Omset Rp 30 Juta Per Hari Gelondong Bakso Pak Tarwi Bulungcangkring Kudus

Omset Rp 30 Juta Per Hari Gelondong Bakso Pak Tarwi Bulungcangkring Kudus

Kudus, isknews.com – Hanya dengan berjualan gelondong bakso, Sutarwi, warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, bisa meraih omset sebesar Rp 30 juta, per hari. Usaha yang ditekuni Sutarwi, atau yang akrab di panggil Pak Tarwi itu, dalam setiap harinya mampu memproduksi 3500 pack (@ 30 butir) per hari, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 78 orang. Pemasaranya, selain di Kudus dan sekitarnya, juga meluas ke kota di Jawa Timur, antara lain Kabupaten Tuban dan Jatirogo.

Ditemui di stand UMKM perlombaan desa, di Balai Desa Bulungcangkring, Sutarwi menuturkan, usaha membuat gelondong bakso itu mulai dirintis sejak 2001, sebelumnya bekerja serabutan. Dengan niat merubah nasib, karena bekerja serabutan penghasilannya tidak menentu, dia pun beralih profesi menjadi penjual bakso keliling Desa Bulungcangkring, menggunakan kendaraan roda. “Modal awal pada waktu itu, sebesar Rp 100 ribu. Setelah laku terjual semuanya, uangnya menjadi Rp 250 ribu. Harga ayam pada waktu itu, masih Rp 12 ribu per kilo.”

TRENDING :  Kue Apem Yang Legit

Ternyata dari rintisan kecil-kecilan itu, usaha gelondong bakso Pak Tarwi pun semakin berkembang dan permintaan konsumen dan pesanan pun terus meningkat. Menyikapi hal itu, dia pun mendaftarkan usahanya ke Dinas Perdagangan dan Perindustrian (waktu itu), serta mendaftarkannya ke Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kabupaten Kudus. Berbekal tanda daftar perusahaan (TDP) dan nomer registrasi Depkes itulah, Sutarwi kemudian memberi nama perusahaanya, “Gelondong Bakso Ada Rasa”.

Langkah Sutarwi terus berlanjut. Berbekal merk dan legalitas itu, dia pun menjual baksonya secara online. Usaha yang mulai dilakukan pada 2010 itu, secara pelan tapi pasti, perusahaan gelondong bakso itu tumbuh semakin besar. Dari semula yang produksinya hanya 500 – 1000 pack per hari dengan tenaga kerja sebanyak 30 orang, pada 2015 hingga 2017 ini, sudah meningkat menjadi 3500 pack per hari.

TRENDING :  Kreatifitas Ibu-ibu PWS, Bonggol Pisang Diolah Jadi Keripik

Untuk memproduksi sebanyak itu, dibutuhkan bahan baku daging ayam sebanyak 3,5 kuintal per hari, tepung tapioka dan rempah-rempah atau bumbu. Sutarwi juga sudah mempunyai mesin penggiling sendiri yang dioperasikan tenaga kerjanya yang sekarang jumlahnya 78 orang. “Sebagian besar perempuan, laki-lakinya hanya 4 orang,” ujar ayah dari tujuh anak, hasil pernikahan dengan Sriani.

Ditanya soal harga jual, dia menerangkan, untuk setiap pack isi 30 butir gelondong bakso, dijual dengan harga Rp 8500, untuk pembelian partai besar minimal 200 pack. Sedangkan untuk eceran, dijual dengan harga Rp 9500 per pack. Dengan produksi sebanyak 3500 pack per hari, jika dikalikan dengan harga jual Rp 8500 per pack, omset per hari usaha gelondong bakso “Ada Rasa” milik Sutarwi itu, mencapai sebasar Rp 29,75 juta, atau hampir 30 juta per hari. “Kalau keuntungannya tidak seberapa, sekitar 2 – 5% per pack. Yang penting usaha ini tetap jalan dan lancar.”
Dibalik kesederhanaan kehidupan sehari-hari, dari hasil usaha gelondong bakso itu, Sutarwi sukses menyekolahkan anak-anaknya menjadi “orang”. Satu diantara lima anaknya yang sudah berumah-tangga, menjadi polisi. Dua anak yang nomer 6 dan 7, masih sekolah di SMP dan SMU.(DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post

Post Comment

*