Produksi Padi dan Harga Gabah Turun

oleh
Produksi Padi
Foto: Petani memanen padi di sawah Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo. (Darmanto Nugroho/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Produksi padi Musim Tanam (MT) pertama di Kabupaten Kudus pada awal Februari 2018 ini, mengalami penurunan dibandingkan panen pada satu bulan lalu, tepatnya awal Januari 2018. Berkurangnya produksi padi itu, membawa dampak turunnya harga jual gabah, sehingga petani pun merugi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto melalui Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Perkebunan, Arin Nikmah yang dihubungi isknews.com, Rabu (14-02-2018) membenarkan hal itu.

Menurut dia, hasil produksi padi MT 1 pada awal Januari 2018 lalu, mencapai rata-rata 7 – 8 ton per hektare. Sedangkan pada Februari ini, mengalami penurunan menjadi 6 – 6,5 ton per hektare. “Kalau dihitung rata-rata per hektare, sekitar 6,83 ton.”

TRENDING :  Harga Gabah Anjlok, Petani Cepu Tercekik

Penyebab turunnya produki padi itu, lanjutnya, adalah faktor cuaca yakni curah hujan yang cukup tinggi. Bukan hanya produksi padi yang mengalami penurunan, harga gabah pun mengalami nasib yang sama, dibandingkan panen sebelumnya. Yakni dari Rp 5.300 – 5.500 per kilogram Gabah Kering Giling (GKG) pada awal Januari 2018 lalu, menjadi Rp 4.300 – 4.800 per kilogram GKG.

TRENDING :  Distanpangan Kudus Siapkan Lahan 20 Hektare Untuk Bawang Merah

“Harga gabah Rp 4.800 per kilogram panennya menggunakan alat mesin, sedangkan untuk yang harganya Rp 4.300 per kilogram panen manual,” jelasnya.

Mengenai jumlah luas lahan sawah yang sudah panen di Kabupaten Kudus pada Februari 2018 ini total seluas 4.850 hektare, tersebar di tujuh kecamatan. Rinciannya, terbanyak di Kecamatan Undaan, seluas 4.021 hektare, diurutan kedua dan ketiga, Kecamatan Kaliwungu dan Jakulo maising-masing 571 dan 123 hektare.

TRENDING :  UNBK Mandiri, SMP 4 Kudus Butuh 100 Unit Komputer

“Untuk empat kecamatan lainnya yang juga sudah panen, yakni Kecamatan Mejobo 69 hektare, Gebog 57 hektare, Dawe dan Kecamatan Jati, masing-masing 7 dan 2 hektare,” paparnya.

Arin menegaskan, yang perlu dilakukan oleh petani, khususnya bagi yang belum panen adalah pengendalian hama pengganggu tanaman. “Tindakan itu harus dikendalikan secara dini, terutama pada lahan sawah yang potesial terserang hama, baik wereng atau pun tikus.” (DM/AM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :