Pasien Gagal Ginjal dan Kebiasaan Konsumsi Obat

oleh
ISKNEWS.COM
Foto: Proses hemodialisa yang ada di RS 'Aisiyah Kudus, Jumat (27-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Menjalani hidup sebagai seorang penderita gagal ginjal tidaklah mudah. Hemodialisa (HD) atau cuci darah menjadi sebuah proses yang tidak dapat dihindari oleh penderita gagal ginjal kronis. Bagi pasien gagal ginjal, proses hemodialisis menjadi penyambung kehidupanya.

Beragam cerita terurai dalam hidup pasien hemodialisa. Kepada isknews.com, Muklisin, warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus sudi membagikan kisah hidupnya bertahun-tahun menjalani proses hemodialisis.

Lelaki 46 tahun ini, mengaku telah lama mengidap hipertensi. Kebiasaan mengkonsumsi obat hiperesi secara terus menerus dan menahun, menyebabkan ginjalnya mengalami kerusakan. Pada tahun 2014, Muklisin difonis mengalami gagal ginjal kronis.

“Waktu itu, saya difonis mengalami gagal ginjal stage 5, dimana 75 persen ginjal saya dinyatakan tidak berfungsi. Untuk bisa melanjutkan hidup, saya harus melewati proses hemodialisis. Saya akui, tidak mudah menjadi pasien hemodialis pemula, beragam tekanan psikis menumbangkan semangat hidup saya,” ungkapnya.

TRENDING :  Tips Menjaga Kesehatan Saat Musim Penghujan

Awal-awal menjalani proses hemodialisis, Muklisin mengalami sejumlah gejala seperti mual muntah, tidak nafsu makan, susah tidur, menggigil dan susah buang air besar. “Setelah mengalami proses hemodialisis, saya mengalami rasa mual muntah dan lemas pada seluruh badan. Tidak hanya itu, saya juga merasa tidak nafsu makan hingga menyebabkan saya susah buang air besar. Pada malam hari saya juga mengalami susah tidur dan terkadang disertai menggigil,” jelasnya.

Untuk mengatasi gejala tersebut, Muklisin menerapkan pola hidup sehat seperti mengkonsumsi makanan yang tinggi serat dan buah dan rajin berolahraga. Meskipun pasien gagal ginjal dilarang melakukan aktivias berat. Ia masih bisa melanjutkan hidupnya sebagaimana orang normal lainnya.

Berjalannya waktu, pertemuannya dengan sejumlah pasien hemodialisis menjadikanya perlahan mulai menerima akan suratan takdir. Dari temanya sesama penderita gagal ginjal, ia mulai memahami proses hemodialisis dan penyakit yang dideritanya. Semangat hidupnya mulai tumbuh bersama tekatnya untuk kembali menata hidup dan mewujudkan mimpi-mimpinya yang sempat padam.

TRENDING :  HUT ke 63 RSUD dr. R. Sutrasno Gelar Operasi Gratis

Hal senada diungkapkan oleh dr. Budi Istriawan, Kepala Unit Hemodealisa, RS ‘Aisiyah Kudus, bahwa hal terberat yang dialami seorang pasien hemodialisa adalah tekanan psikis. Seorang yang difonis melakukan proses hemodialisa atau cuci darah pasti mengalami guncangan batin yang hebat.

“Pasien hemodialisa pemula, sering kali berpikir jika hidupnya tidak akan lama lagi. Sehingga ia akan menjalani sisa hidupnya dengan begitu saja, tanpa gairah dan semangat. Dari tekanan psikis ini juga menimbulkan sejumlah gejala yang berbeda-beda pada setiap pasien,” ujar Budi, Jumat (27-04-2018).

Menurut dr. Budi, gejala yang ditimbulkan oleh pasien tergantung dari tekanan psikis yang dialaminya. Dia mengklarifikasi jika proses hemodialisa tidak menimbulkan efek apapun pada diri pasien. Adapun untuk obat yang diberikan kepada pasien merupakan vitamin untuk menggantikan senyawa-senyawa dalam darah, yang ikut hilang pada proses dialisis.

TRENDING :  Gejala Trauma Kimia Pada Mata

“Setelah menjalani proses hemodialisa pasien akan mendapatkan obat. Sebenarnya ini adalah vitamin yang berfungsi untuk menggantikan senyawa-senyawa dalam darah yang hilang pada proses hemodialisa. Selain vitamin, pasien akan mendapatkan obat, untuk mengatasi keluhan yang dialaminya. Misalnya, pasien mengeluhkan sering mengalami mual dan muntah. Setelah mengalami hemodialisa, pasien akan diberikan obat penghilang rasa mual dan muntah,” jelasnya.

Jika terlalu banyak mengkonsumsi obat tanpa diimbangi dengan asupan air putih yang cukup dalam waktu yang lama, bisa menyebabkan gagal ginjal. Namun mengapa penderita gagal ginjal masih diperbolehkan mengkonsumsi obat?

dr. Budi, menjelaskan bahwa pemberian obat pada pasien hemodialisa tidak akan berpengaruh pada ginjalnya atau dengan kata lain tidak akan memperburuk kondisi ginjalnya. Karena ginjalnya tidak bisa berfungsi, maka pasien harus menjalani hemodialisa sebagai pengganti kerja ginjalnya. Dan obat tersebut akan tersaring pada proses hemodialisa. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :