Politisi Beradu Strategi Berebut Simpati Generasi Milenial

oleh
Riska HImawan, pengamat sosial dan dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Peran penting generasi milenial sangat diperhitungkan pada tahun politik sekarang ini. Mereka adalah bagian dari penentu kemajuan dan keberhasilan demokrasi, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Peneliti sosial seringkali mengelompokkan generasi yang lahir antara tahun 1980-2000 adalah sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia antara 15–34 tahun.

Segment pada rentang usia ini kini menjadi target politisi karena memiliki potensi partisipasi politik yang besar yang bila merujuk pada data Badan Pusat Statistik, prediksi pemilih milenial pada Pilkada 2018 sekitar 35 %.  Sementara pada konteks perilaku pemilih, kelompok milenial tergolong jenis pemilih rasional (kritis).

Hal itu disampaikan oleh Rizka Himawan, M.Psi  pengamat sosial yang juga dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Kudus pada saat menyampaikan materinya dalam Deialog Politik yang digelar oleh DPD PAN Kudus di Rumah PAN Rendeng Kudus, Minggu (16/12/2018).

“Mayoritas mereka pengguna media sosial dan melek akses informasi, suara pemilih milenial dalam Daftar Pemilih Tetap KPU proporsinya sekitar 34,2 % dari total 152 juta pemilih dan keberadaannya kerap disebut bakal menentukan arah politik bangsa Indonesia ke depan,” katanya.

TRENDING :  Tamzil Janji Bangun Stadion Senilai 1 Triliun Rupiah Untuk Persiku

Dilanjutkan oleh Hemi, panggilan akrab Rizka Himawan, Dari sisi politik, generasi milenial menjadi penentu kemenangan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dan Pemilihan Umum 2019.

“Merujuk pada survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), proporsi pemilih generasi milenial mencakup 55 persen dari total jumlah pemilih potensial Pemilu 2019 yang diperkirakan mencapai 192 juta pemilih,” terang dia.

Pada Pemilu 2014, jumlah pemilih rentang usia 17-20 tahun mencapai 14 juta pemilih. Sedangkan pemilih usia 20-30 tahun mencapai 45,6 juta jiwa. Komisi Pemilihan Umum (KPU) di pusat dan daerah juga menangkap lonjakan jumlah pemilih milenial pada Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Pemilih pemula merupakan pemilih dengan usia yang masuk dalam kategori generasi millennial (usia 18-34 tahun). Pemilih pada usia ini merupakan generasi yang paling aktif dalam menggunakan media sosial. Hal ini patut dimanfaatkan untuk menentukan metode dalam rangka sosialisasi Pemilu dan Pilkada.

Mulai memanfaatkan media sosial dalam sosialisasi Pemilu dan Pilkada. Pengaruh media sosial begitu luat saat ini di tengah masyarakat. Karena berdasarkan data, hampir setengah jumlah penduduk di Indonesia sudah mulai menggunakan media sosial dalam kesehariannya.

TRENDING :  The Power Of Emak-Emak Diharapkan Tekan Angka Golput

Generasi Milineal ini tercatat banyak berperan dalam berbagai bidang, baik ekonomi, sosial politik, dan IPTEKS.

“ Di Tiongkok, Joshua Wong yang masih berumur 17 tahun, berhasil memobilisasi 120.000 orang yang menentang kurikulum berbau komunis.  Dalam dunia sosial politik, kericuhan di Timur Tengah yang dikenal dengan arab spring  misalnya, berasal dari mobilitas melalui facebook oleh para pemuda belia.,” terang Hemi.

Barrack Obama dalam Pemilu presiden memperoleh 66% suara dan John McCain hanya memperoleh 23% suara yang langsung dipilih oleh generasi muda di bawah usia 30 tahun.

TRENDING :  Kakan Kesbangpol Kudus : Tak Ada Toleransi “Money Politik” Dalam Pemilu

Di Indonesia studi dan kajian tentang generasi millennial belum banyak dilakukan, padahal secara jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15-34 tahun saat ini sangat besar, yaitu 34,45%.

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi millennial memang unik, hasil riset yang dirilis oleh Pew Research Center misalnya, yang mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya (Pew Research Center, 2015).

Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini, dan dalam hal ini, fenomena yang sama juga terjadi di Jakarta.

“ Generasi millennial mampu memberikan kontribusi yang kreatif dalam mendukung nilai-nilai demokrasi dalam pelaksanaan pesta politik daerah 2017. Fenomena TEMAN AHOK adalah salah satu semangat baru yang diusung generasi millennial untuk menunjukkan perhatian kaum muda terhadap proses demokrasi di Indonesia, tentu tidak hanya di Jakarta,” tuturnya. (YM/YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :