Pondok Pesantren Autis Al Achsaniyyah Pedawang, Gratiskan Kaum Dhuafa & Yatim

Pondok Pesantren Autis Al Achsaniyyah Pedawang, Gratiskan Kaum Dhuafa & Yatim

Kudus, isknews.com – Pondok pesantren Autis Al achsaniyyah merupakan satu-satu nya pondok pesantren Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di kota Kudus bahkan mungkin di Indonesia yang menangani problem anak seperti Autisme, ADHD, slow leaner, CP, speech delay, juga menyantuni anak yatim piatu dan dhuafa.

Suasana pondok pesantren Al Achsaniyyah Pedagang Kudus dilihat dari depan (Aris Sofiyanto/isknews com)

Berdiri tahun 2007 yang pada waktu itu lokasinya di jalan bakti, setelah perkembangan jumlah santri yang semakin bertambah, sejak 2010 lalu, sudah menempati area Pondok Pesantren yang berada di desa Pedawang kecamatan Bae Kudus.

Pondok Pesantren yang penanganannya menerapkan One On One (satu anak satu guru) ini berada di tanah wakaf seluas 3800 M, adapun tujuan diadakan nya pendidikan berbasis asrama ini untuk mengentaskan anak berkebutuhan khusus, yatim piatu dan dhuafa dengan memberi pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai dengan bakat dan potensi anak berkebutuhan khusus, yatim piatu dan dhu’afa yang menjadi manusia kreatif, beriman dan bertaqwa, serta mampu hidup mandiri di tengah masyarakat.”terang HM Faiq Afthoni Rachman MAc, pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Al Achsaniyyah saat ditemui isknews.com, Selasa, (10/02/2017)

BACA JUGA :  ​Forum UMKM Didukung Bank BNI 46 
HM Faiq Afthoni Rachman MAc, pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Al Achsaniyyah, (Aris Sofiyanto/isknews.com)

Pihaknya menambahkan, sampai saat ini santri nya sudah mencapai 92 anak baik putra maupun putri, dan diasuh oleh 85 Tenaga staff secara bergiliran atau shift, Santri tertua yang pernah belajar disini adalah umur 41 tahun, dan umur paling belia selama ini pada usia 4,5 tahun, “disini tidak ada target, namun penyembuhan paling cepat yang pernah ditangani adalah 6 bulan”, imbuhnya

“Untuk soal makanan, disini sangat terjaga, terbukti, santri disini sengaja menghindari makanan seperti Roti, susu, keju, sarimi, dengan alasan mereka mengandung glutin, yang imbasnya sulit untuk mengikuti instruksi emosional dari pembimbing kami, lebih lanjut, keberhasilan dari anak didik atau santri autis adalah dari 3 komponen, lembaga, lingkungan dan orang tua.”Terangnya

BACA JUGA :  KBIT Umar Bin Khathab Kembali Terpilih Mewakili Kabupaten Kudus Maju Ke Tingkat Provinsi April Mendatang

Pihaknya mengatakan, jika orang tua yang mempasrahkan di pondok ini, dengan hati “legowo”, ikhlas dan terima amanah Allah, maka seratus persen langsung akan mempengaruhi kondisi jiwa si anak, karena energi, emosi orang tua dan anak masih bisa terhubung meskipun jarak memisahkan.

Pondok ini dikelola secara mandiri dan mendapat dukungan dari dinas sosial dan dinas pendidikan Kudus, tentang ditanya motivasi mendirikan ponpes ini adalah, Bagaiamana kita bisa mendapat kasih sayang Allah jika kita tidak kasih sayang kepada manusia dan alam.

Hesti, Kepala Asrama 1, yang menemani isknews.com berkeliling pondok menjelaskan bahwa disini ada pengelompokan 3 Tingkat, dari anak zero atau slow leaner, pra mandiri dan yang terakhir tingkat mandiri.

“Kegiatan dimulai dari bangun tidur jam 04.00 diawali mandi bergiliran, sholat subuh berjamaah, dan mengaji bagi anak yang sudah mandiri, dan jika matahari muncul sekitar jam 6 anak anak berjemur di halaman yang masih dilingkungan pondok pesantren, setelah itu pengecekan kesehatan anak, dan membersihkan kamar tidur bagi anak mandiri, setelah sarapan pagi siap siap berangkat sekolah yang dimulai pada jam 07.30 WIB,” jelas hesti asli Rembang itu

BACA JUGA :  5 Kuota Beasiswa Hafidz Al-Qur'an di UMK belum terpenuhi

Hesti menambahkan, “Disini juga diajarkan Menghafalkan surat surat pendek, asmaul husna, dll, dilanjutkan istirahat, sholat berjamaah dan makan siang, sehabis itu mandi sore dan kita beri snack dengan menu khusus dari kami, disini untuk susu gula sarimi sengaja kita mengurangi, karena mempengaruhi perkembangan anak, dan lebih baik sih minum air putih.”katanya

“Santri disini datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri yaitu Irak dan Malaysia yang menginginkan untuk belajar kesini, namun untuk saat ini dari pengurus belum bisa memenuhi dan mengabulkan permintaan dari luar negeri, karena sebelum itu kita harus memersiapkan tenaga terapi yang berkompeten,”pungkasnya. (AJ)

Share This Post