Penyandang Difabel Pentaskan Tarian Khas Daerah

oleh
Saat para anak berkebutuhan khusus mementaskan sebuah tarian gagrak Lasem. (Rendy/ISKNEWS.COM)

Rembang, ISKNEWS.COM – Para penyandang disabilitas di Kabupaten Rembang mementaskan tarian khas Rembang di pendapa museum Kartini, pada Jum’at (30-03-2018) pagi. Meski memiliki keterbatasan, mereka melakukan gerakan tarian dengan lihai.

Ada beberapa tarian yang tampilkan dalam kesempatan itu, diantaranya tarian gagrak Lasem, tarian orek-orek, dan tarian jaran kepang. Selain itu, nyanyian merdu dua bocah penyandang tuna netra dari Kecamatan kota dan Kecamatan Sulang, menunjukkan bahwa masih banyak anak punya kelebihan di Rembang meski dalam keterbatasan.

TRENDING :  Fashion Show Oleh Mahasiswa ISI Surakarta

Bupati Rembang, Abdul Hafidz dalam sambutannya, sangat mengapresiasi semua penampilan anak yang berkebutuhan khusus, namun punya kelebihan. Selain itu, para pembimbing tak luput dari apresiasi Bupati karena mendampingi dan melatih penyandang difabel merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

“Saya berterima kasih kepada semuanya pembimbing yang telah mendampingi anak sehingga mereka berperilaku baik,” ungkapnya

TRENDING :  Puluhan Penyandang Difabel Kudus Semangat Ikuti Pelatihan Internet

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bantuan satu juta kepada semua anak yang mengalami banyak kesulitan penglihatan, pendengaran, dan wicara. Program bantuan tersebut akan digulirkan secara bertahap.

“Komitmen pemerintah pertama, di event tertentu seperti ini akan segera ditampilkan, kedua kita akan memberikan bantuan satu juta, melalui rekening” ujarnya.

Sementara itu, Salah satu Pengasuh sekolah luar biasa (SLB) Rembang, Sucipto mengatakan, proses latihan anak berkebutuhan khusus memerlukan perasaan. Menurutnya, mereka menari tanpa mendengarkan musik tarian, karena tuna rungu. Mereka hanya mengandalkan arahan dari para pelatihnya dari bawah pentas.

TRENDING :  Karasgede Kembangkan Usaha Sari Kedelai

“Ini cara melatihnya dengan penuh perasaan. Walaupun musiknya berbunyi, mereka tidak akan tau sampai mana mereka menari. Kalau seandainya musik dimatikan mereka akan tetap menari terus, karena mereka tidak mendengarkan.” pungkasnya. (RTW/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :