Pondok Pesantren Benteng Ideologi Radikalisme

by

Kudus, isknews.com – Seminar Regional dengan tema “Peran Pesantren dalam menangkal Ideologi Radikal dan Terorisme di Nusantara” diselenggarakan oleh lembaga sosial masyarakat bekerja sama dengan dengan Dirjen POLPUM Kemendagri, bertempat di Ponpes Miftahul Ulum, Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo Kudus, Senin (27-02-2017).

Hadir sekaligus menjadi narasumber Moh. Khoirul Anwar dari Lembaga Elsa Semarang, Ken Setyawan dari Motivator / Mantan Gubernur NII (perekrut), Satbinmas dari Polres Kudus, M. Khafidz S.Ag, M.Pd.I perwakilan dari Kemenag Kudus, dan diikuti segenap 150 Santri putra & putri.

Djati Sholechah, Kepala kesbangpol Kudus dalam sambutan-nya mengatakan, “Peran serta kalangan pesantren hari ini sangat penting dalam menangkal Penyebaran Faham Radikalisme Islam dengan menggunakan berbagai sarana dan media untuk mencegah menyebarluas nya faham mereka, diantaranya melalui Pengkaderan pembinaan santri maupun sosialisasi kepada masyarakat luas.

Kedua, Mengambil alih kembali masjid-masjid yang kurang “diurus” oleh masyarakat sekitar sehingga berhasil “dikuasai” Kelompok Islam radikal. Dan yang terakhir melalui penerbitan majalah, buletin, dan booklet, termasuk internet untuk Memberikan penjelasan tentang Islam secara memadai.

Ada beberapa aspek ajaran Islam yang berpotensi menimbulkan faham radikalisme. Di antaranya adalah, Penjelasan tentang arti jihad, Ajaran nilai-nilai toleransi dalam islam ahlus sunnah wal jamaah dan Pengenalan tentang hubungan ajaran Islam dengan kearifan lokal.

Akhirnya, perlu disadari bahwa menanggulangi faham radikalisme agama yang sudahberada di depan mata adalah tugas mulia yang harus dilakukan secara bersama , diperlukan kerjasama yang erat antar berbagai elemen bangsa ; pemerintah, ulama , tokoh dan segenap masyarakat bangsa indonesia agar faham-faham radikalisme tidak tumbuh subur bumi indonesia , dan jika ditemukan di lingkungan masyarakat gejala terindikasi faham radikalisme yang nampak dari ciri-ciri fisik maupun jalan berpikirnya seharusnya mereka bukan dimusuhi atau dihindari tetapi perlu dirangkul dan daiajak untuk kembali ke jalan Islam yang penuh kedamaian dan kesejukan.

Sementara itu, M. Khafidz S.Ag, M.Pd.I perwakilan dari Kemenag Kudus, dalam sambutan nya mengatakan, Pesantren sudah lama dikenal sebagai institusi pendidikan keagamaan yang sangat unik dan indigenius, khas Indonesia yang telah berusia ratusan tahun dan masih eksis sampai hari ini, karakter otentik pesantren dari zaman awal berdirinya telah menampilkan wajahnya yang toleran dan damai, di setiap pelosok-pelosok pedesaan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, banyak ditemukan performance pesantren yang berhasil melakukan dialog dengan budaya masyarakat setempat.

Pesantren-pesantren yang ada di Jawa, terutama yang bermazhab Syafi’i dan memiliki hubungan dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU) menampilkan sikap akomodasi yang seimbang dengan budaya setempat. Sehingga pesantren mengalami pembauran dengan masyarakat secara baik.

Keberhasilan pesantren seperti ini kemudian menjadi model keberagamaan yang toleran di kalangan umat Islam pada umumnya. Tak heran, jika karakter Islam di Indonesia seringkali dipersepsikan sebagai muslim yang ramah dan damai.

Keramahan wajah pesantren dibentuk oleh karakter pesantren itu sendiri, yaitu Tawassuth yang berarti tidak memihak atau moderasi. Kedua Tawazun yang bermaksud menjaga keseimbangan dan harmoni. Ketiga, Tasammuh yang berarti toleransi. Keempat, Tasyawwur yang bermaksud musyawarah dan yang terakhir Adil, yaitu bersikap adil dalam beraksi ataupun bereaksi. (AJ/isknews.com)

KOMENTAR SEDULUR ISK :