING :  Kudus Raih Juara 2 Lomba Gerak Jalan Se-Jateng

Pertama, Tahap pengenalan yaitu kesadaran pelajar terhadap pemilu akan tumbuh jika mengetahui atau mengenal suatu obyek. Semakin banyak obyek yang dikenal maka akan mudah menimbulkan kesadaran. Pengenalan terhadap proses pemilu akan menjadi awal untuk membangun kesadaran yang baik bagi pelajar di Jawa Tengah.

Kedua, Tahap pemahaman, yaitu proses mengetahui secara detail dan mendalam terhadap suatu obyek. Pemahaman akan muncul jika pelajar itu mengetahui secara rinci dari aspek aspek yang ada di dalam suatu obyek. Pelajar Jawa Tengah akan memahami Pilkada jika ada proses pengenalan secara detail dari berbagai tahapan dan problematika yang mungkin terjadi dalam proses pilkada. Elemen yang terkait dengan penyelenggara pemilu harus menyampaikan informasi secara utuh dan detail dari pemilu, mulai dari proses yang dilakukan, regulasi yang dijadikan dasar pelaksanaan sampai dengan berbagai potensi yang mungkin terjadi dalam proses pemilu.

Ketiga, Tahap keikut sertaan. kesadaran akan tumbuh semakin besar jika pelajar dilibatkan secara langsung dalam suatu peristiwa. Kesadaran pelajar Jawa Tengah terhadap proses pemilu akan semakin besar jika dilibatkan secara langsung dalam proses pemilu, seperti dilibatkan dalam proses sosialisasi, proses pengawasan dan pelaporan. (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :