PT Nojorono Tobacco International Selenggarakan Program Semarak Djiwa Tangguh

oleh
istimewa

Jakarta, ISKNEWS.COM –  Abit Kain menjadi salah satu pemenang di program Semarak Djiwa Tangguh, yang diselenggarakan oleh Minak Djinggo, dari PT Nojorono Tobacco International, Senin ( 27/05/2019 ).

Tenun Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu produk kain tenun khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak di Sumatera utara. Mulanya ulos hanya berbentuk selendang atau sarung saja, dominan berwarna merah, hitam, dan putih,dan hanya digunakan saat perhelatan resmi atau upacara adat Batak saja. Kemudian di dalam perkembangannya ulos banyak dijumpai di dalam bentuk produk suvenir, seperti sarung bantal, ikat pinggang, tas,ragam busana pakaian, dsb.

“ Yang menarik dari usaha yang saya jalani ini adalah, saya seperti membuka kembali sebuah tabir sejarah dan fakta. Yaitu mengembalikan fungsi tenun Ulos sebagai produk sandang, sebagaimana nenek moyang orang batak dahulu gunakan. Banyak orang Batak sendiri menggangap Ulos sebagai sebuah benda keramat, “dihormati” dan terkesan berhala, padahal dari dokumen sejarah bisa kita temukan foto-foto nenek moyang orang batak mengenakan ulos sebagai pakaian keseharian ” , ungkap Erfan Siboro, 34 tahun, yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan di salah satu bank BUMN di Jakarta menceritakan impiannya melalui karya desain fashion,

TRENDING :  Kejuaraan Bola Voli Kapolres Kudus Cup 2017

Erfan memadukan desain busananya dengan aksesoris dan nuansa etnik dari tenun ulos dengan modern pada setiap produk Abit Kain. Usaha fashion tenun Ulos, Abit Kain, yakni produk yang dibuat berdasarkan pesanan, dan Abit Catalogue, koleksi fashion siap pakai yang diproduksi dalam jumlah tertentu, yang ia rintis sejak 2015.

TRENDING :  Pelaku UMKM di Kebumen Antusias Sambut Hadirnya KUP

Tenun ulos bisa dikenal dan digunakan terus hingga seluruh dunia, sehingga menghidupkan kembali penenun ulos untuk melahirkan generasi baru penenun ulos. Hal ini berkat kerja kerasnya, disiplin, ulet, dan terus berinovasi.

Ulos pada umumnya berukuran kecil, jadi ketika diaplikasikan menjadi baju butuh perhitungan yang ekstradalam perhitungan untuk membuat desain dan potongan. Terutama kita harus mengkombinasi dengan kain lain. Dari segi produksi memang sedikit challenging ya, karena ulos sendiri ukurannya tidak seperti batik dan tenun timur lainnya yang berukuran besar. Dan saya sendiri tidak punya latar belakang desain maupun menjahit, semuanya secara ototidak,” tambahnya.

Untuk pemasaran produk Abit Kain dan Abit Catalogue, Erfan mengandalkan sepenuhnya melalui akun sosial media dan juga marketplace sampai saat ini.

TRENDING :  Semarak Songsong Hari Baru, Alun Alun Pati Bak Lautan Manusia

“Dari awal memang saya berusaha mengikuti tren bisnis, jadi dari lahirnya hingga saat ini kami konsisten jualan di online. Jadi kita tidak punya outlet atau toko. Saat ini kami hanya ada galeri di Depok yang dibuka sejak akhir 2018 lalu, sebagai tempat menata koleksi dan kain antik, serta tempat menjamu tamu kalau ada yang datang saja. Bisnis sekarang mudah sih, marketplace ada banyak, semua bisa dikendalikan dari ponsel pintar,” ujar pria yang memiliki

impian travelling keliling dunia sebelum tutup usia ini.

 “Saya merasa senang dan bangga. Padahal untuk kompetisi ini yang menarik adalah segmentasi produknya adalah untuk pria. Dari sisi produk hanya 30% koleksi pria, dari sisi profil pembeli produk- produk saya juga hanya 20% pria. Karena memang saya sendiri agak sedikit tertantang membuat baju pria, sih. Jadi ketika berada dalam program ini saya serasa ditantang untuk melahirkan koleksi baju pria yang manly look dengan tenun ulos,” ujarnya. ( YM )

KOMENTAR SEDULUR ISK :