Produk Tanaman Tahunan Perkebunan Rakyat Di Kudus, Kapuk Randu Masih Jadi Primadona

Produk Tanaman Tahunan Perkebunan Rakyat Di Kudus, Kapuk Randu Masih Jadi Primadona

Kudus, isknews.com – Tanaman Kapuk Randu, masih menjadi primadona tanaman tahunan perkebunan rakyat di Kabupaten Kudus, sehingga menjadi sumber penghasilan yang bisa diandalkan, bagi petani perseorangan, maupun petani komunal yang peroleh dana bantuan perbankan berupa Bantuan Modal Usaha (BMU), di bawah pembinaan Bank Unit Pemantauan.

Dengan jumlah produksi berupa serat bersih sebanyak 359,53 ton, atau rata-rata 280 kilogram per hektar, Kapok Randu menempati urutan pertama, di atas tanaman tahunan perkebunan rakyat lainnya, yakni Kelapa Dalam (kopra) dan Kopi Robusta.

Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan (Hut-Bun) Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Harnawa yang dihubungi isknews.com, di ruang kerjanya, Rabu (14/9), membenarkan hal itu. Menurut dia, Kapok Randu menjadi andalan penghasilan petani perkebunan rakyat, karena selain bisa ditanam di mana saja, yakni di dataran tinggi maupun di dataran rendah, juga penanaman dan pemeliharaannya cukup mudah. “Hasil tanaman Kapok Randu berupa serat bersih, pemasarannya, selain untuk kebutuhan dalam negeri, juga diekspor ke manca negara.”

Tanaman tahunan perkebunan rakyat di Kabupaten Kudus yang ditanam saat ini, ungkapnya lanjut, sebanyak 16 jenis, mulai dari karet, cengkeh, jambu mete dan lain sebagainya. Dari semua jenis tanaman itu, diukur dari hasil besarnya produksi, Kapuk Randu menempati urutan pertama.

Jumlah tanaman Kapuk randu, saat ini, baik yang ditanam di areal perkebunan maupun ditanam sebagai pohon penghijauan di seluruh Kabupaten Kudus, sebanyak 1.379.150 batang, terdiri Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 193.810 batang dan Tanaman Menghasilkan (TM) 1.117.890 batang dan Tanaman Tua/ Tanaman Rusak (TT/TR) 8.460 batang.

Jumlah produksi berupa serat bersih, mencapai 342,16 ton atau rata-rata 302 kilogram per hektare. Harga ditingkat petani sebesar Rp 21.000 per kilogram, sedangkan harga di tingkat pasar, Rp 25.000 per kilogram. Kepemilikan pohon kapok randu, petani 5.312 KK, petani BMU 3.974 KK.

Urutan kedua ditempati Kelapa Dalam (kopra), dengan jumlah pohon 932.390 batang, terdiri atas TBM 157.380 batang, TM 766.230 batang dan TR/TT 8.780 batang. Produksi berupa equivalen kopra, sebanyak 314,36 ton, atau rata-rata 410 kilogram per hektar. Untuk harga ditingkat petani Rp 26.000 per kilogram, harga di tingkat petani Rp 27.000 per kilogram.

Pemilik pohon Kelapa Dalam, petani 11.567 KK dan 1.847 KK petani BMU. Selanjutnya, di urutan ketiga, Kopi Robusta, jumlah pohon sebanyak 619.400 batang, terdiri dari, TBM 101.800 batang, TM 516 batang, TT/TR 750 batang. Produksi total mencapai 80,63 ton, atau rata-rata 156 kilogram per hektare, berupa Kopi Wose, harga jual di tingkat petani Rp 23.400 per kilogram dan harga di tingkat pasar Rp 24.000 per kilogram. Pemilik pohon Kopi Robusta, petani 2.035 KK dan 153 KK petani BMU.

Harnawa selanjutnya menerangkan, pada 2015 lalu, urutan pertama ditempati Kelapa Dalam dengan jumlah produksi sebanyak 719,82 ton, atau rata-rata 1.090 kilogram per hektare, hasil dari 660.350 TM, urutan kedua, Kopi Robusta dengan jumlah produksi sebanyak 344,46 ton, atau rata-rata 780 kilogram per hektare, hasil dari 441.610 TM “Sementara untuk Kapok Randu di urutan ketiga dengan jumlah produksi total 342,16 ton atau rata-rata 302 kilogram per hektar, dihasilkan dari 1.132.970 TM.” (DM)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post