Pemain PS Benteng Yang Memukul Dan Injak Wasit Di Hukum 2 Tahun

Pemain PS Benteng Yang Memukul Dan Injak Wasit Di Hukum 2 Tahun

ISKNEWS.COM (30/12/2016) Sikap tak terpuji yang terjadi di pentas sepakbola nasional. di laga grup E putaran nasional Liga Nusantara antara Persiku Kudus kontra PS Bengkulu Tengah (Benteng) di Stadion Wergu Wetan, Kudus, 25 November 2016. pada laga itu terjadi insiden pemain PS Benteng yang melakukan protes secara tidak sportif terhadap wasit Cholid Dalyanto.

Doni Setiawan dan Budi Eka Putra harus menerima ganjaran atas perilaku buruknya di lapangan. Menyerang wasit, kedua pemain PS Bengkulu Tengah (Benteng) itu dijatuhi hukuman larangan bertanding selama dua tahun.

 

linus

Demikian diputuskan Panitia Disiplin putaran final kompetisi amatir Indonesia Soccer Championship, babak penyisihan Grup E Liga Nusantara 2016, terkait insiden pada 25 November lalu, ketika PS Benteng bertanding melawan Persiku Kudus di Stadion Wergu Wetan, Kudus, Jawa Tengah.

BACA JUGA :  Drag Bike Kudus 2015 di Lingkar Kencing Kudus

Di mana dalam melakukan protes itu para pemain PS Benteng sampai memukul Cholid hingga terjatuh, dan ada pemain PS Benteng bernama Budi Eka Putra yang secara sengaja menginjak kepala Cholid yang sudah terkapar di tanah. Lantaran hal itu, Panitia Disiplin (Pandis) Linus langsung bergerak cepat.

Mereka langsung menggelar sidang dan memberikan sanksi terhadap empat pemain PS Benteng yang dinilai telah mencederai fair-play, respek, dan sportivitas dalam sepakbola. Empat pemain yang mendapatkan hukuman itu adalah Ahmad Ramdani, Majid Moniy, Budi Eka Putra, dan Doni Setiawan.

Dalam surat keputusan yang ditandatangani ketua Pandis Wahadi, keempat pemain itu dihukum larangan bertanding selama dua tahun di seluruh jenjang kompetisi PSSI. Larangan itu mulai berlaku sejak surat sanksi tersebut dikeluarkan tertanggal 25 November 2016.

BACA JUGA :  KEPALA SATUAN POLISI PAMONGPRAJA," OPRASI CAFE KARAOKE INI BARU AWAL KEGIATAN "

Insiden dipicu oleh ketidakpuasan para pemain PS Benteng atas keputusan wasit Cholid Dalyanto, yang memberi kartu kuning kedua untuk Getut Bekti di menit-menit akhir babak pertama.

Awalnya protes itu dilakukan dengan adu argumentasi, namun berlanjut sampai mendorong dan memukul wasit. Parahnya, tidak hanya memukul, pemain cadangan PS Benteng, Budi Eka, terlihat menginjak wajah wasit yang terjatuh ketika dipukul.

Atas ulah itu wasit pun mengeluarkan lima kartu merah sekaligus kepada tim PS Benteng. Selain diberikan kepada Gatut, kartu merah juga dijatuhkan kepada Ahmad Ramadhani, Doni Setiawan, Majid Mony, serta Budi Eka. Empat pemain terakhir diganjar kartu merah secara bersamaan pada menit ke-45 karena dianggap melakukan protes berlebihan.

“Semua pelanggaran disiplin serius dapat ditingkatkan sanksinya ke Komisi Disiplin PSSI. Event Linus putaran nasional memiliki catatan penting atas antusiasme klub dari level Asprov. PSSI memiliki keberpihakan tinggi atas progress ini,” kata Joko Driyono, wakil ketua umum PSSI

BACA JUGA :  Musium kretek kudus

“Sepakbola (kompetisi amatir) menggeliat kembali. Mereka perlu apresiasi, atensi. Kita tidak sering melihat itu. Hal-hal buruk tidak ada tempat lagi. Kami memastikan penegakan disiplin dijalankan sepenuhnya,” tambah pria yang juga menjabat sebagai direktur utama PT Gelora Trisula Semesta (GTS) itu.

Sementara itu, video aksi brutal dari para pemain PS Benteng sudah kami unggah di Youtube ISK TV Channel. Dalam video yang kami unggah sejak tanggal 25 November itu terlihat jelas bagaimana para pemain PS Benteng melakukan protes hingga akhirnya membuat wasit Cholid terjatuh dan diinjak oleh Budi Eka Putra. (AU)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post