Menguak Sejarah Nyi Roro Suli gadis cantik asal Sarirejo Kemiri yang Menjalin Kisah Cinta Dengan Baron Sekeber Pendekar tangguh dari Sepanyol.

Pati,Isknews.com Lintas Pati – Roro suli ialah gadis cantik asal Desa Sarirejo Kemiri yang mengisahkan sejarah heboh di Kabupaten Pati karena kisah asmaranya dengan pendekar tangguh asal sepanyol Baron sekeber. Makam Roro suli yang berada di Desa Sarirejo Kemiri tepatnya di depan komlek genuk Kemiri  Pendopo lama Kabupaten Pati ini biaya disebut warga Desa Kemiri dengan nama makam Nyi Roro suli. 

Berdasarkan crita dari para sesepoh Desa Sarirejo Kemiri Nyi Roro adalah seorang gadis cantik yang menjalin asamara dengan pendekar tangguh yang berasal dari Sepanyol yang bernama Baron sekeber, perkenalan mereka bermula saat Baron Sekeber datang ketanah jawa yang dikenal banyak berbagai macam rempah-rempahnya, Pada waktu itu Baron Sekeber sebelum sampai di Wilayah Kabupaten Pati terlebih dahulu ia berada diwilayah Jawa bagian Selatan berdasarkan cerita ada di wilayah kerajaan mataram, selanjutnya saat Baron Sekeber terlibat perselian hebat dengan Raja mataram hingga adu tanding Raja mataram tidak mampu mengalahkan Baron Sekeber. Karena Raja mataram tau bahwa ia tak akan mampu mengalahkan Baron Sekeber kemudian ia memberiakan tempat di wilayah Kabupaten Pati tepatnya di pegunungan Pati Ayam, alasan Raja Mataram memberikan tempat di wilayah Pegunungan Pati Ayam supaya Baron Sekeber jika membuat kerusuhan dapat berhadapan langsung dengan pengusa Kabupaten Pati Joyo Kusumo yang dikenal mempunyai kesaktian yang hebat.

kemudian Baron Sekeber tinggal di hutan  Pati ayam daripada bergaul dengan masyarakat, karena penduduk masih menatap curiga terhadap Baron. Meskipun demikian Baron sering turun gunung untuk melihat-lihat keadaan Kota Pati. dia berkeliling desa,

BACA JUGA :  Penebas Pohon Mangga Tewas Diatas Pohon Tersengat Listrik

Pada suatu ketika Baron Sekeber bertemu dengan seorang gadis yang bernama Roro Suli, ia langsung jatuh hati. Roro Suli adalah seorang gadis pendiam dari Desa Kemiri. Dia termasuk Gadis desa yang tidak laku rabi (kawin), kebanyakan gadis seusianya sudah berumah tangga. Baron Sekeber pun berkenalan dengan Roro Suli. Hanya gadis itulah yang mau berkomunikasi dengan Baron Sekeber, sehingga sangat akrab dan roro Suli mengajarinya Bahasa Jawa.
Sewaktu Roro Suli sedang berada di sungai, diketahui oleh Baron Sekeber, ia mendekati Rara Suli untuk diajak berhubungan intim layaknya suami istri. (diajak senang-senang, asyik-asyikan). Hal ini dilakukan berulang kali, akhirnya ada penduduk yang mencurigai glagat tersebut. Kemudian masyarakat setempat sepakat untuk menyelidiki Isyu tersebut.
Penduduk setempat pagi-pagi betul sudah berada di pinggir kali menanti kedatangan Roro Suli yang sedang mandi, selang beberapa detik kemudian menit kemudian datanglah Baron Sekeber keluar dan menemui Rara Suli yang sedang mencuci pakaiannya. Roro Suli melepaskan pakaiannya kemudian mandi bersama di dalam sungai. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, kelakuan mereka diketahui oleh masyarakat setempat dan petinggi Kemiri, mereka berdua ditangkap dan dilaporkan kepada Adipati Pati Joyo Kusumo.
Baron Sekeber bertemu dengan Jaya Kusumo, terjadilah Perang tanding, namun keduanya sama saktinya, keduanya tidak ada yang menang dan yang kalah. Kemudian Baron Sekeber pamit minta waktu selama 40 hari, ia kembali ke pasangrahannya dan mempersiapkan ilmu kanuragaan untuk melanjutkan lagi pertempuran ditempat itu juga.
Jaya Kusumo kalah dan ia mohon diri untuk kemudian pergi berguru di Padepokan Kunduruan Gunung Muria. Jaya Kusumo mengeluh pada gurunya, ia mengatakan pertempurannya dengan Baron Sekeber, kalah dalam pertandingan itu. Akhirnya ia minta bantuan kepada Bapa angkatnya, yang berdomisili di Kunduran menjawab
Joyo Kusumo kamu gak bisa menang, sama baron Sekeber kalau tidak saya Bantu
iya, Saya harus gimana?
Besuk saya tak buat mendung biar dia bosan, kemudian ajak lomba slulup lama didalam air, pasti dia tidak kuat, sedangkan kamu sudah saya buatkan gua untuk sembunyi dan bernafas.” Akhirnya keduanya bertemu untuk mengadakan lomba slulup, Joyo Kusumo telah berbuat curang. Baron Sekeber kalah, kemudian ia menjadi abdi Kadipaten Pati sebagai pengurus kuda Joyo Kusumo.
Kemudian Roro Suli yang pada saat itu sedang hamil karena buah percintaannya dengan Baron Sekeber melahirkan dua anak, diberi nama Serwenda dan Janurwenda. Kejadian itu dilaporkan oleh petinggi Kemiri kalau ada wanita melahirkan tapi tidak punya suami. Roro Suli dibawa kekadipaten dan dihadapkan pada Bupati Pati untuk dimintai keterangan, stelah tiba dihadapan Bupati, nggak tahunya Bupati tertarik dengan Roro Suli.
Adipati Joyo Kusumo berhasil mengalahkan Baron, ia ingin melaporkan dan mengucapkan banyak terima kasih pada Eyang Kundurun, Joyo Kusumo menghadap ke Eyang Kunduruan dengan membawa kedua anak Roro Suli sebagai teman diperjalanan.
Sesampai di Kenduruan, kedua bocah itu tadi saling bermain sepuas hatinya, akhirnya dua bocah tadi masuk dalam padasan/tempat air wudhu. Saat bapa Kanduruan hendak mengambil air wudhu, kaget kok ada bocah bisa masuk dalam padasannya dua orang lagi. Lalu kedua bocah tadi disuruh keluar. Joyo Kusumo ditanyai
Ini anaknya siapa?
Joyo Kusumo mengangguk bahwa Janurwendo dan Sirwendo adalah anaknya dengan Roro Suli, kemudian ia menceritakan kepada Eyang Kunduruan tentang pertemuannya dengan Roro Suli.
Bukan ini tidak anakmu, ini anak Roro Suli dengan Baron Sekeber” Joyo Kusumo dibisiki bahwa kedua anak ini berbahaya bila hidup di Kadipaten akan merorong kewibawaan Joyo Kusumo. Mereka memiliki kesaktian yang diturunkan bapaknya.
Mendengar cerita itu Joyo Kusumo menjadi bimbang, kemudian ia mau menguji kesetian kedua anaknya, dengan pura-pura tidur, sebelumnya ia berpesan agar ketika dia tidur jangan sampai ada nyamuk yang menggigitku.
Joyo Kusumo tidur ditunggui kedua anak tersebut, Janurwendo membuat panah dari batang daun padi untuk memanah nyamuk. Keahlian memanah yang diajarkan oleh Baron Sekeber. Sehingga tepat sekali dalam mebidik sasarannya. Setelah Jaya Kusumo bangun heranlah dia,
lho kok banyak nyamuk yang mati kena panah Padi, siapa yang memanahnya?
Saya Romo” jawab Janurwendo, Joyo Kusumo teringat pesan Bapa Kunduruan, kalau bocah ini bakal dapat merorong kewibawaanya, terus berpikir bagaimana caranya kedua anak ini mati. Lalu kedua anak ini dikejar-kejar, lama-lama bertambah besar dan trengginas kedua bocah tadi. Bapa Penjalingan, patihnya Joyo Kusumo lalu mencolot mak Blebet, maka desa itu dinamakan Bleber. Janurwendo dikejar dan dikenai senjata Jiglog. Maka menjadi desa Jiglog. Kemudian patih Penjalingan melapor pada Adipati Joyo Kusumo kalau keadaan sudah aman.

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post