“Ngopi Budaya Tajug Syahadat”, Dialog Asyik Bareng Sujiwo Tejo

“Ngopi Budaya Tajug Syahadat”, Dialog Asyik Bareng Sujiwo Tejo

Kudus, isknews.com – Dikenal sebagai seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut seorang budayawan, Sujiwo tejo yang mengaku baru pertama kali menghadiri event di Kudus ini, baru saja menjadi tamu istimewa pada acara “Ngopi Budaya Tajug Syahadat” yang digelar di Arjuna Resto dan Kedai Kopi Ndeso, Jalan Lingkar Utara Gondangmanis Bae Kudus, selasa malam (9/5/2017).

Acara Tajug Syahadat lebih berkonsep silaturrahim pikiran berbentuk ngaji bareng, sinau bareng, dialog, diskusi dan apapun yang sifatnya kebersamaan untuk mencari fokus kerangka berfikir, menajamkan hati kemudian mencari formula bersama perihal masalah aktual melalui pendekatan kebudayaan dan humanisme.

Selain menghadirkan “special invite” Sujiwo Tejo pada ngopi budaya tajug Syahadat yang digelar setiap bulannya Ini, juga hadir, Habib Anis Sholeh Ba’asyin, perwakilan dari kodim 0722 Kudus, polres Kudus, pengusaha, Penampilan Tajug band dan Sendhon Musikalisasi Puisi.

Hadir pula untuk meramaikan, Alumni MAN 2 KUDUS AMANDA angkatan 97, Para Mahasiswa STAIN dan UMK dan masyarakat umum dari Kudus dan sekitarnya.

TRENDING :  Terminal Wisata Bakalan Krapyak Kudus Tambah Fasilitas

Sebelum sang “republik jancukers” (julukan sujiwo tejo) tampil, juga diperlihatkan pertunjukkan Live Show Melukis oleh Muhammad Assiry pimpinan pesantren seni kaligrafi qur’an (PSKQ) modern Kudus.

Acara yang dipandu langsung oleh master of ceremony Zakiya, perempuan muda nan cantik ini sukses mengawal jalannya acara sampai selesai, sesekali memakai bahasa “gado-gado” (baca : bahasa campuran), juga menghadirkan banyolan candaan yang membuat ratusan hadirin tertawa.

Hadirkan Sujiwo Tejo dengan mengambil tema, “Tuhan Maha Asyik”, kalimat yang diambil dari judul buku barunya ini penuh dengan pendefisian dan makna yang tidak bisa langsung diterima oleh masyarakat awam.

Disampaikan oleh Sujiwo Tejo menungso sing dipengeni damai(manusia yang diminta damai) nek damai tenan yo opo kerjone tentara (kalau damai benar terus apa kerjanya tentara) nek ono maling ojo mbok nyek (kalau ada pencuri jangan di hina),nek ora ono maling,Polisi nganggur (kalau tidak ada pencuri,Polisi tidak bekerja) berarti tugas kita kalau ada kejahatan menangkap kejahatan tapi tidak dengan kebencian.

TRENDING :  Suma Budhaya Bakal Meriahkan Pembukan Konferensi IPNU Bersama IPPNU Kudus

Tuhan Maha Asyik adalah melihat kejahatan semua bagian dari rahasia Tuhan bahwasanya kita sebagai manusia janganlah memandang sesama dengan apa yang terlihat atau apa yang ada saat ini. “Pelacur janganlah dihina kita tidak tahu nantinya dia jadi ustadzah,”canda Sujiwo Tejo mengawali pembicaraannya.

Dengan diiringi tembang jawa Sujiwo Tejo melantunkan lagu-lagu yang didalamnya berisi ajaran-ajaran kehidupan. Hormat menghormati sesama manusia baik yang seagama maupun berbeda agama ditekankan olehnya. Terlihat santai memang tapi tidak menurunkan antusias kawula muda mengikuti jalanya acara, justru sebaliknya mereka tampak asyik dan bersemangat.

Bib Anis sapaan akrab Habib Anis Sholeh Ba’asyin, mengartikan Tuhan Maha Asyik adalah Tuhan itu dekat dengan kita atau bisa diartikan behadapan.Tidak mengutamakan nafsu jikalau senang jangan tertawa berlebihan dan bila kita susah jangan terlarut dalam kesusahan.”Tuhan Maha Asyik itu Tuhan dihadapan kita,seolah olah berhadapan langsung dan berdialog,nah dalam dialog itu keasyikan terjadi” ,ucap Bib Anis.

Menurut mbah tejo (sapaan akrab sujiwo tejo) , tuhan sangat asyik ketika dia tidak kita kurung paksa dalam penamaan-penamaan dan pemaknaan-pemaknaan. Dia tak terdefinisikan dan tak terkmaknakan. Dia ada sebelum definisi dan makna ada. Tuhan itu anti mainstream. Tuhan itu Maha Asyik ketika kita mentadabburi-Nya, bukan melogikakan-Nya.

TRENDING :  Gejala Dan Komplikasi Demam Dengue

Dengan mencampakkan kesombongan dan taklid pada kerendahan hati, buku ini mengingatkan pada kita: bahwa ke manapun kau memandang, di situlah wajah Tuhan.
Dalam pentasnya, mbah tejo mengajak hadirin untuk mengenang masa depan karena masa depan ada di belakang, ada pada akar budaya Indonesia yang kita banggakan.

Pria kelahiran jember jawa timur ini, selain kondang sebagai artis, Sujiwo Tejo juga aktif menulis buku. Ia antara lain menulis buku Dalang Edan (2002), Eling Endonesia Deui (2014), dan Rahvayana (2014). Di layar kaca, dalang kelahiran Jember, Jawa Timur, 54 tahun lalu itu juga kerap menjadi narasumber dalam “Indonesia Lawyers Club” yang digawangi Karni Ilyas, sejak 2010. (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post

Post Comment

*