Moda Wisata di Terminal Bakalan Krapyak, Becak Paling Sering Melanggar

oleh

Kudus, isknews.com – Dari semua jenis model angkutan (moda) wisata di Masjid Menara Kudus maupun Terminal Wisata Bakalan Krapyak (TWBK) di Kabupaten Kudus, moda becak ditengarai yang sering melanggar. Pelanggaran itu terkait dengan kesepakatan jumlah penumpang atau peziarah yang menggunakan moda wisata tersebut. Selain becak, moda wisata yang beroperasi melayani peziarah Walisongo singgah di Kudus, adalah ojek sepeda motor, angkutan pedesaan, kereta mini dan dokar.


Kepala TWBK, Wiliyanto, yang dihubungi isknews.com, di ruang kerjanya, belum lama ini, mengtakan hal itu. Menurut dia, angkutan becak wisata yang setiap harinya beroperasi di TWBK, dalam rangka menciptakan kenyamanan dan keselamatan penumpang, khususnya peziarah, jumlah penumpang yang diangkut sesuai kapasitas tempat duduk, dibatasi hanya dua orang. “Ongkos untuk penumpang becak wisata ini juga sudah ditentukan, Rp 8000 per orang. Jadi sekali menarik becaknya, penghasilan tukang becak Rp 16.000.”


Namun dalam kenyataannya di lapangan, ungkapnya lanjut, tidak sedikit dari becak wisata yang jumlahnya sekitar 250 unit, melakukan pelanggaran dari kesepakatan di atas. Hal itu bisa dilihat adanya becak yang mengangkut lebih dari lebih dari dua peziarah, atau tiga orang. Entah itu atas permintaan tukang becak atau kemauan peziarah, hal itu bukan tidak mungkin akan menimbulkan kejadian yang tidak diharapkan, akibat becak yang kelebihan beban. Masih ditambah dengan tukang becak yang cenderung ngebut. “Petugas kami sudah beberapa kali mengingatkan, akan tetapi kalau mengawasi dilapangan, jumlah personil Dishub yang ditempatkan di TWBK, terbatas.”


Pada saat liburan sekolah kemarin, jumlah peziarah Walisongo yang datang dan singgah di TWBK, mencapai ribuan orang, dilihat dari jumlah bus wisata yang tidak kurang dari 100 unit, per hari. Dengan banyaknya peziarah itu, mereka bisa memilih moda wisata apa yang beroperasi di TWBK, berdasarkan kenyamanan dan besarnya ongkos untuk setiap moda masing-masing. Besarnya ongkos setiap orang, untuk becak wisata sebesar Rp 8000, ojek sepeda motor Rp 9000, angkudes Rp 3000, sedangkan moda lainnya sesuai kesepakatan kru dan peziarah. Dari semua moda itu, beroperasi dari mulai pukul 06:00 – 16:00, kecuali ojek sepeda motor, mulai jam 16:00 – 24:00.


“Bagi peziarah yang sudah pernah atau sering ke Kudus, lebih memilih naik angkudes, karena ongkosnya lebih murah,” jelas Kepala TWBK Kudus itu.(DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Dinas PKPLH Geber Pertumbuhan Sekolah Sekolah Adiwiyata Di Kudus

Comments are closed.