Petani Bawang Merah Semakin Terpuruk

oleh
Foto: Petani Bawang Merah di Kecamatan Wedarijaksa, Pati masih tak menentu nasibnya. (Istimewa)

Pati, ISKNEWS.COM – Kenaikan harga komoditas bawang merah, ternyata tidak berpengaruh banyak bagi petani bawang merah di Kecamatan Wedarijaksa, Pati. Meskipun sudah ada solusi jangka pendek dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, yang menginstruksikan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) membeli bawang petani, tetapi itu belum bisa menutup ongkos produksi.

Supriyadi (56) salah satu petani bawang di Desa Ngurensiti, Kecamatan Wedarijaksa mengaku resah dengan anjloknya harga bawang. Terlebih, sudah lima musim ini harga bawang belum juga stabil.

TRENDING :  Petani Udang Vanamei Terkendala Pompa Air

“Kami hanya bisa pasrah sambil menjual bawang secara mandiri. Kemarin ASN disuruh Pak Bupati untuk membeli bawang petani, tetapi permintaan mereka hanya sedikit, tidak bisa menampung bawang sebagian besar petani,” ungkapnya, Kamis (01/02/2018).

Dia bercerita, pada masa tanam, bibit bawang merah memang disuplai dari pemerintah daerah. Bahkan, untuk pupuk sebagian petani juga mendapatkan bantuan. Tetapi, ketika sudah memasuki masa panen, harga diturunkan seminimal mungkin.

TRENDING :  Tekan Angka HIV/Aids, Waria Pati Gelar VCT Mobile Geratis

“Kalau kita hitung-hitung, meskipun bibit dari pemerintah, tetapi kalau harga bawang saat ini hanya Rp. 6000, kami tetap rugi. Sebab, setidaknya untuk mengembalikan ongkos produksi harganya Rp. 10.000,” imbuhnya.

TRENDING :  Hasil Panen Bagus, Dispertanpangan Kudus Akan Perluas Lahan Pertanian Bawang Merah

Melihat harga bawang yang kian terpuruk, Supriyadi pun mulai berpikir ulang. Dia khawatir, apabila pada masa panen berikutnya, harga tetap rendah.

“Saat ini sudah banyak petani yang mulai menanam bawang, tetapi ada juga yang masih membiarkan sawahnya. Yang jelas, kita masih berpikir apakah harganya bisa stabil pada masa panen besok,” pungkas Supriyadi. (IN/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :