Pendapat Orang Tua dan Sekolah Tentang Sistem Zonasi PPDB

oleh
Pendapat Orang Tua dan Sekolah Tentang Sistem Zonasi PPDB
Foto: Sejumlah siswa yang tengah melakukan PPDB Online (istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Balum lama ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Peraturan tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi. Permendikbud N0. 14 tahun 2018 yang menjadi landasan sistem zonasi, menerangkan bahwa sistem PPDB pada tahun ini menyesuaikan sekolah calon peserta didik dengan domisili tempat tinggalnya.

Tak dipungkiri, perubahan ini menimbulkan pro dan kontra bagi orang tua siswa hingga pihak sekolah. Sebagian orang tua ada yang mendukung program ini, karena dengan adanya program ini perkembangan sekolah bisa lebih merata di setiap daerahnya. Tidak hanya berpusat di sekolah-sekolah unggulan saja.

TRENDING :  Hardiknas, Wakil Bupati Pati : Pendidikan Karakter dan Mental Untuk Membentuk Kemajuan Bangsa

“Saya rasa sistem PPDB tahun ini, tidak berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Anak-anak masih bisa mendaftarkan diri di sekolah impiannya, meskipun beberapa peserta memiliki peluang yang kecil karena masuk kedalam zona tiga atau empat,” ungkap Rahma, warga Desa Mlati Norowito yang media ini temui saat mengantarkan adiknya legalisir KK dan Akte Kelahiran di Dukcapil Kudus, Rabu (04-07-2018).

Di sisi lain, Rahma merasa program PPDB dengan sistem zonasi ini kurang sosialisasi. Kepada isknews.com, ia mengaku jika dirinya baru mendapatkan info tentang PPDB dari sekolah adiknya, pada hari Selasa kemarin.

TRENDING :  Tunggu Kiriman Material Pembangunan SD 1 Barongan Kudus Terhambat

Meskipun telah banyak dilakukan sosialisasi, ternyata masih banyak orang tua yang belum memahami sepenuhnya sistem zonasi. Karena merasa terlalu ribet dengan sistem ini, beberapa orang tua akhirnya menggugurkan niat anaknya masuk sekolah unggulan.

“Dengan adanya sistem zonasi ini, orang tua dan anak akan berdiskusi lebih dalam untuk memilih sekolah. Pertimbangannya bukan hanya reputasi dan jarak sekolah. Tetapi juga harus mempertimbangkan peluangnya juga,” tegasnya.

Kepala SMP 1 Kudus, Akhsan Noor memaparkan sistem zonasi mengusung sebuah ide yang bagus agar siswa berprestasi dapat tersebar merata di setiap daerah. Akan tetapi, perlu dikaji kembali karena tidak semua daerah memiliki sekolah tingkat SMP maupun SMA.

TRENDING :  BINMAS POLSEK JUWANA BIMBING PELAJAR SD BELA NEGARA SEJAK DINI

“Misalnya saja, SMP 1 Gebog yang berada di Desa Jurang dan Gondosari. Dengan adanya sistem zonasi, anak Desa Menawan yang ingin bersekolah di SMP 1 Gebog tidak akan masuk zona satu melainkan zona dua. Dengan sistem zonasi ini peluang anak tersebut akan lebih kecil,” jelasnya, saat ditemui isknews.com di tempat dinasnya.

Akhsan menegaskan hal semacam ini perlu dikaji lagi agar kedepannya program PPDB ini dapat berjalan lebih baik. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :