Ngopi Budaya dan Tajug Syahadat Hadirkan Narasumber Asyik Bahas “Kalacakra”

Ngopi Budaya dan Tajug Syahadat Hadirkan Narasumber Asyik Bahas “Kalacakra”

Kudus, isknews.com – Gelaran acara bulanan ngopi budaya dan tajug syahadat yang mempunyai jargon meretas nalar menetas nala, kembali menggelar event untuk yang ketujuh kalinya, Rabu (26/7/2017) Malam.

Bertempat di Arjuna Resto, kali ini mengangkat tema “Kalacakra” dengan menghadirkan narasumber kompeten dibidangnya, diantaranya KH. Candra Malik, KH. Budi Hardjono, KH. sofwan, Gus Ammar Abdillah, KH. Benny Zakaria & Kang Ujang.

Muhammad Assiry, Pimpinan Pondok Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Al-Qur’an (PSKQ) Modern undaan Lor Kudus mengaku sangat berterimakasih kepada para narasumber dan hadirin yang menyempatkan waktunya. Assiry menjadi moderator dengan gaya khasnya dan ditambah dengan bumbu-bumbu candaan yang membuat hadirin tertawa dan nuansa serius tapi santai, terbukti Ia mampu menahan pengunjung dari tempat duduknya sampai acara usai.

Acara tajug syahadat semakin meriah dengan hadirnya penampilan dari Musik Religi, Musikalisasi Puisi, Live Melukis Bersama Santri PSKQ, Tarian Arabian (Sufi).

BACA JUGA :  Budaya Lokal Diangkat Dalam Kartini Fair

Semula Habib Anis Baasyin yang dijadwalkan hadir, pada malam itu tidak hadir dikarenakan ada udzur. Namun begitu, kedatangan KH Amin Maulana Budi Harjono, atau yang akrab disapa kyai Budi itu memberikan semangat baru ratusan hadirin dan tamu undangan.

Disisi lain, Tokoh tasawuf yang biasa manggung bersama Emha Ainun Najib bersama grup musik Kiai Kanjeng-nya itu memberikan hazanah pengetahuan tentang tema “Kalacakra”.

Sementara itu, Gus Candra Malik dalam gaya santainya, “Ngaji opo wae di niati lillahi ta’ala, ora liyane” (Belajar ilmu apa saja di niatkan untuk Allah Ta’ala, bukan yang lain).

Dikatakan olehnya, Kabupaten Kudus dalam perjalanannya sangat berpengaruh dan penting dalam peradaban islam dan nusantara. Kanjeng Sunan Kudus juga turut serta yang mengakhiri era kejayaan majapahit, banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi.

Menurut Candra Malik, Kala Cakra bisa diartikan, Kala itu waktu, cakra itu perputaran, seperti halnya kita umat islam dalam menjalanakan ibadah, ada 8 dimensi waktu, diantaranya Subuh, Dhuha, Dhuhur, Asyar, Maghrib, Isya, Nishful Lail dan Fajar Shodiq.

BACA JUGA :  Catat! Ini Rute Kirab dan "Run Down" Visualisasi Dhandhangan 2017

Waktu adalah anugrah allah yang tidak bisa dipegang dan tidak dimiliki, “Datangnya waktu dari Allah, dan waktu juga bisa menggerus waktumu, sehingga berurusan dengan waktu sungguh sangat berbahaya,” ujarnya

Ia mengatakan, Kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda, Asshlatu ala waktiha, sementara Sayyidina Umar, waktu adalah pedang. Lalu kata mutiara barat mengatakan, Time is money. “Untuk itulah, gunakan waktu sebaik baiknya,” pesan Candra Malik.

Lebih lanjut Ia menceritakan, Sehari di akhirat sama dengan 1000 tahun di Dunia. “Bisa dibayangkan, jika kita dari lahir sampai 100 tahun ibadah saja, maka itu belum bisa untuk membeli sehari di akhirat, bahkan minus se per sepuluh nya,” akhiri Candra.

Sementara itu, pada akhir acara, setelah sesi tanya jawab Muhammad Assiry memberikan cindera mata berupa 2 lukisan kaligrafi kontemporer untuk KH.Budi Hardjono Semarang dengan judul lukisan alif kalacakra dan Gus Candra Malik yang diberi judul “tawakkal” waufawwidhu amrii ilallah, Lukisan tersebut dari bahan kanvas dengan ukuran 100 x 80 cm.

BACA JUGA :  ​Guna Memeriahkan HUT RI ke 72, Warga Tumpang Krasak Adakan Jalan Sehat

Kemudian Assiry juga memberikan 2 lukisan lagi karya Santri PSKQ Modern. Satu Lukisan Kaligrafi Mushaf karya Hasan Basri asal Palembang (juara 1 kaligrafi nasional UIN Malik Ibrahim Ampel Malang Jatim 2016), yang diberikan kepada Mursyid Tarekat Sadzaliyyah juga pembimbing kami dan para Santri PSKQ Modern KH.Sofwan Gebog Kudus.

Lalu, satu karya kaligrafi klasik duplikasi karya Ustazd Nukman Al Farisi Aceh yang menjuarai lomba kaligrafi tingkat Internasional di Malaysia 2014 yang diberikan kepada Gus Benni Zakaria dari Riau. Dikatakan Assirry, “PSKQ Modern dan Assiry Art terus menerabas batas menebarkan virus-virus kaligrafi bagi siapa saja dan dimana saja.” pungkasnya (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post