Produksi Meningkat, Kopi Muria Incar Pangsa Pasar Global

by

Kudus, isknews.com – Seiring dengan meningkatnya permintaan kopi muria yang sudah memiliki pangsa pasar tersendiri. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus terus mendorong upaya pengembangan budi daya kopi wilayah lereng Muria. Dari data yang dihimpun, luas lahan kopi yang di lereng Muria mencapai 621 hektare, meliputi wilayah Colo, Japan, Ternadi, Kajar, Rahtawu, dan Menawan.

“Saat ini jenis kopi yang banyak dibudidayakan yang jenis robusta. Sementara komoditas kopi arabika ada di wilayah Rahtawu, tepatnya di Dukuh Semliro, tapi jumlahnya belum signifikan. Di sana ada sekitar 11 hektare tanaman kopi arabika,” ungkap Catur Sulistiyanto S.Sos, MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus.

Catur menyebutkan, setiap 1 hektare lahan kopi dapat menghasilkan sekitar 700-800 kilogram untuk jenis robusta. Sementara untuk jenis arabika, lebih sedikit hasil panennya yaitu 600-700 kilogram per hektarenya.

“ Produksi kopi muria setiap tahunnya terus meningkat. Pada 2016 produksi kopi muria mencapai 350 ton. Dengan harga jual kisaran Rp 25.000-35.000 per kilonya,” ungkap Catur. Dia menjelaskan, selama ini petani kopi menjual hasil panennya langsung ke tengkulak yang ada di Gembong.

Namun, ada sebagian yang diolah menjadi kopi bubuk. “Kabarnya kopi muria memiliki cita rasa yang unik sehingga banyak orang dari luar kota yang mengambil kopi Kudus dan sebagian beredar di Kudus sendiri. Termasuk kedai-kedai kopi muria sudah banyak bermunculan. Kalau soal pengembangan produk, nanti dari Dinas Perdagangan yang lebih mengerti strateginya,” terangnya.

Perkebunan kopi dikelola oleh sekitar 150 petani yang sebagian besar berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe. Sejauh ini, dia menilai potensi kopi Muria cukup baik. Empat varietas yang ditawarkan yakni Damarwulan, Tempur, Kunir dan Watu Aji. (AJ/ Sumber : distanpangankudus.com)

KOMENTAR SEDULUR ISK :