Produksi Anjlok Harga Pamelo Melambung

oleh
Petani jeruk Pamelo di Desa Bageng Kecamatan Gembong Pati sedang memanen dan memilah Pamelo, beberapa waktu lalu. (ivan nugraha)

Pati,ISKNEWS.COM-Musim kemarau kali ini mulai mempengaruhi hasil produksi jeruk Pamelo di Desa Bageng, Kecamatan Gembong Pati. Jika pada saat cuaca normal, para petani jeruk khas Kabupaten Pati ini mampu menghasilkan tujuh kwintal sekali panen, namun karena kemarau hasil panen hanya mencapai dua kwintal.

Penurunan hasil panen tersebut diakui Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Gembong, Sutrisno. Ia menuturkan meski tanaman Pamelo tidak mengenal musim, namun jika cuaca panas atau kemarau sangat mempengaruhi hasil panen.

“Jeruk Pamelo kan panennya tidak mengenal musim, bias kapan saja panen. Tapi kalau kemarau datang kami kesulitan melakukan perawatan. Selain itu serangan lalat buah menjadi masalah tersendiri, karena lalat ini bias merusak Pamelo yang akan dipanen,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

TRENDING :  Tanpa Tebang Pilih Karaoke Ditertibkan

Ditambahkan, pada musim kemarau kali ini para petani Jeruk Pamelo di Desa Bageng . mulai mengalami penurunan produksi. Akibatnya stok jeruk Pamelo juga mengalami penurunan. Meski demikian, kualitas buah yang dipanen masih tetap terjaga. Selain itu harga jual ditingkat petani pun mulai merangkak naik.

“Tapi kami masih bisa ambil keuntungan dari kondisi seperti ini. Alasannya, dengan menurunnya jumlah produksi malah mendongkrak harga jual di pasaran. Setidaknya usaha keras perawatan selama ini terbayarkan lah,” ujarnya sambil tersenyum.

TRENDING :  Minim Pembeli, Pedagang Relokasi Berharap Revitalisasi Pasar Segera Rampung

Biasanya harga jeruk Pamelo dari petani dipatok harga Rp.15 ribu perkilonya, namun dengan alasan menurunnya hasil produksi dan permintaan yang terus meningkat, kini harganya bisa mencapai Rp. 19 ribu perkilo. Padahal satu buah Pamelo bisa mencapai berat lima kilogram.

“Logikanya, kalau ditingkat petani saja harganya naik, tentu di pasaran ikut naik. Saat ini harga di pasaran mencapai Rp. 23 ribu hingga Rp. 27 ribu perkilo. Dan ini permintaan terus meningkat,” imbuh Sutrisno,

TRENDING :  Peringati HKN, Dinkes Fokus Cegah Stunting dan Kematian Ibu Hamil

Meski demikian, Sutrisno dan para petani Jeruk Pamelo berharap agar Pemkab Pati memberikan perhatian yang lebih serius. Mengingat jeruk Pamelo ini memiliki potensi besar merebut pasar jeruk nasional.

“Sudah seharusnya Pemkab lebih serius terhadap komoditas ini. Inikan komoditas unggulan. Kalau tidak ada penanganan serius dan dicarikan solusinya, jika kemarau seperti ini produksinya akan terus anjlok,” pungkasnya. (IN)

KOMENTAR SEDULUR ISK :