Pembangunan IPAL Pabrik Tahu Karangbener Terus Berlanjut

oleh
ISKNEWS.COM
Didik Sudianto, 39, menunjukkan IPAL miliknya yang berada dibawah timbunan kayu. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Masyarakat di sekitar Sungai Dawe, agaknya bisa bernafas lega. Karena pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik tahu di Desa Karangbener terus berlanjut. Proges pembangunannya kini sudah terealisasi tujuh titik dari rencana awal 10 titik IPAL. Tak hanya itu, lima dari tujuh IPAL pabrik tahu tersebut juga sudah bisa dimanfaatkan biogasnya.

Menelisik kebelakang, kondisi Sungai Dawe di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus cukup memprihatinkan. Air sungai badan sungai itu berwarna hitam dan berbau tidak sedap akibat tercemar oleh limbah pabrik tahu di Dukuh Kemang, Desa Karangbener. Tidak berhenti disitu, air sungai yang tercemar ini juga sampai ke Desa Temulus.

Lebih ironinya, kondisi seperti ini telah berlangsung sejak tahun 1990. Karena geram, akhirnya warga membuat surat penolakan pembuangan limbah tahu ke Sungai Dawe. Warga pun mengancam akan menutup sungai dengan tanah jika pabrik tahu masih membuang limbahnya ke sungai.

TRENDING :  Disdagsar Akan Tata Ulang PKL Pasar Kliwon

Menindaki hal tersebut, Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKKPLH) Kudus menggandeng Dosen Universitas Diponegoro, Merry Christiyanto untuk membuatkan IPAL bagi pabrik-pabrik tahu di Desa Karangbener.

TRENDING :  Asal Usul Masjid Jami’ Golantepus

Merry Christiyanto mengatakan progres pembangunan IPAL tersebut, sudah terealisasi tujuh titik dari perencanaan awal 10 titik.
Untuk pengusaha tahu yang sudah membuat IPAL yakni Martono dengan ukuran 12 m3 (meter kubik), Didik Sudianto dan Khoirun dengan ukuran 20 m3, Masykuri dengan ukuran 10 m3, dan Bekan dan Abdullah dengan ukuran 12 m3 dan Supriyanto dengan ukuran 12 m3.

“Dalam pembangunannya kami mengalami kendala terkait kesediaan lahan. Karena pengusaha tahu membangun IPAL dengan kapasitas sesuai dengan luas lahan. Sehingga ada IPAL yang kurang sesuai dengan kapasitas limbah yang dihasilan dari pabrik tahu,” katanya.

TRENDING :  Dua SD Diajukan Dapat Bantuan

Diungkapkannya, dari tujuh IPAL yang telah dibangun kini lima diantaranya sudah dapat dimanfaatkan biogasnya. Dua diantaranya belum berfungsi secara optimal karena limbahnya terlalu banyak sehingga membutuhkan pendingin bak awal.

“Yang lain sudah berfungsi hanya saja belum optimal. Saat ini biogasnya sudah bisa dimanfaatkan sendiri di rumah. Namun belum bisa disalurkan ke rumah tetangga sekitar, sebab masih terus dievaluasi. Untuk target pembangunan IPAL pabrik tahu secara keseluruhan selesai pada oktober mendatang,” terangnya. (NNC/YM).

KOMENTAR SEDULUR ISK :