Menanti Kiprah Mahasiswa Sebagai Agen Kontrol Sosial

oleh
ISKNEWS.COM

Kudus, ISKNEWS.COM – Peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang salah satunya sebagai kontrol sosial, belakangan seolah mulai mengalami degradasi. Suara lantang para mahasiswa yang biasanya menggema dalam setiap kebijakan yang tidak pro rakyat, kini tak seramai dulu ketika awal reformasi.

Tak hanya itu, toleransi agama di negeri yang kaya akan suku dan kebudayaan juga mulai luntur. Fakta tersebut menuntut mahasiswa tampil berdasarkan fungsinya sebagai kontrol sosial. Supaya di Indonesia kembali saling menghargai, tak ada diskriminasi SARA.

Menyikapi isu-isu tersebut menggerakkan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) menggelar seminar kebangsaan yang bertema “Revitalisasi peran mahasiswa sebagai agen kontrol sosial untuk menuju Indonesia lebih toleran”.

TRENDING :  Kakan Kesbangpol Kudus : Tak Ada Toleransi “Money Politik” Dalam Pemilu

ISKNEWS.COM

Bertempat di aula Kantor Dinas PUPR Kudus, Selasa (14/11/2017), seminar yang dihadiri 50 mahasiswa ini menghadirkan narasumber Kepala Kesbangpol Kudus Eko Hari Djatmiko. Turut hadir mendampingi Kasi Ekonomi, Seni Budaya, dan PAKEM, Abu Bakar

Ketua HMI Kudus Khoirul Abidin mengatakan, tujuan dilaksanakan seminar ini untuk menyadarkan mahasiswa yang berperan dalam kontrol sosial. Di mana sebagai penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin di masa depan, sangat diperlukan diskusi semacam ini.

Revitalisasi peran mahasiswa, lanjutnya, sebagai agen kontrol sosial untuk menuju Indonesia lebih toleran sangat diperlukan demi tujuan kemajuan bangsa.

“Sudah saatnya mahasiswa kembali kepada fungsinya. Bukan hanya kuliah pulang, namun juga harus memberikan kontribusi dalam kehidupan bangsa,” ujarnya.

TRENDING :  Danramil Wonosalam Serahkan Bantuan Jamban Kepada Warga Miskin

Sementara itu Kepala Kesbangpol Kudus Eko Hari Djatmiko dalam pemaparannya mengapresiasi kegiatan seminar dari HMI Kudus. Dia menilai tujuannya sangat mulia agar lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Khususnya di jajaran HMI Kudus sebagai awal dari mahasiswa lain.

Eko mengajak peserta seminar menjaga suasana Kudus yang kondusif dan selalu kondusif. “Jangan sampai ada kegaduhan yang mengancam suasana keamanan di Kudus,” pesannya.

Diungkapkannya, agama menolak kekerasan, kebencian, teror dan diskriminasi. Agama juga sangatengedepankan toleransi, solidaritas, maupun persaudaraan.

Terkait dengan persatuan dan kesatuan bangsa, Kesbangpol Kudus telah melaksanakan sosialisasi wawasan kebangsaan, bela negara, nasionalisme dan nilai luhur Pancasila yang harus dipahami dan hayati bersama.

TRENDING :  Puluhan Anak Yatim dan Dhuafa Terima Santunan

Di Kudus telah terbentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang tugasnya berkaitan dengan kerukunan umat beragama. Bahkan di kota yang sudah dikenal toleransinya sejak dulu juga sangat hangat kepada penganut aliran kepercayaan masyarakat.

Didukung dengan dikeluarkannya surat edaran Menteri Dalam Negeri, yang menerima permintaan agar aliran kepercayaan dicantumkam dalam kolom agama di KTP semakin menguatkan toleransi yang ada.

“Intinya peran mahasiswa sebagai agen kontrol sosial semakin mudah dengan adanya dukungan pemerintah. Kalau masih tidak ada tindakan hari ini kapan lagi? Mari beegerak,” seru Eko mengajak mahasiswa. (MK)

KOMENTAR SEDULUR ISK :