Mengharukan, Mbah Waginah Berjualan Rempeyek Hanya Untuk Membeli Beras

Mengharukan, Mbah Waginah Berjualan Rempeyek Hanya Untuk Membeli Beras

 Kudus,isknews.Com – Dalam perjalanan ke sekolah mataku tertumbuk pada sosok wanita tua berumur 70 tahun , Dia berjalan seorang diri melewati sawah dan ladang turut desa Margorejo, Dawe Kudus. Nenek tersebut berjalan tanpa alas kaki dan menentang tas yang berisi peyek kacang.

Ketika kusapa beliau dan dia menoleh tersenyum. Beliau adalah mbah waginah penjual peyek kacang yang sering menjajakan dagangan di sekolahku. Tidak kubayangkan betapa capeknya berjalan kaki 4 kilometer bolak balik hanya untuk menjual beberapa plastic rempeyek kacang seharga 5 ribu per plastik. Mungkin karena ini jugalah mbah Waginah tampak masih sehat di usia yang sudah renta.

Pikiranku melayang pada pertemuanku beberapa minggu yang lalu, ketika beliau menjajakan dagangan ke kantorku. “Pak, tumbasi peyek kacang, gorengannya garing pak, enak.”
 

BACA JUGA :  Lakukan Testimoni, WavesTones 2016 Banjir Dukungan

Pada saat itu perutku masih kenyang sehabis sarapan pagi, namun aku tak tega melihatnya karena kulihat dagangannya masih banyak. Kuputuskan untuk memberi uang tanpa mengambil rempeyeknya.

”ini mbah buat mbah, ambil saja, aku masih kenyang mbah.” Kataku sambil mataku kembali kepada laptopku. Namun kudengar suara tua dengan tegas berkata” Nuwun suwun pak, saya bukan pengemis. Walau aku orang gak punya dan sudah tua, aku mencari nafkah sendiri.” Mak jleb, Kata katanya membuat aku sontak tertegun dan kualihat wajah mbah parni yang sudah keriput itu. 

Tak habis pikir akhirnya aku mengeluarkan uang lagi sambil berkata dengan sedikit memaksa ” yo wes mbah, aku beli satu bungkus, tapi saya tambahin buat tambahan ongkose mbah.” Dia menatapku sambil mengucapkan terima kasih dan berkomat kamit mendoakanku supaya tambah sehat dan tambah rejeki berulang ulang. ( ini yang membuat teman di depan saya ikut nambahi uangnya, supaya didoain cepet jodohnya…) “ matur nuwun pak, memang saat ini mbah lagi butuh uang untuk beli beras.

BACA JUGA :  Sedotan, Limbah Rotan Yang Menghasilkan

 Saya ndak punya anak, sebatang kara. Saudara sudah tidak peduli lagi karena sudah mikir keluarga mereka sendiri. Aku harus menghidupi saya sendiri dengan membuat keripik dan menjualnya. 

Hari ini beras saya sudah habis tetapi saya tidak mau menghiba orang lain.  Saya tidak pingin merepotkan orang lain di sisa hidup saya.

Ya Allah, saya terharu dan malu pada diriku sendiri. Kadang aku cepat sekali mengeluh jika saya tidak punya duit, sedangkan ada di sana wanita tua yang lebih kekurangan dariku tetapi tetap bersemangat kerja. Aku terkesan dengan semangat hidup mbah parni untuk menaklukan kerasnya hidup ini. 

Ketika kuberikan uang nya kau rasakan tangannya yang kasar, menggambarkan betapa dia adalah pekerja keras. “ Mbah saya yang matur nuwun, mbah memberi saya banyak pelajaran hidup.” Ku tatap kepergiannya dari sisiku kembali menawarkan kepada guru lainnya. 

BACA JUGA :  Pande Besi Hadipolo Kudus

Mbah Waginah mungkin bagi sebagian orang kehadirannya mengganggu, bahkan ada yang menatap jijik dengan bau keringatnya yang kurang sedap. Tetapi bagiku mbah Waginah adalah sosok yang istimewa di jaman sekarang. Beliau juga memberi kepada saya banyak pelajaran hidup untuk tidak cepat menyerah dengan keadaan.
Penulis : Iwan Nurdi Zm

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post