Pintu Air Bendungan Klambu Dibuka, Petani Undaan Bernafas Lega

oleh
Pintu Air Bendung Klambu Dibuka, Petani Undaan Bernafas Lega
Foto: Catur Sulistiyanto bersama Hawi Sukamto dan Hasan Abdillah dipandu Tarto (operator pintu air bendung Klambu) menyaksikan proses pembukaan pintu air dari kantor pusat pengaturan air bendung Klambu. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Kini petani Undaan bisa bernafas lega, karena air dari Waduk Kedungombo melalui Pintu Air Bendungan Klambu, yang nantinya akan mengaliri sawah di Kecamatan Undaan telah dibuka. Bahkan untuk memastikan kelancaran kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Catur Sulistiyanto datang dan menyaksikannya langsung di Kantor Pintu Bendungan Klambu Grobogan, Selasa (25-09-2018).

Didampingi Hawi Sukamto, Ketua Paguyuban Gapoktan kecamatan Undaan dan M. Hasan Abdillah, Koordinator BPP Kecamatan Undaan, rombongan tiba di lokasi pukul 05.30 WIB. Sesampainya disana, rombongan menyempatkan diri melihat ruangan pusat pengoperasian pintu Bendung Klambu. Dalam ruangan tersebut terdapat kamera pemantau (CCTV) yang menunjukkan aktifitas aliran air di tiga pintu yakni arah Kabupaten Pati, Kudus (Undaan) dan Demak.

“Alhamdulillah kita bisa mengawal langsung untuk memastikan pembukaan pintu air Bendung Klambu yang menuju ke wilayah Undaan Kabupaten Kudus. Ini sebagai upaya kita dalam melayani petani sehingga bisa segera melakukan tanam MT I,” kata Catur Sulistiyanto.

TRENDING :  Ini Daftar Lengkap Pemain Persiku Musim Ini, Ada Idolamu?

Dijelaskan, sesuai jadwal yang ditentukan pembukaan pintu air bendung klambu menuju Undaan Kudus dilakukan hari selasa, tanggal 25 September 2018 pukul 05.30. Dan nantinya air ini akan mengaliri areal persawahan seluas 5600 hektar di Kecamatan Undaan.

“Menurut keterangan penjaga pusat pengaturan pintu bendung Klambu tadi, air akan sampai di pintu air Kalirejo (Babalan) selasa malam. Di sana, air akan dibagi dua arah yakni timur ke daerah Desa Kutuk. Sedangkan utara menuju ke kawasan Desa Undaan Lor,” paparnya.

Hawi Sukamto, Koordinator Paguyuban Gapoktan Kecamatan Undaan, mewakili para petani di wilayah Undaan menyampaikan rasa terimakasihnya pada Pemkab Kudus melalui Dinas Pertanian dan Pangan yang dikomandani Catur Sulistiyanto. Sebab dengan datang langsung ke gedung pusat pengaturan air bendung Klambu tersebut membuat petani yang akan menanam MT I lebih tenang.

TRENDING :  Persiku Tergabung di Grup A Bersama Persipa

“Tadi kita saksikan sendiri pintu air dibuka. Bukan karena kita menerima laporan bahwa pintu sudah dibuka. Sekarang mayoritas lahan tanam sudah dilakukan pengolahan yaitu dibajak. Jadi begitu ada air irigasi, mereka bisa langsung melakukan aktifitas tanam,” terangnya Hawi Sukamto.

Penggerak pertanian organik ini berharap pada pemerintah pusat untuk melakukan normalisasi sungai Juwana dan Jeratun Seluna. Sehingga kondisi sungai menjadi dalam dan bisa menyimpan air guna persediaan irigasi ketika musim kemarau.

“Kabupaten Demak setiap tahun ada normalisasi sungai, kita harapkan di wilayah Kudus juga begitu. Sebab bisa mengurangi banjir dan ketika kemarau bisa menyimpan air untuk dipompa ke sawah,” harapnya.

Hasan Abdillah, Koordinator BPP kecamatan Undaan, menambahkan bahwa air irigasi dari waduk Kedungombo yang menuju ke wilayah Undaan hanya dialokasikan selama dua bulan. Sebab berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG Semarang bahwa musim hujan diperkirakan akan turun akhir november 2018.

TRENDING :  Visualisasi Dhandhangan 2018 Akan Libatkan Ratusan Seniman

“Sekarang dibuka 25 September, nanti rencananya 25 November ditutup kembali karena diperkirakan air untuk daerah Undaan sudah tercukupi dari air hujan. Sebab waduk Kedungombo itu akan diutamakan sebagai sumber bahan baku air minum wilayah Kota Semarang. Petani kita memang biasanya agak kesulitan air ya sampai akhir November. Setelah itu turun hujan yang langsung ke sawah dan tersimpan di embung-embung,” tuturnya.

“Beberapa daerah seperti Desa Kutuk yang dekat dengan saluran sungai Juwana malah sudah memulai tanam karena masih ada sisa air yang dipompa untuk irigasi. Namun petani yang posisinya jauh dari sungai Juwana menunggu aliran dari Kedungombo,” tandasnya. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :